Sudahlah, Jangan Terlalu Berharap pada Media

9 , , Permalink 0
Di antara sekian isu yang menarik pada Focus Group Discussion (FGD) pagi ini adalah diskusi soal media. FGD untuk mencari Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) itu diadakan Bappenas, UNDP, dan JPPR. Tujuannya kurang lebih untuk mencari tahu seberapa demokratiskah Bali dibanding provinsi lain. Aku membantu jadi moderator. Eh, bukan membantu ding. Dibayar. πŸ˜€

Ada tiga aspek untuk mengukur IDI ini. 1) Kebebasan Sipil, 2) Political Right, dan 3) Democratic Institution. Tiap aspek punya beberapa variabel dan tiap variabel pun punya indikator. Pada aspek Democratic Institution misalnya ada variabel independensi media terhadap pemerintah daerah.

Variabel ini melengkapi lima variabel lain seperti peran DPRD, Pemilu yang Bebas dan Adil, Peradilan yang Independen, Peran Partai Politik, dan Peran Birokrasi.

Dimasukkan independensi media, bisa jadi karena bagaimana pun, media massa adalah salah satu alat kontrol kekuasaan. But, sayangnya, kontrol itu makin hilang R-nya. πŸ˜€ Maka, tidak usah terlalu berharap pada media sebagai alat kontrol terhadap kekuasaan itu.

Dua peserta dari wartawan, ditambah satu mantan wartawan yang hadir mewakili aktivis anti korupsi menguatkan pesan itu. Begitu pula peserta dari Pemkot, PGRI, anggota KPI, aktivis perempuan, pengurus Parpol, dan seterusnya.

Makin lemahnya kontrol media terhadap kekuasaan pemerintah itu karena media sekarang bisa dibayar untuk memberitakan sesuatu. Apalagi menjelang Pilgub seperti saat ini. Waah, hampir semua media di Bali hanya sibuk mencari iklan bukan cari berita. Iklan sih tidak dilarang. Masalahnya justru karena iklan itu tidak disebut sebagai iklan tapi dicampur aduk dengan berita.

Praktik ini ya melanggar etika. Begitu kata salah satu wartawan senior yang datang. Tapi ya kemudian tahu sama tahu. Sama-sama enak. Media dapat duit. Narasumber tidak takut dikritik. Tidak enaknya ya di pembaca. Mereka tertipu tanpa mereka tahu.

β€œAku malah baru tahu kalau berita bertanda bintang itu iklan,” kata salah satu peserta dari kalangan LSM.

Aku hanya bilang, “Ah, kasihan deh, Lu!”

9 Comments
  • devari Post
    June 13, 2008

    mas..mas… hati kalo bicara nanti saya bredel rumahtulisan.com ini.

    devari post ini koran besar, banyak kenal pejabat jadi nanti sampeyan bisa saya embat

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ratna
    June 14, 2008

    ngeblog aja hahaha

    ReplyReply

    [Reply]

  • uyax
    June 14, 2008

    Yups… Back to Blog aja biar tambah rame pisan..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 15, 2008

    @ devari: silakan bredel. nanti saya demo sama gendo, ancak, dan bani. ada jg yg kirim santet nanti. πŸ˜€

    @ ratna: ayooo..

    @ uyax: yap. mai ngeblog paang sing belog. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    June 15, 2008

    emang ada berita pake tanda bintang yah? wah kok gak pernah liat yah? atau gak pernah baca koran πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    June 16, 2008

    berita tanda bintang itu banyak menipu dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat.. di lingkungan rumah saya 99% orang tidak tahu bahwa itu sebenarnya iklan..

    dan ada yang lebih parah lagi yaitu berita di salah satu televisi lokal yang seharusnya menjadi kebanggaan kita tapi malah kayak gitu..

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    June 19, 2008

    saia aja baru tau πŸ˜‰

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 30, 2008

    @ ghozan: syukurlah kalo ga baca koran, apalagi smp langganan. soale isinya cuma iklan. πŸ™‚

    @ wira: yoih. begitulah, pak dosen..

    @ erick: saia sudah tau dari dulu. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • rusakparah
    November 26, 2008

    bisa dijelaskan gak bagaimana mengetahui berita bertanda bintang??? maksudnya penulisnya anonim gtu?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *