Suara Sumbang pun Harus Diberi Ruang

4 , Permalink 0

Sambil lesehan usai pelatihan, kami mengevaluasi perjalanan Bale Bengong.

Seingetku ini pertama kalinya kami mengevaluasi Bale Bengong sebagai blog jurnalisme warga. Setahun lalu sih pernah tapi waktu itu lebih pada keterlibatan teman-teman alumni Kelas Menulis Jurnalisme Warga dan kontributor.

Evaluasi kali ini berbeda. Fokus kami hanya bagaimana sih kontributor menilai Bale Bengong. Diskusi ini sekalian untuk bahan kajian Nenden Novianti, teman yang sedang bikin penelitian tentang Bale Bengong untuk masternya.

Selain peserta Kelas Menulis, beberapa kontributor juga hadir pada obrolan santai di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu Serangan Minggu sore lalu ini. Misalnya, Eka Juni Artawan, Astarini Ditha, Dewi Mahayanthi, Agung Wardana, Agus Sumberdana, dan lainnya.

Ada dua pertanyaan mendasar yang ingin kami cari: (1) bagaimana peran Bale Bengong di antara media arus utama di Bali dan (2) sudahkah Bale Bengong mewakili mereka yang tak bersuara di media arus utama?

Tak aku sangka, jawabannya ternyata menyenangkan juga.

Provokasi
Soal posisi Bale Bengong, menurut Agung Wardana alias Ancak, blog jurnalisme warga ini ternyata bisa jadi salah satu media yang mengakomodir suara gerakan sosial di Bali. “Karena suara kami jarang diakomodir media mainstream,” kata Ancak yang baru menyelesaikan S2 di Universitas Nottingham, Inggris ini.

Ancak termasuk kontributor yang rajin nulis di Bale Bengong. Mantan Direktur Walhi yang kini masih aktivis di gerakan tersebut biasanya menulis terutama tentang isu-isu lingkungan di Bali.

Salah satu tulisannya yang masih jadi bahan diskusi adalah tentang penolakannya terhadap rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga geothermal di Bedugul. Tulisannya yang diterbitkan pada Oktober tahun lalu itu ternyata malah jadi bahan diskusi menarik antara dia dengan orang yang mendukung geothermal.

Tulisan Ancak tersebut, menurutku, memang hanya salah satu dari tulisan di Bale Bengong yang kritis dari kalangan aktivis Bali. Ada tulisan-tulisan lain dan senada. Misalnya, dari Nyoman Winata, Wayan Gendo Suardana, Agus Sumberdana, Dayu Gayatri, dan lain-lain yang dengan daya kritisnya memberi perspektif kritis pada isu-isu aktual di Bali.

Orang-orang kritis itu, sadar atau tidak, terus memberikan agitasi dan provokasi lewat tulisan mereka di Bale Bengong. Itu yang kemudian juga disampaikan Ancak.

“Bale Bengong menjadi ruang bagi aktivis untuk bersuara dan membangun dinamika yang tak bisa ditemukan di media arus utama,” katanya.

Tak Bersuara
Pertanyaan lain dari Nenden adalah apakah Bale Bengong sudah memberikan tempat untuk mereka yang tak bersuara atau voice of voiceless? Aku sendiri ragu kalau kami sudah melakukan itu. Sebab, sebagian besar kontributor Bale Bengong adalah kelas menengah perkotaan. Mereka ini kelompok yang sudah terdidik dengan asupan informasi dan teknologi yang cukup.

Jadi, jelas mereka tidaklah masuk kategori voiceless yang dimaksud Nenden. Mereka yang voiceless ini biasanya terpinggirkan dan tak punya cukup peluang untuk bersuara di media massa.

Namun, setelah aku cari-cari lagi, ternyata sebagian kontributor malah sudah mewakili para pihak yang tak bersuara ini. Tiga di antaranya adalah Dewi Mahayanthi, Eka Juni Artawan, dan Agus Widiantara. Ketiganya rajin menulis profil atau isu tentang orang-orang “kecil”.

Tulisan Eka, staf di salah satu hotel bintang lima di Kuta, misalnya adalah tentang ibu tua sebatang kara di tepi jalan antara Denpasar – Gilimanuk. Eka selalu melihatnya setiap kali pulang kampung ke Negara, Jembrana.

Setelah aku cek dan cek lagi, ternyata Eka yang juga alumni Kelas Menulis ini memang rajin menulis tentang profil-profil “sederhana” di sekitar kita. Misalnya, guru yang rajin menulis buku, penunggu tempat pemandian, pemandu wisata, dan lain-lain.

Maha, panggilan akrab Dewi Mahayanthi, pun senada dengan Eka. Setelah aku baca-baca lagi, ternyata mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini rajin menulis isu-isu tentang orang-orang terpinggirkan tersebut. Misalnya tentang pencuci di selokan atau ibu-ibu pengangkut pasir.

Menurutku sih kontributor seperti Eka dan Maha sudah berusaha mewakili mereka yang tak bisa bersuara selama ini.

Katalis
Lalu, cukupkah hanya selesai dengan memberi tempat untuk yang tak bersuara ini? Ternyata tidak juga. Tanpa sadar, ternyata kami juga mengajak pembaca atau konsumen informasi di Bale Bengong untuk melakukan sesuatu. Ini juga hal yang baru aku sadari.

Salah satu contoh adalah ketika Astarini Ditha dan Luh De Suriyani menulis bersama-sama tentang Ketut Salun yang bunuh diri gara-gara tak kuat membiayai sekolah anaknya. Tak hanya menuliskan lewat Bale Bengong, mereka juga mengajak pembaca untuk menyumbang pada anak almarhum.

Ajakan itu tak hanya lewat blog tapi juga lewat Twitter Bale Bengong. Hasilnya memang tak banyak. Namun, kepedulian toh tak bisa dinilai dari besarnya nilai rupiah semata toh.

Melalui Twitter, kami juga mengajak pembaca untuk terlibat dalam gerakan-gerakan kecil di Bali. Salah satunya mendukung Kelas Beranda, kelas untuk anak-anak pedagang buah di kawasan kumuh dan miskin di Badung. Hasilnya ya ada saja yang mau terlibat meski tak terlalu banyak. Setidaknya sudah ada ajakan dan ada pula yang meresponnya.

Karena itulah, menurutku sendiri, kami sudah mencoba agar tak menjadikan media hanya semata media. Dia juga bisa jadi alat untuk mengajak orang atau malah syukur-syukur bisa mendorong perubahan. Kami mencoba menjadikan media sebagai katalis.

Yah. Begitulah kurang lebih hasil evaluasi kami Minggu, 11 Desember lalu. Dari tiga hal itu, menurutku, Bale Bengong ternyata bisa menjadi tempat untuk suara-suara alternatif atau bahkan sumbang meski suara kami hanya samar-samar. Bale Bengong sudah berusaha jadi ruang untuk suara-suara sumbang tersebut dan menjadikannya sebagai alat memengaruhi orang menuju perubahan. Tsah!! 😀

Tentu saja ini hasil versi kami yang selama ini menginisiasi dan mengelola Bale Bengong. Pasti amat subjektif dan tak berimbang. Biarin saja. Toh, snobbish, seperti juga narsis, memang tak dilarang. Piss!

4 Comments
  • honeylizious
    December 21, 2011

    🙂 suara sumbang ya?

    semangat! yang penting menulis terus 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    December 22, 2011

    Sudah lama gag nulis di Bale Bengong… Dan sudah lupa nafas jurnalisme warga… Semoga tahun depan bisa ikutan berpartisipasi…

    ReplyReply

    [Reply]

  • kadek doi
    January 6, 2012

    ayoo semangat terus bale bengong
    kegiatannya keren-keren, infonya juga oke-oke 🙂
    semakin lekat jadi sahabat, semakin mantap dan juga hebat
    salam ^^b

    ReplyReply

    [Reply]

  • I Made Sugi Ardana
    January 9, 2012

    Koq ga ada hubungan antara Judul dengan Isi ya? Yang mana yang disebut dengan ‘suara sumbang’ nih?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *