Soal Hal Sensitif -Kasta- di Bali

3 No tags Permalink 0
Siang tadi ikut diskusi di Uluangkep, lembaga penguatan desa adat di Bali. Sebenarnya aku datang karena gak enak aja Lode, cewekku, datang sendiri. Jadi ya ga papa nemenin. Toh yang ngadain juga teman-teman sendiri.

Diskusinya seputar kasta di Bali. Ide ini datang dari Made Kembar Karepun, salah satu tokoh tua di Bali. Made pernah jadi bupati Gianyar. Saat ini juga masih aktif di Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Selain itu juga aktif bicara di forum tentang desa adat dan semacamnya.

Dalam usia senja, perkiraanku sekitar 70 tahun, Pak Made sedang membuat buku tentang kasta di Bali. Untuk mendapat masukan dari masyarakat, dia mengundang anak-anak muda membahas draft buku itu. Nah, diskusi tadi siang itu ya seputar itu. Dan, bagiku, diskusi itu sangat menarik. Jarang-jarang aku bisa diskusi dengan tokoh tua di Bali yang pikirannya masih begitu kritis. Dulu ada Prof Ngurah Bagus, yang kadang-kadang masih bersedia diajak diskusi. Tapi beliau sudah wafat beberapa bulan lalu.

Di diskusi itu aku malah baru tahu bahwa kata “KASTA” ternyata berasal dari bahasa Portugis. Sedangkan “ADAT” dari bahasa Arab. Padahal dua kata ini sudah jadi bahasa yang begitu identik dengan Bali dan seolah-olah bahasa Bali asli. Ternyata…

Itu hanya hal yang mungkin sepele. Ada soal yang lebih menarik lagi bagiku yaitu soal konflik, Made Kembar Karepun lebih menyukai kata polemik, antara orang berkasta dengan yang tidak berkasta, ada juga yang menyebutnya jaba. Mereka yang berkasta ini misalnya yang nama depannya Ida Bagus, Cokorda, Anak Agung, dan semacamnya. Sedangkan yang tak berkasta ini ya yang bernama Bali pada umumnya seperti Wayan, Made, Komang, dan Ketut.

Konflik antara orang berkasta dengan jaba ini ternyata terus menerus terjadi, secara diam-diam maupun terbuka. Salah satu contoh terjadi pada 1920an. Saat itu kelompok berkasta membuat majalah Bali Adnyana sedangkan jaba membuat Surya Kanta. Made ngasi contoh-contoh kutipan isi dua terbitan itu. Melalui media massa, dua kelompok ini saling menyerang misalnya pandangan soal pendidikan dan bahasa.

Kelompok berkasta, pada saat itu tidak peduli dengan pendidikan karena mereka otomatis jadi pejabat. Adapun kelompok jaba getol belajar agar sepadan dengan yang berkasta. Soal bahasa, bagi yang berkasta bahasa harus disesuaikan dengan tingkat kasta. Yang berkasta boleh berkata kasar pada orang jaba. Sedangkan jaba harus berbahasa halus pada yang berkasta. Bagi jaba, bahasa haruslah egaliter, tak ada yang lebih rendah ataupun lebih tinggi.

Sayangnya Pak Made terlalu hitam putih melihat polemik antara dua kelompok ini. Seolah-olah kalau yang berkasta sudah pasti hitam, sedangkan jaba pasti putih. Padahal aku yakin tidak begitu sepenuhnya.
Polemik ini, kata beliau, masih ada hingga saat ini. Meski generasi muda sudah banyak yang tak peduli soal ini toh orang-orang tua masih saja meliaht ini sebagai masalah. Aku jadi inget soal pemilihan kepala daerah (Pilkada) di enam kabupaten/kota di Bali 24 Juni nanti. Jangan-jangan Pilkada itu juga bagian dari rebutan antara yang berkasta dengan jaba ini. Buktinya, simbol-simbol puri itu begitu vulgar terlibat dalam pilkada.

3 Comments
  • andi
    June 9, 2005

    namanya juga orang indonesia : suka mengelompokkan dan membeda-bedakan hal-hal yang sepele.

    ReplyReply

    [Reply]

  • lantip
    June 11, 2005

    hmm.. sangat susah memang. temen-temenku, dulu, yang aktif di wilayah gender di bali, juga mengalami kesulitan waktu sosialisasi, karena terbentur adat. lha tapi, apakah adat itu harus ilang? soalnya itu satu-satunya alat untuk menahan laju kapitalisme lho.. tapi ya.. mungkin suatu saat ketemu formula yang tepat.. jangan patah semangat aja deh.. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • jhoni
    July 29, 2009

    Kita lestarikan budaya yang sudah ada. karena itulah Bali

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *