Setengah Mati Mendorong Keterlibatan Warga

Minggu ini hari terakhir kelas menulis jurnalisme warga oleh Sloka Institute. Maka, berakhir pula kegiatan dua bulanan kami sepanjang tahun 2010 ini.

Kelas Menulis Jurnalisme Warga, kami biasa menyingkatnya Kamis, merupakan upaya kami untuk terus mengampanyekan jurnalisme warga di Bali. Kami berharap melalui kelas ini, warga akan tahu tentang jurnalisme warga. Setelah tahu, kami berharap mereka akan bersedia dan bisa menuliskan ceritanya ke balebengong.

Karena itu, tak hanya belajar teori, dalam pelatihan dua hari ini kami juga memberikan kesempatan pada peserta untuk mempraktikkan teorinya itu. Kami mengajak peserta belajar melakukan reportase, menuliskannya, lalu mendiskusikan tulisan-tulisan tersebut bersama.

Ada sejumlah hasil menggembirakan. Kalau hitung-hitungan, tiap kali kelas ada setidaknya 10 peserta. Berarti ada sekitar 50 orang yang sudah belajar atau tahu tentang jurnalisme warga.

Latar belakang mereka beragam. Ibu rumah tangga, mahasiswa, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), pelajar, dan lain-lain. Artinya, jurnalisme warga, seperti tujuannya sejak awal, bukan hanya milik para jurnalis atau kelompok menengah ke atas tapi juga dimiliki para warga yang tiap hari jadi bahan berita atau cuma konsumen media.

Beberapa peserta bisa menulis dengan menarik tentang tema-tema tak biasa. Salah satu yang saya ingat adalah tulisan Juliawati, alumni Kamis angkatan I, tentang perjalananya bersama I’m an Angel ke desa-desa miskin di Karangasem.

Tapi, masih banyak harapan kami yang belum terjadi. Salah satunya keterlibatan warga dalam balebengong.net. Sejak awal, kami berharap para alumni Kamis bisa menulis di media jurnalisme warga ini. Tapi, itu tak sepenuhnya terjadi. Dari sekitar 50 alumni yang pernah, apalagi rajin, menulis untuk balebengong cuma bisa dihitung dengan jari.

Ada satu dua peserta yang masih rajin menulis. Misalnya, Putu Adi Susanta dan Eka Juni Artawan. Dua alumni kelas menulis ini yang masih jadi pelipur lara karena minimnya partisipasi alumni kelas menulis.

Mengajak peserta menulis itu beberapa kali kami lakukan. Tapi, tak banyak hasil. Tak banyak yang merespon dengan mengirimkan tulisan.

Mau apa lagi. Ajakan memang hanya imbauan. Tugas kami hanya mengajak dan menggugah kepedulian. Kalau tak banyak respon, itu pekerjaan rumah yang masih harus kami selesaikan.

4 Comments
  • Sugeng
    October 3, 2010

    Semangat Ndan, memang mengugah masyarakat untuk berpartisipasi dalam tulisan balebengong memang sangat susah. karena mereka orang2 yang idialis, ini yang sangat susah ditemukan di orang kebanyakan 😆 . Aku sendiri juga gak bisa karena masih jauh pangang dari api.

    ReplyReply

    [Reply]

  • panDe Baik
    October 3, 2010

    Maaf Ndan, aku bingung mau mengirimkan tulisan apa di BB.net… update terus siy, tapi ya gitu deh, gag ada yang pas buat di jurnalisme warga. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tamba Budiarsana
    October 4, 2010

    Sayang sekali masih minimnya kepedulian warga untuk hal-hal seperti ini, tapi bukan berarti kita berhenti untuk mengajak.
    🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Adi Susanta
    October 11, 2010

    waks..ada nama saya *malu*
    menulis (bagus) masih menjadi barang mahal bagi saya, baik kemampuan dan waktu..hiks

    semangat pingin terus menulis masih tetap ada walau naik turun seperti harga kebutuhan pokok di republik ini.. #ngelantur

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *