Setelah Benih Kami Semai

2 , , , , Permalink 0

Kelas Jurnalisme Warga Sloka Institute Bali

Sabtu ini hari terakhir Kelas Jurnalisme Warga di Sloka Institute. Pelatihan ini kami adakan selama empat hari tiap Jumat dan Sabtu. Hari pertama pada Jumat, 22 Januari kemudian disambung pada 23, 29 dan 30 Januari 2010. Pelatihan jurnalistik bukan hal baru bagi kami di Sloka. Tapi pelatihan dalam bentuk kelas dan agak intensif, inilah yang pertama kali. Ada beberapa hal yang membuatnya berbeda dari pelatihan-pelatihan yang pernah kami adakan sebelumnya.

Pertama, peserta. Kalau dalam pelatihan sebelumnya jumlah peserta sekitar 20 atau bahkan lebih, maka kali ini hanya separuhnya, 10 orang. Dengan peserta yang sedikit, kami merasa bisa lebih intensif. Tiap tulisan yang dibuat peserta bisa kami diskusikan di kelas, meski agak buru-buru karena waktu yang hanya sekitar 30 menit. Tapi aku sendiri, sebagai fasilitator, bisa membahasnya kemudian dengan lebih panjang seusai pelatihan.

Sepuluh peserta Kelas Menulis datang dari latar belakang beragam. Ada aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), ibu rumah tangga, juga mahasiswa. Inilah mereka. Maryo Kempez aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali; Andi Indiarto alumni Universitas Udayana, Angga Prayoga, Indra Darmawan, Happy Ary, dan Fransisca Natalia mahasiswa Unud; Ivy Sudjana ibu rumah tangga dan mantan guru, Juliawati pengurus kelompok perempuan peduli HIV dan AIDS, Made Nurbawa Direktur Lembaga Informasi dan Advokasi Masyarakat (Limas), Dwitra J Ariana mahasiswa dan desainer freelance, serta Gayatri Mantra pekerja sosial.

Kedua, metode. Kalau biasanya hanya pelatihan dan selesai, kali ini kami membuatnya lebih intensif. Setelah belajar teori sekitar satu jam, peserta langsung praktik menulis lalu dinilai oleh pemateri atau fasilitator. Karena itulah waktu pelaksanaan kali ini dibuat lebih lama dari biasanya. Kali ini sampai empat hari dengan rata-rata 3,5 jam. Jadi total ada 14 jam.

Selain itu kami juga berusaha menjaga hasil pelatihan ini dengan komitmen untuk menulis di Bale Bengong. Salah satu tujuan pelatihan ini memang agar makin banyak kontributor untuk blog jurnalisme warga di Bali ini. Sebab, aku sendiri makin jarang menulis di Bale Bengong. 🙂

Ini sekadar review bagaimana pelatihan berjalan.

Pada hari pertama, kami belajar Dasar-dasar Jurnalistik. Poin penting pada sesi ini adalah agar para peserta tahu prinsip dasar jurnalistik. Hari Puspita, alias Pipit, Redaktur Kota Radar Bali yang diminta jadi pemateri sempat tarik ulur sebelum akhirnya benar-benar membatalkan diri untuk hadir. Terpaksa aku yang ngisi sesi ini.

Sesi ini adalah tentang pengertian dasar dulu. Misalnya pengertian, struktur, dan teknik membuat berita langsung. Setelah itu, masing-masing peserta membuat berita langsung. Hasil karya mereka kemudian didiskusikan sebentar sehingga peserta bisa tahu di mana saja bagian yang bisa diperbaiki, jika memang harus diperbaiki.

Pada hari kedua, materinya tentang menulis berita kisah. Rofiqi Hasan, wartawan TEMPO di Bali yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, memberikan materi ini untuk kemudian dilanjut praktik menulis. Aku sendiri tidak bisa ikut banyak pada sesi ini karena harus selesaiin kerjaan yang lain. Tapi ya prosesnya tidak jauh berbeda. Materi, praktik, lalu evaluasi.

Pada hari ketiga, kami melakukan reportase lapangan. Sepuluh peserta dibagi ke dua lokasi yaitu Pasar Badung dan Lapangan Puputan Badung. Lokasi ini kami pilih karena berkaitan dengan banyak orang. Pasar, tentu saja, tempat di mana banyak terjadi hubungan antar-warga bukan hanya untuk melakukan transaksi ekonomi tapi juga membangun relasi sosial. Begitu pula dengan Lapangan Puputan Badung, di pusat nol kilometer Denpasar.

Bagian ini paling asik menurutku. Peserta bisa langsung praktik reportase dan wawancara. Temanya lebih banyak isu sosial. Misalnya, perseteruan antara pedagang acung dan Tramtib. Lucu juga, sih. Ada cerita tentang bagaimana pedagang balon sampai ngempesin ban mobil Satpol PP alias Tramtib. Masih banyak cerita lain tentang tema-tema yang selama ini tidak banyak ditemukan di media umum.

Setelah masing-masing orang mendapatkan cerita, kami mendiskusikannya sambil lesehan di Lapangan Puputan. Satu sama lain bercerita dan memberikan komentar ataupun tambahan dari peserta lain. Hasil ngobrol ini kemudian dipakai sebagai bahan tulisan yang dikerjakan di rumah.

Pada hari terakhir, giliran kami belajar tentang blog. Ini memang salah satu materi dalam jurnalisme warga. Sebab, kalau punya blog maka si penulis bisa dengan mudah menyebarkan tulisan itu pada orang lain. Seperti biasa, kalau sudah urusan blog, maka teman-teman Bali Blogger Community (BBC) turun gunung. Kali ini dengan Pak De Yanuar yang berbagi waktu dan peran dengan Tulank.

Materinya ya dasar-dasar saja. Bagaimana membuat, mendesain, lalu mengelola blog. Karena sebagian sudah punya ngeblog, materinya lancar banget.

Lalu, sebagai penutup kami mendiskusikan apa saja rencana untuk menjaga biar pelatihan ini tak selesai begitu saja. Dan, Bale Bengong, kami harapkan bisa jadi salah satu cara menjaga keberlanjutan itu. Kini waktunya menjaga benih yang kami semai. Semoga saja..

2 Comments
  • Winarto
    February 12, 2010

    Disiram, dipupuk, singkirkan hama, supaya bisa bertumbuh

    ReplyReply

    [Reply]

  • Chris Budhi
    February 16, 2010

    Komandan kapan ada lagi pelatihan menulis saya mau ikutan biar bisa menulis yang baik dan benar

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *