Setelah 18 Tahun Tinggal di Bali

2 , Permalink 0

jasri01

“Apa yang paling kamu takutkan dalam hidup?”

Pertanyaan seorang teman sekitar 17 tahun silam itu masih tersimpan sampai sekarang. Kadang-kadang, dia datang tanpa permisi. Menyelinap begitu saja di antara beragam kenangan dan pikiran.

Pertanyaan itu muncul kembali akhir-akhir ini. Salah satu pemicunya ketika aku ngobrol dengan bapak dari seorang peserta kelas jurnalisme warga di Tulamben, bagian timur Bali sana. Malam itu kami sedang ngobrol santai setelah bakar ikan untuk para peserta.

“Sudah berapa lama tinggal di Bali?” tanya si bapak.

Aku lalu ingat, tahun ini masuk tahun ke-18 aku tinggal di Bali. Dan aku ingat pula tentang niat untuk menuliskannya, juga tentang pertanyaan si teman sekitar 17 tahun silam.

Seperti tak terasa, sudah 18 tahun aku tinggal di Bali. Artinya, sudah lebih dari separuh umur saat ini, aku habiskan di pulau ini. Delapan belas tahun berusaha menjalani semua cerita hidup dan memahami ragam rupa di sini.

Peristiwa-peristiwa selama perjalanan 18 tahun itu bergantian muncul lagi. Datang pertama kali ke sini dengan modal semangat diri dan doa orang tua serta keluarga. Masuk Bali dan merasakan aura berbeda yang kemudian aku tahu itulah yang disebut taksu.

Turun di Terminal Ubung dengan gagap dan penuh harap. Lalu begitu lega setelah melihat paman, yang sudah dua tahun sebelumnya kuliah di Bali, menyambut di terminal.

Selebihnya adalah perjalanan panjang. Tahun pertama tinggal dengan paman di kosnya. Sebagai penumpang, aku harus tahu diri. Membantu dan bekerja sebisanya karena dia juga mahasiswa.

Tahun-tahun selanjutnya, kos sendiri agar lebih mandiri. Hidup sebagai mahasiswa di Bali dengan kiriman pas-pasan dari kakak-kakak ataupun orang tua. Bahkan kadang untuk keperluan sebulan pun tak cukup.

Tapi itulah adanya. Tak bisa menuntut lebih karena aku tahu betapa berat perjuangan mereka.

Untunglah selalu ada paman ataupun teman-teman yang bisa jadi tempat berutang.

Delapan belas tahun itu bukanlah perjalanan mudah. Jungkir balik agar bisa tetap kuliah dan hidup di sini. Jadi agen distributor cat, pedagang asongan di lapangan Renon, guru les, pekerja lepas di lembaga swadaya masyarakat, dan seterusnya.

Semua harus dilakukan karena jika tidak bekerja maka kau tak akan makan. Tanpa usaha, kau tak akan bisa bertahan.

Namun, ketidakmapanan itulah yang justru membuat kita harus terus ulet, berusaha, mencari peluang, dan melakukan semua upaya agar tetap hidup. Itulah nikmatnya ketidakmapanan. Zaman itu, kemapanan dan kemewahan menjadi barang mahal. Sesuatu yang di awang-awang dan sering kali menakutkan.

Delapan belas tahun berselang, sudah amat banyak perubahan. Hal-hal yang dulu hanya serupa mimpi dan imajinasi, kini terwujud. Keluarga. Pekerjaan. Kemapanan.

Iya, kemapanan. Setidaknya secara ekonomi dan pekerjaan.

Dan, itulah yang berbahaya dan menakutkan. Ketika mapan, orang cenderung terlena. Merasa mudah untuk mendapatkan apa saja. Merasa cukup dengan dirinya. Lalu dia lupa pada asal-usulnya. Lupa pada apa yang dulu pernah diperjuangkan. Lupa pada masa lalunya.

Setelah 18 tahun tinggal di Bali, jawabanku masih sama terhadap pertanyaan dari seorang teman.

“Aku takut pada kemapanan..”

No related content found.

2 Comments
  • properties domain
    October 22, 2015

    Takut berada pada zona nyaman ?
    setidaknya apa yang sudah dicapai saat ini bisa membuktikan semua perjuangan di masa lalu. gitu ya Mas ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ngurah Arnawa
    June 29, 2016

    Memang hidup perlu perjuangan, mungkin hdiup saya lebih parah…jadi semnagat saja, terima kasih atas artikel nya yang bagus

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *