Semakin Berdarah Semakin Meriah

3 , Permalink 0

Kenapa media sering sekali menampilkan berita kriminal dibandingkan prestasi sekolah?

Pertanyaan seperti itu kembali muncul ketika aku memberikan pelatihan jurnalistik untuk murid SMP dan SMA. Salah satu siswa menggugat berita yang ada di media arus utama. Tak hanya koran tapi juga TV.

Tak hanya bertanya, pertanyaan itu sekaligus gugatan terhadap media arus utama di Bali juga Indonesia. Anak-anak tersebut protes terhadap begitu seringnya media memuat berita-berita kriminal, dibandingkan pencapaian, tak hanya siswa tapi juga warga.

Lihatlah, misalnya, media layar kaca. Bahkan berita-berita pagi hari, ketika kita baru bangun dan pikiran terasa segar, tiba-tiba layar kaca menyerbu dengan berita kriminal, seperti tawuran, pembunuhan, bentrokan demonstran dengan polisi, penggusuran, dan semacamnya.

Di koran pun demikian, terutama media lokal di Bali. Cobalah cari tiga koran lokal dan baca halaman metropolitan atau Bali. Isinya tak jauh dari seputar perampokan, pembunuhan, dan semacamnya. Porsi berita kriminal ini bersaing ketat dengan berita politik.

Banyaknya berita kriminal ini, salah satu sebabnya, karena kantor polisi memang salah satu pos penting bagi wartawan. Pos lainnya, antara lain kantor pemerintah, seperti gubernur dan bupati, DPRD, serta rumah sakit. Maka, tak usah heran jika isi media tak jauh dari berita seputar DPR, penjahat, pejabat.

Makanya, kalau mau masuk koran ya hanya ada dua pilihan: jadi penjahat atau pejabat.

Tentu saja ini tidak berlaku untuk semua wartawan. Tapi, sebagian besar wartawan lebih asik kalo ngepos dan nunggu berita datang daripada mereka yang mencarinya.

Ironisnya, berita yang datang itu sering kali berita tentang sesuatu yang buruk. Ini sih selain karena kredo bad news is good news juga karena manusia pada dasarnya suka pada hal-hal bersifat konflik.

Coba deh kita lewat di pinggir jalan terus ada orang berantem, pasti kita jadi ingin melihat. Tapi, kalau orang yang lewat itu tuna netra mau nyeberang jalan, bisa jadi kita cuekin. Lalu kita pun berlalu begitu saja.

Jadi, media dipenuhi berita kriminal ini juga terjadi karena pembaca media juga suka yang begitu. Semakin banyak berisi berita konflik berdarah, maka semakin banyak ingin membacanya.

Ironisnya, berita-berita bagus justru amat jarang masuk media. Itu pula yang digugat murid-murid yang bertanya tentang isi media kita. Berita-berita tentang prestasi sekolah justru susah masuk media. Di salah satu media lokal, berita seperti itu justru harus bayar ke pemilik media biar bisa masuk medianya. Ironis kan?

Foto diambil dari Pasar Kreasi.

3 Comments
  • heri
    August 26, 2011

    sekolah bukan pos penting bagi media maupun wartawan, prestasi sekolah kalah laris dibanding berita kriminalitas ya

    hmmm, skarang di Bali masih ada tabloid Wiyata Mandala ndak ya? itu kan media yg khusus ditujukan pagi para pelajar.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    September 7, 2011

    Berarti selera pembaca juga berperan dengan berita apa yang di publish ya om?

    Mirip dengan keberadaan sinetron, walaupun banyak yang mencela karena dianggap tidak bermutu dan tidak mendidik, tapi toh sinetron masih banyak disiarkan, mungkin karena memang kenyataannya masih lebih banyak yang suka sinetron.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Amy
    September 19, 2011

    Hipnosis massal. Masyarakat kita full of fear…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *