Selamat Tinggal Tahun Egois Tanpa Hasil

1 , Permalink 0

listening IELTS

Tahun sudah mau berganti tapi nasib masih saja sama, ditolak penyedia beasiswa.

Biar tidak terlewat begitu saja, penting memang untuk membuat catatan. Sekadar mengingat dan merefleksikan apa saja yang sudah lewat meskipun sekadar curhat. Jika tak tercatat, mereka akan cuma lewat.

2014 bolehlah disebut sebagai tahun egois. Selama tahun tersebut, sepertinya aku makin memikirkan diri sendiri. Tak terlalu banyak aktif di komunitas atau urusan lain di luar pekerjaan dan keluarga.

Salah satu sebabnya, aku pengen lebih fokus dan serius ngurus beasiswa. Ini resolusi yang selalu tertulis sejak dua tahun lalu namun selalu aku kerjakan sambil lalu.

Tahun ini lebih serius. Memilih kampus. Komunikasi dengan staf maupun calon pembimbing. Ikut tes bahasa Inggris IELTS lagi. Tentu saja melamar beasiswa lagi.

Hasilnya? Tetap saja mengecewakan meskipun ada perbaikan. Bahasa Inggris cuma dapat nilai IELTS rata-rata 6. Parahnya ada yang dapat nilai cuma 5,5 — listening.

Nilai IELTS yang masih kacrut ini berpengaruh pada lamaran kuliah di salah satu kampus. Proposal disetujui. Calon pembimbing sudah bersedia. Eh, lalu mentok karena nilai IELTS cuma 6 padahal syarat minimal rata-rata 6,5.

Hasil paling bagus saat ini hanya dapat “Conditional Acceptance Letter” alias diterima dengan syarat.

Harapan hidup lagi karena sudah mengirim lamaran beasiswa. Perkiraannya, karena sudah ada kampus yang menerima dengan syarat, maka peluang untuk dapat beasiswa pasti lebih besar.

Ternyata tidak juga. Aku tidak lolos untuk dapat beasiswa. Ini kejadian kedua kali, ditolak penyedia beasiswa dari Australia bahkan di tahap pertama. Entah apa alasannya.

Jadilah, tahun ini cuma bisa gigit jari meskipun sudah jadi orang egois.

Tahun depan mari coba lagi. Jika tahun ini tahun egois, maka tahun depan mungkin tahun pertaruhan terakhir apakah bisa kuliah atau tidak.

Nafsu amat. Untuk apa?

Entahlah. Mungkin melanjutkan niat lama, pengen bisa kuliah di luar negeri. Selain untuk menambah keterampilan dan pengetahuan, juka membuka jaringan baru.

Secara personal, aku merasa lemah banget dalam kemampuan analisis. Selama ini cuma sibuk menjumput fakta demi fakta, data demi data, lalu membuat berita demi berita. Tapi ada yang belum lengkap di sana, analisis.

Harus di luar negeri? Ya tidak apa juga. Namanya juga keinginan. Kan bagus kalau berada di lingkungan dengan bahasa asing, terutama Inggris. Biar jadi paksaan dan kebiasaan. Biar punya modal bahasa Inggris yang lebih baik.

Kesimpulan: mari lebih egois lagi tahun depan. Siapa tahu hasilnya lebih besar. :p

1 Comment
  • HeruLS
    January 26, 2015

    Sudah pernah baca buku “Cara Mudah Mendapat Beasiswa ke Luar Negeri” atau semacamnya?
    Coba baca dan praktikkan, jika benar isinya dan berhasil, tolong aku diberitahu.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *