Sebagian Bali Terancam Tenggelam

0 , Permalink 0
Akibat pemanasan global (global warming), sebagian wilayah Bali terancam tenggelam. Parahnya lagi, kenaikan air laut hingga 6 meter itu mengancam daerah-daerah pusat kegiatan pariwisata.

Hal tersebut dikatakan Hira Jhamtani, aktivis Third World Network, jaringan negara ketiga yang terutama aktif di gerakan anti-globalisasi. Hira, yang sering mewakili lembaga swadaya masyarakat (LSM) di berbagai kegiatan internasional, menyatakan adanya ancaman itu pada diskusi yang digelar Koalisi LSM untuk perubahan iklim di Denpasar Bali hari ini.

Diskusi setengah hari di Gedung Nari Graha Renon Denpasar tersebut digelar Koalisi LSM di bidang lingkungan antara lain Yayasan Wisnu, Bali Organic Assosiation (BOA), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali. Menurut Nyoman Sri Widianti, Eksekutif Daerah Walhi Bali, diskusi itu merupakan upaya sosialisasi persoalan pemanasan global pada masyarakat.

Selain Hira, pembicara di diskusi yang dimoderatori I Wayan Juniartha, wartawan The Jakarta Post, itu adalah Gde Prama, Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, dan I Nyoman Sadra. Sebab tema diskusi yang dihadiri sekitar 200 peserta itu memang tentang menggali budaya lokal untuk mengantisipasi global warming. “Ini akan jadi masukan pada pertemuan PBB tentang perubahan iklim di Nusa Dua Desember nanti,” kata Aik, panggilan Sri Widianti.

Hira Jhamtani, yang pernah aktif di Institute for Global Justice mengungkapkan data bahwa akibat global warming juga mengakibatkan perubahan iklim (climate change). Mengutip pemberitaan Bali Post (16/08/07), dia mengatakan bahwa saat ini ada 140 titik abrasi dari 450 bentangan garis pantai di Bali. Fakta tersebut ditambah faktor adanya lahan kritis dan perubahan iklim akan mengakibatkan kenaikan air laut hingga 6 meter. Akibatnya, sebagian wilayah Bali pun terancam tenggelam pada 2030.

Wilayah yang terancam tenggelam itu memang terutama di bagian pinggir Bali seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Tanah Lot, Candi Dasa, Tulamben, Nusa Lembongan, Lovina, dan seterusnya. Namun jika tidak diantisipasi, maka kenaikan air laut itu juga bisa sampai menenggelamkan kota-kota lain yang ada di pinggir pantai termasuk Denpasar dan Singaraja. Melalui sebuah peta, Hira menunjukkan titik-titik di pinggir Bali yang rentan tenggelam tersebut.

Pemanasan global, lanjut Hira, adalah peningkatan suhu rata-rata bumi. Mengutip data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), peningkatan suhu bumi saat ini sekitar 0,6 derajat Celcius dibanding pada tahun 1750 lalu. “Kenapa perbandingannya tahun 1750 adalah karena itulah dimulainya Revolusi Industri yang mengakibatkan penggunaan energi secara besar-besaran,” kata alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Peningkatan suhu itu akan terjadi antara 1 hingga 1,5 derajat Celcius. Karena itu ada kesepakatan bersama antara negara-negara di dunia yang tergabung dalam IPCC bahwa suhu harus dibatasi maksimal 2 derajat Celcius. “Kenyataannya, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan,” kata Hira.

Perubahan iklim, lanjutnya, adalah perubahan pola iklim dalam waktu tertentu yang mengakibatkan perubahan komposisi atmosfer global. Perubahan itu terjadi pada suhu udara, pola air hujan dan salju yang jatuh dari udara, cuaca dan musim, serta naiknya permukaan air laut. Hal ini terjadi langsung maupun tidak langsung akibat kegiatan manusia.

Secara ilmiah, iklim berubah akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), metan (CH4), HCFC, ozon troposferik (O3), dan uap air. Gas rumah kaca itu sendiri sebenarnya terjadi secara alami untuk menangkap radiasi matahari sehingga membuat suhu dan iklim bumi stabil. Namun akibat terlalu banyaknya gas rumah kaca, radiasi matahari pun makin banyak sehingga suhu bumi pun makin hangat.

“Gas rumah kaca meningkat akibat emisi dari penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan listrik serta perubahan dalam tata guna lahan dan penggundulan hutan,” kata Hira yang sekarang tinggal di Batubulan, Gianyar tersebut.

Mengutip data World Resources Institute Climate Analysis Indicator Tools, hingga tahun 2000 lalu, ada 42 giga ton gas CO2 di atmosfir. Listrik (24 persen) adalah sumber emisi gas rumah kaca paling besar disusul tata guna lahan (18 persen), industri (14 persen), transportasi (14 persen), pertanian (14 persen), bangunan (8 persen), terkait energi lain (5 persen), dan limbah (3 persen).

Secara per kapita, Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak menghasilkan emisi gas rumah kaca. “Orang Amerika menggunakan pendapatan dan daya beli per kapita delapan kali lebih besar dan melepaskan proporsi CO2 lebih tinggi dibandingkan orang di tempat lain,” urai Hira. Setelah Amerika, negara lainnya adalah Australia, Kanada, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Selandia Baru, Malaysia, Hong Kong, dan Thailand. Data ini hanya untuk emisi CO2.

Namun untuk keseluruhan emisi gas rumah kaca, negara paling banyak tetap Amerika Serikat. Berturut-turut setelah itu kemudian Uni Eropa, Cina, Indonesia, Brazil, Rusia, Jepang, India, Kanada, Meksiko, Korea Selatan, dan Afrika Selatan. “Kalau faktor kebakaran hutan tidak dihitung, pembuangan emisi gas rumah kaca di Indonesia sebenarnya kecil, mungkin di bawah Korea Selatan,” kata Hira.

Berangkat dari data-data di atas, menurutnya, saat ini sedang terjadi ketidakadilan iklim global. “Negara-negara maju adalah penghasil emisi gas rumah kaca paling besar di dunia saat ini. Namun dampaknya justru dirasakan negara-negara miskin,” tegas Hira.

Dampak itu bisa dilihat dari data di perusahaan Asuransi Swiss Re bahwa 90 persen bencana terkait perubahan iklim justru terjadi di Asia. Misalnya berupa banjir di India, gelombang besar di Jepang, dan badai di berbagai negara. Jika ini tidak diantisipasi, ada kemungkinan bahwa pada 2050 akan terjadi kebanjiran tiap tahun di Asia dan Afrika yang mengakibatkan pengungsian besar-besaran hingga 200 juta orang. “Itu pengungsi yang jauh lebih besar dibandingkan korban perang,” kata Hira.

Indonesia pun sudah mengalami dampak perubahan iklim tersebut. Misalnya kenaikan air di Teluk Jakarta setinggi 57 mm tiap tahun. Daerah lain di Indonesia, termasuk Bali, pun mengalami hal yang tak jauh berbeda.

Di Bali, daerah-daerah yang rentan mengalami dampak global warming itu terutama pada daerah pantai. Sebagai contoh, seperti pernah disebut Iwan Dewantama dari WWF Bali Barat, di perairan Pulau Menjangan dan Taman Nasional Bali Barat lainnya terjadi coral bleaching (pemutihan terumbu karang), yang salah satu sebabnya adalah kenaikan suhu air laut.

Jika terumbu karang sudah rusa, maka ekosistem pantai akan erosi. Atau tidak usah jauh-jauh lah. Sehari-hari pun cuaca sudah terasa tidak jelas. Bisa saja terjadi panas berlebihan pada bulan yang seharusnya sudah musim hujan. Atau sebaliknya, bisa hujan deras pada bulan yang seharusnya musim panas. Karena itu ada joke bahwa Indonesia pun saat ini punya empat musim: hujan, kemarau, hujan pada musim kemarau, dan kemarau pada musim hujan.

Lalu bagaimana Bali mengantisipasinya?

Ida Pedanda Tianyar Arimbawa mengatakan umat Hindu Bali sebenarnya sudah mampu menyikapi perubahan iklim secara sekala dan niskala. Secara sekala (alam nyata) melalui penghormatan terhadap alam. Sedangkan secara niskala (alam tak nyata) melalui upacara keagamaan sesuai sasih, tahun, serta situasi alam sesuai wariga (penanggalan) sebagai pedoman membaca perubahan cuaca dan musim.

“Namun dalam praktiknya, tidak sedikit pula upacara yang malah mendukung terjadinya kerusakan secara langsung maupun tidak,” katanya. Pedanda yang juga aktif menolak pembangunan geothermal di Bedugul itu memberi contoh bagaimana setelah upacara justru banyak sampah di sekitar lokasi upacara. Selain itu perilaku tidak hemat ketika upacara juga mendukung komersialisme sebagai salah satu sumber terjadinya kerusakan lingkungan.

Hal senada dikatakan I Nyoman Sadra, Kepala Ashram Gandhi Candi Dasa Karangasem. “Masa orang upacara saja harus pakai buah impor dari Selandia Baru dan Australia. Padahal transportasi untuk impor kan salah satu sumber pembuangan emisi gas rumah kaca,” kata mantan Kepala Desa Tenganan yang kini jadi penerus Ibu Gedong Bagoes Oka tersebut.

Sadra menambahkan bahwa kearifan budaya lokal Bali melalui konsep zonasi, ritual, dan awig-awig sudah menyadari perlunya menjaga keberlangsungan lingkungan. “Tapi kita yang justru sekarang merusaknya,” kata Sadra. [b]

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *