Melatih Kerjasama Sambil Berwisata

2 , , Permalink 0

All Team

Skenarionya begini. Speedboat yang kami tumpangi akan tiba di pantai di belakang kantor koperasi Sarining Segara, Nusa Ceningan. Jadi kami bisa langsung turun dari perahu cepat tersebut dan langsung bersiap melakukan kegiatan pertama kami sore itu, balapan kano.

Pilihan lain, kalau ternyata kapal cepat tidak bisa berlabuh di Nusa Ceningan karena air laut surut, maka kami akan turun di Nusa Lembongan, pulau tetangga sekaligus desa induk Nusa Ceningan. Lembongan yang luasnya sekitar 615 hektar adalah pulau di sisi barat Ceningan.

Ada tiga pelabuhan di Lembongan: Mushroom Beach, Tanjung Sangiang, dan Jungut Batu. Pelabuhan terakhir jadi pilihan kami untuk mendarat. Dari sini kami akan naik mobil pick up sampai satu-satunya jembatan penghubung antara Lembongan dengan Ceningan.

Tapi, skenario tinggal skenario. Selasa sore lalu speedboat Sari Nusa yang kami tumpangi dari Sanur ternyata berlabuh di titik yang tidak kami duga sama sekali, sisi timur Nusa Ceningan.

Karena di luar skenario, maka kami tidak mengantisipasinya sama sekali. Titik ini lumayan jauh, sekitar 2 km dari kantor Koperasi Sarining Segara yang menjadi pusat kegiatan kami selama dua hari di Nusa Ceningan. Dua pegawai Jaringan Ekowisata Desa yang bersama kami, Gede Wiratha dan Komang Gede tidak memberikan jawaban segera tentang kendaraan apa yang harus kami pakai untuk ke pusat kegiatan.

Dengan diskusi terbatas, kami sepakat naik perahu nelayan setempat. Dua nelayan bersedia mengantar kami dari titik pendaratan ke lokasi kegiatan. Tapi ketika sebagian dari kami, aku dan 19 orang lain, itu sudah naik di dua perahu berbeda, salah satu petugas JED bilang bahwa akan ada mobil pick up yang menjemput. Kami segera turun dari perahu.

Perjalanan dari titik pendaratan ke lokasi kegiatan pun disambung dengan pick up. Karena hanya ada satu pick up sementara kami semua berduapuluh, maka mobil itu harus balik dua kali.

Perubahan mendadak lokasi pendaratan ini pun berdampak pada agenda kami selama di Nusa Ceningan. Awalnya aku dan 19 orang dari VECO Indonesia, LSM pertanian tempat aku kerja paruh waktu, itu sudah mengagendakan petang itu untuk balapan kano. Menurut jadwal yang sudah kami susun, kami akan sampai di Ceningan pukul 5 sore. Dengan asumsi persiapan 30 menit, maka kami bisa memulai kegiatan pertama itu pada 5.30 sore.

Tapi begitulah. Agenda petang itu berganti. Speedboat yang kami sewa seharga Rp 3,8 juta untuk pergi pulang dari Sanur-Ceningan itu ternyata molor dari jadwal. Hitungan di atas kertas sih hanya perlu waktu 30 menit untuk nyeberang dari Sanur ke Ceningan. Tapi kapal cepat bermesin 240 PK itu perlu waktu hampir satu jam, karena harus mengelilingi Ceningan dulu sebelum berlabuh.

Ditambah waktu menunggu dan naik pickup dari pelabuhan, maka aku sampai pusat kegiatan ketika hari sudah gelap. Sudah sekitar pukul 18.30. Balapan kano pun batal. Padahal aku sudah membayangkan betapa serunya kalau kegiatan team building kantor itu dimulai dengan balapan kano. Tapi ya begitulah. Balapan kano petang itu gagal.

Balapan kano alias kano race itu adalah kegiatan pertama yang kami rencanakan jadi bagian dari team building. VECO Indonesia sedang punya kegiatan team building sebagai penutup pertemuan enam bulanan bernama Badan Belajar Bersama, semacam evaluasi semua hal terkait pekerjaan di kantor. Aku dan dua teman lain –Bu Yuli dan Heri- bertugas mengurus kegiatan team building.

Tahun-tahun sebelumnya kegiatan ini diadakan di Bedugul dengan kegiatan outbond. Kantor kami menyewa tim profesional yang sudah biasa melakukan team building dan outbond. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan jasa ini lagi. Tapi selain harga outbond yang kelewat mahal, ada yang sampai Rp 750 ribu per orang, juga kegiatannya yang begitu-begitu saja: di Bedugul dengan permainan tim.

Kami ingin suasana berbeda, team building keluar pulau dengan kegiatan yang melibatkan warga setempat. Pilihan kami jatuh pada Jaringan Ekowisata Desa (JED) yang punya empat desa untuk kegiatan wisata yaitu di Dusun Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung; Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung; Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, serta Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Ciri khas JED adalah keterlibatan warga dan sumber daya setempat dalam kegiatan pariwisata.

Setelah mengecek dengan budget dan kebutuhan, maka pilihan jatuh pada Nusa Ceningan. Kami bikin kegiatan dua hari di sini, persis menjelang Pemilihan Umum 2009. Selama dua hari di sini kami mengadakan kegiatan untuk melatih kerjasama tim. Karena lokasinya asik banget, maka ini sekaligus kegiatan wisata. Sambil melatih kerjasama, kami berwisata.

Bagiku, ini memang benar-benar berbeda dengan kegiatan wisata pada umumnya. Juga beda dengan kegiatan team building maupun outbond yang  pernah kami lakukan sebelumnya.

Pertama karena sebagai sebuah kegiatan wisata, kami tidak bisa menganggap diri sebagai turis di sini. Lebih mirip bertamu ke rumah keluarga atau teman. Tempat menginap misalnya tidak dia cottages, vila, atau hotel tapi rumah penduduk. Kami berduapuluh dibagi di tiga rumah penduduk. Ada tujuh kamar yang bisa kami pakai. Meski kami bayar Rp 50 ribu per orang, fasilitasnya ya biasa saja seperti rumah pada umumnya.

Rumah kedua yang aku dan dua teman lain pakai sehari-hari adalah tempat praktik bidan desa. Kamar yang kami pakai bertiga ukurannya tak lebih besar dibanding kamarku di rumah, hanya sekitar 3 x 4 meter persegi. Kasur di tempat tidur harus kami turunkan di lantai agar bisa kami pakai tidur bertiga.

Ngorok

Kamar mandi yang kami pakai tanpa shower dan bak. Hanya ember untuk sekitar 10 liter air, itu pun airnya payau karena dekat sekali dengan laut. Tapi inilah seninya wisata semacam ini. Kami merasakan hidup sehari-hari warga, bukan menjadi wisatawan yang menikmati fasilitas yang tak bisa diperoleh warga layaknya wisatawan di Ubud atau Nusa Dua.

Selain fasilitas yang apa adanya, menu makan pun tak jauh beda. Nasi putih, ayam goreng, ikan bakar dan goreng, sambal matah, serta sayur kelor adalah masakan warga sehari-hari. Bukan santapan mewah ala hotel bintang lima. Tapi justru kesederhanaan ini yang jadi sangat nikmat. Kami, setidaknya aku, merasa seperti makan di rumah sendiri. Apalagi kami juga makan bersama warga.

Kedua soal outbond dan team building. Karena tidak pakai jasa profesional perusahaan pelaksana outbond atau team building, maka kami sendiri yang harus menyusun kegiatan. Jadi ya mohon maklum pula kalau tidak seprofesional mereka yang sehari-hari memang bekerja melatih tim dan kerjasama.

Berdasarkan obrolan dengan warga lokal, waktu yang kami punya, serta sumber daya yang ada maka kami memilih empat kegiatan utama: kano race, tracking, snorkling, dan panen rumput laut. Semua dilakukan dalam tim sehingga satu sama lain bisa lebih saling mengenal.

Karena batal pada hari pertama, maka kami sepakat memasukkan kano race dalam kegiatan tracking di hari kedua. Cuma tidak khusus balapan kano tetapi sebagai akhir setelah tracking.

Tracking alias jalan-jalan menjelajah sebagian pulau itu dimulai pada Rabu (8/4) pagi pukul 7. Dua puluh peserta dibagi jadi tiga tim yang masing-masing harus membuat nama tim serta yel-yel. Tiga tim itu antara lain Singa Laut, Lumba-Lumba, dan Kucing Garong. Sebelum melakukan perjalanan masing-masing, semua tim harus meneriakkan yel-yel, yang sayangnya, hmmm, tidak terlalu menarik dan menunjukkan semangad –dengan “d”, bukan “t”. Yel-yelnya terlalu garing dan letoy. Hehe..

Yelling

Yel-yel ini jadi salah satu penilaian kerjasama tim. Hal lain yang dinilai adalah ketepatan waktu sampai di finish. Tiap tim diberi waktu dua jam untuk kembali ke titik di mana kami memulai perjalanan. Tim yang paling mendekati jatah waktu, dia yang menang. I Gede Lama, Kelian Banjar Ceningan Tengah sekaligus pemandu lokal terlebih dulu menjelaskan jalur yang akan ditempuh. Setelah itu perjalanan pun dimulai.

Maka perjalanan pun dimulai pagi itu sekitar pukul 07.10 Wita. Aku masuk di tim Singa Laut. Kadek Sukadana, petani rumput laut sekaligus Ketua Koperasi Sarining Segara, jadi pemandu kami. Oya, enaknya JED adalah karena semua memang melibatkan warga lokal termasuk sebagai pemandu. Keuntungannya, kami bisa mendapat informasi dari sumber primer, bukan dari orang lain yang tahu tentang Ceningan.

Sepanjang perjalanan, Sukadana menceritakan bagaimana warga setempat menolak proyek pariwisata yang akan membuat mereka terusir dari tanahnya sendiri sekaligus terancam keberadaan generasinya. Mereka memilih menjadi seperti saat ini, mengelola sendiri sumber daya pariwisata yang mereka miliki meski hasilnya tak sebanyak dibanding legitnya kue di Nusa Dua, Kuta, dan semacamnya.

Jalur yang kami lewati adalah jalan beraspal yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Sepanjang jalan ini adalah kebun warga yang berisi jagung dan singkong. Di kanan kiri jalan ada berbagai pohon yang tak sedikit di antaranya adalah tanaman obat. Anggota tim ada yang mencatat nama-nama pohon obat tersebut sebab itu memang jadi salah satu tugas selama tracking.

Kami juga melewati Kebun Percontohan Masyarakat alias Demplot yang dikelola petani lokal bersama Yayasan IDEP, LSM yang berkantor di Ubud. Kebun ini agak di luar jalur. Tapi kami minta untuk lewat karena sepertinya menarik. Hanya sekitar lima menit di sana, kami lalu kembali ke jalur tracking yang kini semakin mendaki.

Demplot

Sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di Bukit Datar yang oleh warga setempat disebut juga Puncak Bogor, mengacu pada kawasan Puncak di Jawa Barat. Sebutan itu mewakili tempat ini yang memang berada di puncak bukit. Di sini ada dua guest house milik JED yang biasa dipakai tamu menginap selain di rumah warga.

Dari titik sini kami bisa melihat sebagian besar Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Pulau Bali pun terlihat jelas apalagi Gunung Agung di sebelah utara sana. Itu tuh, hotel Bali Beach yang punya sepuluh lantai pun terlihat di sebelah barat sana. Pemandangan di sini asik banget karena memadukan dua gugus pulau, laut, samar-samar pulau Bali, dan gunung Agung yang jauh di sana. Makanya kami bersantai cukup lama, sekitar 30 menit di titik ini.

Tim lain pun akhirnya sampai dan bersantai seperti kami. Perjalanan kami lanjutkan setelah foto-foto dengan latar belakang pemandangan di bawah sana.

Medan yang kami tempuh setelah itu berganti curam. Jalurnya bukan lagi jalan beraspal tapi jalan setapak berbatu. Agak sempit dan kemiringannya sampai 30 derajat. Di kanan kiri kami tetap kebun warga. Sekitar 20 menit kami melewati medan seperti ini sebelum kemudian tiba-tiba kami sudah di dekat pantai ketika keluar dari jalur ini. Kali ini kami di dekat hutan mangrove di tepi pulau.

Dari sini kami menuju pantai. Berfoto-foto sejenak di jembatan yang menghubungkan Nusa Ceningan dengan Nusa Lembongan sebelum kemudian menunggu kano yang akan kami pakai ke titik terakhir.

Ketika akhirnya kami naik kano, bagiku, inilah ujian kerjasama tim yang paling berat. Kami harus naik kano, lebih tepat sampan sebenarnya, sejauh sekitar 200 meter. Toh meski dekat, kami perlu waktu lama. Soale susah banget mendayung sampan tersebut. Menggunakan satu galah bambu sepanjang sekitar 3 meter, kami harus mengendalikan sampan tersebut ke titik akhir. Padahal ketika melihat petani rumput laut naik sampan, sepertinya sangat gampang. Ternyata anggapan itu salah.

Untungnya sih kami semua selamat tanpa harus ada yang tercebur ke beningnya air laut yang dangkal, tak sampai semeter tersebut.

Canoeing

Timku sebenarnya yang paling mendekati dua jam waktu yang disediakan. Tapi kan tidak enak. Masak aku yang jadi juri aku pula yang memenangkan tim. Apalagi sudah ada teman yang protes, “Masak juri ikut main..” Jadi ya serba tidak enak lagi. “Semua tim adalah juara,” kataku akhirnya. Kalah menang tidak jadi tujuan. Yang penting bisa bersenang-senang. Ya toh..

Sarapan, meski sudah pukul 9.30an, jadi penutup tracking yang memuaskan. Menunya tak jauh beda dengan menu sebelumnya. Nasi putih dengan ikan laut goreng plus sambal tomat itu terasa sangat nikmat. Mungkin karena ada tambahan menu capek dan lapar. Hehe..

Kegiatan selanjutnya adalah snorkling. Kami memulainya sekitar pukul 10.30. Dari pantai di belakang koperasi, kami naik perahu bermotor milik warga setempat. Perlu waktu sekitar 15 menit menyusuri selat antara Ceningan-Lembongan untuk sampai lokasi snorkling di sisi timur laut Nusa Ceningan yang tak jauh dari Nusa Penida.

Snorkling memang lebih banyak untuk fun, tidak lagi untuk tim. Makanya bebas saja. Kami nyebur sesuka hati ketika perahu akhirnya berhenti di titik di mana banyak terumbu karang. Lima bule dari Belanda dan Belgia di tim kami langsung nyebur hanya setelah pakai snorkle, tanpa fin (sepatu katak) dan baju pelampung. Anehnya, kami yang orang Indonesia malah terlalu banyak nuntut: harus pakai fin-lah, harus pakai baju pelampung-lah, aneh kalau pakai snorkle-lah, dan seterusnya.

Aku masuk bagian yang terlalu nuntut itu. Hehe.. Satu ban dalam berisi angin punya teman lain aku pakai duluan. Rumusnya kan siapa cepat dia dapat. Hehe.. Mengapungkan tubuh di atas ban yang makin lama makin kempes itu, aku menikmati pemandangan bawah laut dengan snorkle. Karangnya banyak. Tapi sayangnya tidak warna-warni. Dibandingkan karang di Pulau Menjangan, tempat ini kalah indah. Ikannya juga termasuk sedikit.

Pak Rogier, bos di kantor, juga bilang begitu. Pemandangan bawah laut di sini tidak terlalu bagus. Karena itu pula aku tidak terlalu lama snorkling. Hanya sekitar 15 menit. Lagian kami juga harus gantian pakai ban dan snorkle. Maka, setelah itu aku lebih banyak duduk di perahu sambil sesekali loncat ke birunya laut untuk mengganggu teman lain yang asik snorkling.

Tapi sebagian besar teman masih pada betah berenang di sekitar perahu menikmati terumbu karang dan ikan di sekitar Ceningan ini. sekitar 50 meter dari kami, ada rombongan lain yang juga melakukan kegiatan sama. Sepertinya sih rombongan turis Taiwan atau China.

Sekitar satu jam kemudian snorkling usai. Kami kembali ke pusat kegiatan. Lalu merebahkan diri di balebengong sambil menunggu makan siang siap dihidangkan.

Setelah makan siang, semua orang sepertinya sudah kecapekan. Makanya ketika ditawarkan apakah mau ikut petani rumput laut bekerja, semua orang pada bilang, “Tidaaaak..” Yowis. Toh sudah ditawarkan. Sebagai gantinya, kami ngobrol sama warga lokal yang juga petani rumput laut..

Meski tidak bisa ikut bertani rumput laut, setidaknya tim kami bisa lebih mengenal pertanian rumput laut di sini. Buktinya diskusi dengan petani itu berjalan asik. Banyak tanya jawab.

Evaluasi menjadi penutup kegiatan dua hari kami. Di antara sekian kesan menyenangkan dari teman-teman yang ikut, ada satu kesan yang menjadi catatan besar. Besok-besok kalau bikin kegiatan team building harus lebih jelas metodenya. Biar tidak diprotes lagi.

Tapi ya mohon dimaklumi sekali lagi. Team building ini kan ala amatir, bukan profesional. Jadi ya hasilnya tentu tidak maksimal. Kalau toh team buildingnya kurang berhasil, setidaknya kan jalan-jalannya sudah. Ya toh..

2 Comments
  • PanDe Baik
    April 14, 2009

    Asyiknya Liburan Ramai-ramai…
    Tumben membaca tulisan Anton yang asyik lagi… :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • saylow
    April 15, 2009

    Aku pernah bersepeda keliling nusa lembongan-ceningan karena DIY (doit your self) tanpa guide banyak sekali spot-spot yang tidak teridentifikasi atau terjamah. Maybe next time, I can have this JED person to be a guide 🙂

    Nusa Lembongan-Ceningan selalu menjadi tempat fav. gw buat “terdampar”.

    Thanks for sharing sir.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *