Refleksi Empat Hari Mbebek Hillary

2 , , Permalink 0

Setelah empat hari jadi embedded blogger kunjungan Hillary Clinton di Bali, inilah saatnya membuat refleksi.

Pertama, aku jadi tahu bagaimana rasanya jadi embedded journalist. Meskipun Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika mengundangku sebagai embedded blogger, tetap saja tanggung jawabku selama ikut mereka tak jauh beda dengan pekerjaanku selama ini, jurnalis.

Istilah embedded journalist atau wartawan penyerta ini aku kenal pertama kali ketika TNI melakukan operasi militer ke Aceh tahun 2003. Embedded journalist ini istilah untuk jurnalis yang ikut serta dalam tim TNI. Jadi, mereka ikut ke mana pun TNI ini bergerak.

Mereka seperti jadi bagian dari kesatuan TNI tersebut. Begitu pula dengan posisiku ketika jadi embedded blogger tim Hillary Clinton. Aku harus ikut ke mana pun Hillary bergerak dan melakukan pertemuan.

Karena itu, embedded journalist maupun blogger ini ibarat bebek. Dia hanya menuruti arah yang ditunjukkan tuannya. Sebenarnya ada pilihan acara apa saja yang mau diikuti. Cuma, kalau tidak ikut, rugi juga. Ini peluang bagus untuk belajar. Jadi, aku ikuti saja semua acara yang boleh aku ikuti. Tapi, pas aku sudah capek baru aku pilih istirahat sambil ngetik.

Kedua, embedded blogger itu mendapat banyak keistimewaan. Aku bisa mendapat banyak  kesempatan yang bahkan jurnalis arus utama pun tidak bisa.

Pertemuan-pertemuan Hillary baik bilateral, trilateral, maupun multilateral selama di Bali lebih banyak bersifat tertutup untuk media. Namun, mereka memberikan sedikit waktu pada awal pertemuan. Lamanya antara 30 detik sampai 5 menit. Pada waktu sedemikain mepet ini, media bisa memotret. Itu pun tidak sembarang media. Hanya media pool dan embedded journalist Kedubes Amerika.

Jadi, hanya 4-5 media yang bisa masuk, termasuk aku atas nama blogger.

Aku tidak suka dengan eksklusivitas media ataupun jurnalis. Karena itu mendapat privilege semacam ini membuatku kurang nyaman juga. Apalagi ketika melihat teman-teman sesama jurnalis Bali yang diusir oleh tim media Hillary ataupun Diplomatic Security (DS) sementara aku malah dipersilakan masuk.

But, tidak ada pilihan lain. Aku nikmati saja keistimewaan ini.

Ketiga, Amerika memang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Tidak ada pengarahan tentang apa yang harus aku tulis sama sekali selama jadi bebek, eh, embedded blogger.

Hal ini sempat aku tanyakan saat bertemu dengan tim media Hillary dari Washington dan tim media Kedubes Amerika dari Jakarta. Adakah hal tertentu yang harus aku tulis atau hindari? Tidak ada. Sama sekali tidak ada. “Kamu bebas nulis apa saja yang kamu ingin,” kata Ellen Connell dari tim media Departemen Luar Negeri Amerika.

Bahkan untuk isu-isu yang aku pikir sensitif pun ternyata tidak ada larangan. Misal, tentang pengamanan. Ini kan biasanya bagian dari rahasia demi keamanan pejabat. Karena itu aku sampai berkali-kali tanya, boleh atau tidak untuk memberikan informasi tentang, misalnya lokasi Hillary Clinton menginap dan bagaimana pengamanannya.

Hasilnya, bebas saja. Aku bebas menulis ataupun ngetwit tentang apa saja yang aku anggap menarik. Cuma pas aku mau motret pengawal Hillary, salah satu petugas menggelengkan kepala dan mengawasiku. Aku jiper. Batal memotret terang-terangan meski kemudian ambil foto secara sembunyi-sembunyi. 🙂

Keempat, meski cuma empat hari, kesempatan jadi embedded blogger ini memberi pelajaran tentang Amerika juga. Misalnya soal pengamanan pejabat, sikap orang Amerika, dan hal-hal lain yang baru aku tahu.

Misalnya, aku baru tahu tim pengamanan pejabat diplomatik Amerika bernama Diplomatic Security. Sebelumnya aku pikir namanya sama seperti untuk presiden, Secret Service. Aku juga baru tahu bahwa Amerika tidak menggunakan istilah menteri dalam kabinetnya. Tidak seperti di Indonesia, Inggris, ataupun negara lainnya. Mereka hanya pakai istilah sekretaris.

Hillary misalnya, tidak disebut sebagai Foreign Ministry tetapi Secretary of State yang dalam bahasa singkat disebut Secretary Clinton.

Selain karena sistem pemerintahan berbeda juga karena ada faktor lain, gengsi. Untuk urusan sistem pemerintahan ini aku tak terlalu paham. Soal gengsi yang aku sedikit mengerti. Kalau pakai istilah menteri, menurut mereka, kesannya terlalu feodal. Istilah menteri itu warisan Inggris, negara asal usul mereka yang justru mereka lawan.

Empat hari mbebek Hillary memang melelahkan. Tapi, sangat mengesankan. Banyak hal baru yang aku pelajari. Setelah ini, semoga kapan-kapan bisa belajar langsung di negaranya sana. Semoga..

Ilustrasi dari The Pleb.

2 Comments
  • yunaelis
    September 8, 2011

    Wah., pasti pengalaman yang tidak terlupakan…
    Trus., mana foto yang diambil sembunyi2 itu bli??

    ReplyReply

    [Reply]

  • tumik
    September 12, 2011

    semoga 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *