Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu

8 , , Permalink 0

Seorang teman pernah bilang bahwa tidak ada yang bernama kebetulan. Semuanya sudah terhubung satu sama lain tanpa kita sadari. Ada sesuatu yang mengatur itu semua di luar kehendak kita. Kadang aku percaya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi saja. 😀

Setelah aku ngobrol dengan Pak Wayan Rebho hari ini, aku percaya dengan itu. Entah esok hari, entah lusa nanti. (Kok kayak lagu Iwan Fals. Hehe). Sore tadi aku liputan tentang petani di kawasan Bali Pecatu Graha (BPG) Kuta Selatan. Proyek besar milik Tommy Soeharto itu dibangun sejak 1996 dan sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1997 dan diikuti kemudian jatuhnya Soeharto pada 1998.

Pembangunan selalu mengorbankan orang-orang lemah, entah secara sosial, ekonomi, politik, dan seterusnya. Begitu pula dengan BPG yang dibangun megah di kawasan sekitar 320 hektar. Proyek pariwisata dengan rumah, kondotel, lapangan golf, dan banyak lagi fasilitas lain ini memang mentereng. Dari bukit tinggi ini terlihat laut, pantai, Kuta, gunung, dan semua tempat di bawah sana. Tapi itu semua harus dibangun dengan menggusur ratusan petani yang tinggal di sana, termasuk Pak Rebho.

Minggu-minggu ini aku sedang baca buku Anak Semua Bangsa, novel kedua dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Dan, persis sebelum liputan tentang petani-petani di Pecatu, aku sedang baca bagian tentang Trunodongso, petani kecil di Sidoarjo yang menolak penggusuran oleh perusahaan gula milik Kompeni Belanda waktu itu. Jika Trunodongso harus melawan dengan parang, maka Rebho melawan dengan menolak menjual tanah miliknya. Karena perlawanan ini, Rebho harus masuk penjara dua kali.

Bertemu dengan Pak Rebho, aku seperti mengalami dejavu, seperti pernah pada situasi itu sebelumnya. Aku membandingkan Pak Rebho dan Trunodongso, sama-sama melawan penggusuran dari tanahnya sendiri atas nama pembangunan.

Pak Rebho tinggal persis di samping lapangan golf. Jaraknya tak lebih dari 5 meter. Tapi ada tembok setinggi 2 meter mengelilingi lapangan golf itu sekaligus untuk memisahkan petani-petani yang menolak menjual tanahnya demi pembangunan itu. Pak Rebho harus menjebol tembok itu untuk masuk ke bekas tanahnya tempat dia pernah membangun rumah dan sanggah. Tiap Pagerwesi dia masih ke pura di dalam sana untuk sembahyang.

Kami lalu jalan menuju puing-puing rumah dan sanggah yang udah hancur itu. Kami melewati lapangan golf yang memang indah. Di tanah itu, yang dikepung lapangan golf, masih ada dua puing sanggah. Satunya masih berdiri, satunya roboh rata dengan tanah. Seperti jadi saksi bisu kisah pilu petani yang tergusur oleh pariwisata.

“Pariwisata membuat orang-orang Bali menjual tanahnya sendiri untuk hura-hura lalu ketika miskin baru sadar bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Banyak teman saya yang begitu,” kata Rebho.

Di atas puing-puing sanggah itu kami melihat umbul-umbul warna-warni berkibar-kibar. Di sana, di lapangan golf itu, sedang berlangsung Turnamen Golf oleh Bali TV, stasiun TV yang selama ini gencar mengampanyekan apa yang disebut Ajeg Bali, upaya untuk mempertahankan identitas, budaya, agama, termasuk tanah Bali.

Bali TV dan semua media milik Kelompok Bali Post lainnya gencar mengampanyekan agar orang Bali tidak menjual tanahnya untuk pariwisata. Tapi hari ini aku melihat sendiri. Turnamen golf yang diadakan oleh mereka diadakan di lapangan yang dibangun di atas puing-puing sanggah orang Bali yang terusir dar tanah mereka sendiri.

Dan, aku percaya, ini bukan sebuah kebetulan..

8 Comments
  • Dek Didi
    March 23, 2008

    Nah lo! Kena lagi Bali Post dan kelompok medianya.
    Kan bukan hanya jurnalisme yang marketing. Ajeg Bali juga marketing bli. Yang begini2 ni perlu diungkap.
    Miris juga dengarnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    March 23, 2008

    sulit memaang menerapkan pembangunan berkelanjutan, seringkali memakan korban.
    siapa kuat, dia yang menang.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Sujaya
    March 23, 2008

    Sorry, Bung Anton, saya nyelonong di komentar. Saya mau bilang sorry karena baru bisa balas komen Bung di blog saya Desember 2007 lalu. Fasilitas Oggix di blog saya sempat bermasalah. Baru saya aktifkan lagi dan muncul komentar Bung Anton. Saya memang sangat ingin ikut nimbrung tulisan di Bale Bengong. Kalau memang hendak diambil dari POJOK BALI, boleh juga.
    Pokoknya, Mantap!

    ReplyReply

    [Reply]

  • eka
    March 24, 2008

    pariwisata memang bisa “mengubah” kehidupan banyak orang

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 25, 2008

    @ dek didi: ayo na’e diungkap. aku sing bani nok. 😀

    @ mohammad: ya, mas iqbal. kadang2 gak harus begitu kok. pembangunan tidak harus melenyapkan orang2 setempat. asal ada aturan dan penerapan yg jelas, menurutku orang2 kayak pak rebo ga harus disingkirkan.

    @ sujaya: siap, pak..

    @ eka: begitulah, pak dokter hewan. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ady gondronk
    March 25, 2008

    “Bali TV dan semua media milik Kelompok Bali Post lainnya gencar mengampanyekan agar orang Bali tidak menjual tanahnya untuk pariwisata.”

    nah kalo sudah seperti ini,mana AJEG BALI nya??
    yang ada malah ajeng Bali. (baca makan.red) 👿

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Wardana
    March 25, 2008

    mantap, ton!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nyoman Ribeka
    March 29, 2008

    hidup balipost. saya pecinta balipost lo bli hahahahaha … hidup ajeg bali. hidup bakso babi hahahahaha …

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *