Rapuhnya Bali di Balik Citranya

2 , , , Permalink 0
jaen-idup-dibali

Foto Putu Gunawan. Sumber Internet.

#JaenIdupdiBali membawa keriuhan pengguna Instagram di Bali.

Tagar alias tanda pagar itu berasal dari bahasa Bali Jaen Hidup di Bali. Artinya, nikmatnya tinggal di Bali. Tagar itu bener banget. Memang enak sih tinggal di Bali.

Ketika tagar #JaenIdupdiBali sedang ramai, beberapa netizen lain di Bali merespon dengan tagar berbeda 180 derajat, #KatosIdupdiBali. Makna tagar ini sebaliknya, susah hidup di Bali.

Jadi, mana yang benar: #JaenIdupdiBali atau #KatosIdupdiBali?

Keduanya benar. Tergantung siapa yang melihat, apa yang dilihat, dan untuk kepentingan apa.

Mereka yang bekerja di sektor pariwisata, pasti selalu menyajikan sisi Bali untuk mendukung bisnisnya. Bali. Indah. Damai. Harmonis. Eksotis. Fakta itu benar adanya. Bali memang indah dan damai.

Tapi, keindahan dan kedamaian itu tak hanya di Bali. Di daerah lain juga ada. Kemampuan memoles Bali yang membuat citra itu begitu kuat. Seolah-olah Bali hanyalah harmoni dan eksotisme.

Padahal, pulau ini tetaplah seperti serupa pulau lainnya. Kata orang Bali Rwa Bhineda, dua sisi yang saling melengkapi. Karena itulah, hanya merayakan tagar #JaenIdupdiBali akan berbahaya jika kemudian meniadakan fakta-fakta lain tentang rapuhnya pulau ini.

Saya sering menemukan fakta-fakta yang justru berlawanan dengan citra Bali sebagai pusat pariwisata. Terlalu banyak malah. Dan terus bertambah banyak saat ini.

Mungkin saya yang terlalu pesimis. Tapi, pulau ini seperti sedang menuju titik nadir. Jika tidak ada upaya serius, kekhawatiran itu sangat mungkin terjadi.

Hal paling kasat mata mungkin lingkungan. Dari hulu ke hilir, lingkungan Bali makin mengenaskan. Saya beruntung bisa menelisik ke pedalaman Bali. Melihat sendiri bagaimana pasir-pasir di kaki gunung dikeruk tanpa henti. Bagaimana racun-racun disebar atas nama intensifikasi pertanian.

Saya bertemu dengan petani yang mengeluh airnya kian habis meskipun sawahnya di hulu Bali. Ada pula pengelola sampah yang mengeluhkan tak pedulinya warga terhadap sampah-sampah mereka.

Soal sosial juga begitu. Ini terjadi terutama di kantong-kantong pariwisata atau tempat baru yang kian banyak dimiliki investor. Kepemilikan tanah beralih ke tangan pemodal. Sementara harga tanah kian mahal. Tak sedikit pula warga lokal yang bahkan tersingkir.

Banyak lagi kekhawatiran lain: kian pudarnya ciri khas Bali, suburnya kelompok preman, banyaknya kasus bunuh diri, dan lain-lain. Tak usahlah disebut satu per satu.

Namun, fakta-fakta getir tentang Bali seolah-olah ditutupi. Sekali lagi atas nama pariwisata. Atas nama citra.

Padahal, selama fakta-fakta itu disangkal, tak mungkin ada upaya untuk menyelesaikannya. Jika terus dipendam, dia hanya serupa api dalam sekam.

Jadi, masihkah jaen hidup di Bali?

2 Comments
  • gungws
    May 1, 2015

    klo menurut saya sih masih jaen, mas..
    pulang dari ngayah di banjar, beli bubur ayam + es gula Rp. 3000 disamping banjar, trus berangkat kerja, trus lembur dengan sekehe teruna-teruni mau bikin album musik.. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • domain mentions
    December 2, 2015

    Kalo meurut saya untuk mengetahui jaen atau tidak hidup di Bali, orang Bali harus berada di luar Bali dulu. dan Saya yang sudah 4 tahun meninggalkan Bali untuk sekolah melihat Bali tidak seindah yang di Bayangkan. Salam..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *