Racun Itu Kita Konsumsi Sehari-hari

Sejak sekitar April lalu, aku dan istri sepakat mengganti menu makanan sehari-hari. Selain kami makin mengurangi makan daging, terutama ayam pedaging yang penggemukannya disuntik testosteron itu, kami juga beralih ke produk organik.

Soal daging, sekali lagi terutama daging ayam broiler, salah satunya karena dipicu tayangan di TV tentang bagaimana peternakan ayam itu berlangsung dengan sangat sadis. Mulai dari pengeraman yang dilakukan mesin, lalu si bayi ayam langsung bertemu besi dan baja ketika lahir, penyuntikan terus menerus dengan testosteron agar ayamnya gemuk, sampai pembunuhan ayam yang lebih tepat disebut pembantaian.

Tayangan di TV itu sangat membekas. Sejak itu, kami langsung sepakat. Mari berusaha sebisa mungkin tidak mengonsumsi daging ayam broiler. Kami masih mengonsumsinya sekali-kali. Tapi sangat jarang.  Daging lain seperti sapi dan kambing masih kami nikmati. Tapi ini toh juga jarang sekali. Sebulan belum tentu sekali.

Sebagai pengganti kami lebih banyak mengonsumsi ikan laut, tahu, tempe, udang, dan telur sekali-kali.

Selain mengurangi daging ayam itu tadi, kami juga pelan-pelan beralih ke produk pertanian organik terutama sayur dan beras. Kalau sebelumnya kami membeli beras dan sayur dari kios tetangga, kini kami membeli produk tersebut dari petaninya.

Seperti halnya niat mengurangi daging, niat untuk mengonsumsi produk organik itu juga karena ada pemicunya. Selain tayangan video tentang bisnis zat kimia di bidang pertanian kami juga melihat sendiri bagaimana petani menyemprotkan pestisida ke sayur mayur.  Zat-zat kimia untuk membunuh hama itu menempel di tomat, bawang, cabe, dan seterusnya.

Lalu, racun yang mengendap di sayur itu kemudian berpindah ke tubuh kita meski kita telah memasaknya. Kita meracuni tubuh kita sendiri, sadar tidak sadar. Ngeri..

Maka, makin yakinlah kami untuk beralih ke produk pertanian organik. Bukan hanya lebih sehat, juga karena dengan begitu kami lebih menghargai alam..

3 Comments
  • wira
    August 31, 2009

    Menarik sekali, tapi sayang untuk saya dibutuhkan usaha yang ‘lebih’ untuk bisa menjalankan niat seperti ini. Keadaan kadang menyebabkan kita ‘terpaksa’ meracuni diri sendiri.

    **komen njlimet dan sok bijak 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • wowok
    August 31, 2009

    sayangnya kita udah gak dikasih pilihan buat makan makanan yang sehat kecuali ada duit lebih….
    apalagi iklan kq ngawur…barang dalam kemasan di tulis tanpa bahan pengawet…yo ora mungkin to…..

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    August 31, 2009

    Bagus juga ton. Tapi percuma kalau tetap dessert-nya sebatang rokok. Ya ndak? hehe!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *