Pursue It With My Eager Feet

7 Permalink 0
Ya, ya, ya. Baiklah. Ini waktunya kembali memperbarui blog setelah sekian lama aku kacangin tanpa tulisan asik. Masak hampir dua minggu isinya cuma kliping. Keliatan banget malesnya.

Baiklah. Sekadar menyimpan saja dua hal besar dua minggu terakhir.

Pertama soal sakit mata. Mulainya persis Kamis dua minggu lalu. Jadi sampai hari ini sudah dua minggu. Tapi mataku tak pulih juga. Awalnya dari Bani, yang ketularan anak tetangga, lalu menular ke aku. Awalnya hanya mata kiri. Sekitar seminggu lamanya baru mata kiri ini benar-benar sembuh. Eh, abis itu lalu ganti mata kanan.

Semula aku pikir tidak akan parah, ternyata memang begitulah. Mata merah, pedih, dan tentu saja belekan. Bikin males, juga malu.

Karena mata sakit itu pula, maka aku agak jarang online malam-malam, jadi tidak bisa ngeblog juga. Soale pas sudah di rumah pilih istirahat saja. Koran diabaikan. Buku cuma disimpan. Maunya biar mata cepet baikan. Ternyata tidak juga. Mata masih juga belekan.

Sakit mata ternyata bikin repot juga. Aku harus pakai kacamata. Pas hari pertama sakit mata kebetulan aku lagi liputan soal Imlek di Kuta. Dalam perjalanan ke Vihara Dharmayana, aku beli kacamata Ray Ban, tentu saja palsu, di pinggir jalan. Aku agak malas pakai kaca mata. Selalu bikin pusing. Tapi ya gimana lagi.

Seminggu kemudian aku baru ganti kacamata beneran. Yang sebelumnya kan bukan kaca mata, tapi plastik mata. Hehe..

Selain kaca mata, aku juga harus berobat. Malesku juga sama. Setelah gagal ke beberapa tempat, akhirnya Sabtu lalu aku ke Rumah Sakit Indera di depan GOR Ngurah Rai. Biaya berobat di sini murah meriah. Cuma Rp 10 ribu.

Tapi ada pengalaman tidak enak. Dokter mata di sini tidak asik buat konsultasi. Aku maunya tanya banyak soal mataku. Tapi dokter cantik itu sepertinya buru-buru mengusirku. Nada suaranya agak naik pas aku masih saja bertanya. Apa boleh buat. Aku cabut dengan perasaan tidak puas.

Jadinya juga males tuker resep. Rabu kemarin aku baru tebus obatnya. Mungkin karena ini mataku tak sembuh juga. Memang sih tidak separah sebelumnya, tapi masih merah dan agak perih sampai hari ini.

Hal lain selama dua minggu ini, atau malah tiga minggu ya, adalah soal upgrade my English. Ini resolusi yang selalu aku tulis tiap tahun, meski dalam hati. Improve my English capacity. So, this year also.

Bukan hanya untuk pekerjaan sehari-hari, tapi juga untuk meneruskan impian lama: berburu beasiswa..

Ketika baru lulus kuliah 2005 lalu, aku langsung rajin cari beasiswa. Agak terobsesi untuk belajar soal jurnalisme secara formal. Maka aku pun berburu beasiswa ini. Lolos tahap pertama di Ford Foundation. Tapi gagal di tahap selanjutnya. Setelah itu menikah, Bani lahir, dan konsentrasi di keluarga. Cita-cita dipendam saja dulu.

Tahun ini sepertinya waktu yang tepat untuk memulai lagi menggapai mimpi itu. Aku tidak mau menjadikan Bani dan keluarga sebagai kambing hitam terus. Kini waktunya kembali berburu.

Ah, tapi aku perlu amunisi. Kata salah satu suhuku, aku harus ikut tes International English Language Testing System (IELTS) dulu. Maka, aku pun mendaftar kursus intensif persiapan IELTS ini di Indonesia Australian Language Foundation (IALF). Biaya kursus intensif ini lumayan mahal, Rp 1 juta. Itu baru kursusnya. Untuk tesnya itu sendiri US$ 180 atau sekitar Rp 2,2 juta. Demi mimpi, aku harus membayarnya.

Dan, memang sudah jalanku yang mulus. Ternyata kantor tempat kerjaku part time punya anggaran untuk membiayai stafnya meningkatkan bahasa Inggris. Termasuk pula bagiku, pegawai separuh waktu, dan separuh hati, yang tak beres ini. Hehe..

Maka, aku pun tak perlu mengeluarkan duit sendiri untuk ikut kursus dan tes tersebut. Semua dibiayai kantor! Thank a bunch to my boss.. I really appreciate it.

Dua minggu penuh aku ikut kursus persiapan IELTS itu dari 15 sampai 30 Januari tiap pukul 7 sampai 9 malam. Liburnya hanya pas akhir pekan dan tanggal merah. Makanya pas sampai rumah ya langsung teler. Tepar..

How was the result? I don’t take the test it self yet. It will be by 21st February even i didn’t register yet.

So, by now, i take every endeavor for the test. Try some practices from the book. Familiarize me with any English things, such as magazine, newspaper, also novel. Sure, i read Lord of The Ring: Fellowship of the Ring right now.

As Bilbo Baggins sang when he will left Shire for rest in peace and quite in the mountain, now I’m pursuing the fellowship with my eager feet. Hopefully, everything will goes well..

No related content found.

7 Comments
  • Luigi
    February 6, 2009

    Gka pap amas.. when the going gets tough,. the tough gets going… saya pun mengalmai banyak lika-liku perjuangan hingga bisa mencapai pada posisi sekarang ini.. dan ini pun terus berjuang – life is a constant battle in which losing and winning is partof the game – but NOT quitting..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Oming
    February 6, 2009

    wah sekarang KK IELTS 1juta ya? waktu ming masih 700 ribu, tesnya US$100, hasil tes sih okeh, hasil beasiswanya yang gak okeh,hehehehe..
    anyway, Good Luck buat mas anton moga lulus, tapi kayaknya pasti lulus, dari tulisan-tulisannya keliatan kayaknya mas anton orangnya pinter..
    Mamernya juga moga pet sembuh..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ecko
    February 6, 2009

    Nice story, Bro.
    Salam kenal yah. Saya juga mahasiswa jurnalistik, tapi cuma D3 di Akademi Komunikasi Yogyakarta. Kalau beasiswa2 gitu harus lulus S1 dulu atau gimana ya? 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • MO
    February 7, 2009

    I told you years ago. we need to speak english fluently, improve it, speak and write in english..! to know the world out there..!

    now, there you go…! UK, rite?

    ReplyReply

    [Reply]

  • bukan winardi
    February 7, 2009

    buih jeg mantap gati bli anton nok 🙂

    keren – keren bli. gud lak dengan testing ne ya huehehehehe …

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    February 9, 2009

    ck ck ck…. Ternyata dalam tubuh Om Anton tersimpan perjuangan yang begitu besar untuk mencapai mimpinya. Saya jadi inget dengan si keriting ‘ikal’ Andrea Hirata. He…

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    February 13, 2009

    weleh, 3 paragraf terakhir jeg lempuyengan bacanya nok

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *