Puputan Badung Seabad Kemudian

1 No tags Permalink 0
Huh, akhirnya posting juga. Minggu ini banyak kerjaan. -Apa banyak kemalasan ya? :))- Intinya ga sempat posting meski ada beberapa hal yang pengen disimpan rapi di blog ini. But, ya karena kerjaan, ya karena malas itu tadi. Jadinya ga sempet nulis di blog. But, itu masih kesimpen rapi di memori. Mungkin nunggu mementum lagi. Hal2 itu misalnya soal khotbah Jumat yang masih juga fatalis, terlalu pasrah pada nasib. Seolah2 rajib beribadah sau2nya jalan keluar dari masalah. Juga soal kuis yang bikin manusia tambah keliatan serakah. Juga soal, eng ing eng, belajar bahasa Inggris secara otodidak.

Anyway, kali soal diskusi di Fakultas Sastra Unud kemarin. Persis hari ini seratus tahun lalu ada perang antara Belanda dan kerajaan Badung. Banyak yang menyebut perang ini sebagai Puputan, sesuatu yang puput, selesai, purna. Atau bisa juga berarti pertempuran besar-besaran.

Diskusi kemarin dalam rangka peluncuran buku Seabad Puputan Badung, Perspektif Belanda dan Bali. Editornya peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra. Mereka menghimpun sumber-sumber tentang Puputan Badung. Buku lumayan menarik meski tanpa kesimpulan apa pun.

Soal puputan Badung yang lebih menggelitik. Pada diskusi kemarin juga hadir Nyoman Wijaya, dosen sejarah Unud yang sedang membuat desertasi tentang ajeg Bali. Menariknya karena Wijaya benar2 mendekonstruksi pengertian Puputan Badung. Misalnya soal motivasi. Puputan Badung bagi Wijaya hanya kemauan kelompok elit ksatria melawan Belanda karena tak mau bayar denda. Istilah puputan pun kurang pas. Mungkin lebih pas perang begitu saja. Puputan hanya karena terpaksa. Raja Badung tak bisa menentukan pilihan lain lalu pasrah dengan perang habis2an. Cenderung fatalis.

Sebagai perang besar pun puputan Badung juga masih dipertanyakan sebagai sesuatu yang “mewakili” Bali. Saat perang, kerajaan Mengwi -yg sudah jadi bekas kerajaan- malah diam2 menysukuri hancurnya Badung. Lima belas tahun sebelumnya orang Badung juga menghancurkan Mengwi. Demikian pula kerajaan Tabanan, Bangli, Klungkung, dan Buleleng. Tak ada perlawanan sporadis dari seluruh rakyat Bali pada 20 September 1906 saat itu.

Seabad Puputan Badung, kini diperingati besar2an di Denpasar. Setahuku ada arak2an benda pusaka zaman kerajaan dulu. Menariknya ada pula pameran dagang. He.he. Inilah peringatan perlawanan terhadap penjajahan dengan menghadirkan penjajahan ekonomi.

Btw, kenapa perang selalu jadi momen peringatan ya? Kenapa bukan sesuatu yang sifatnya damai tapi menentukan masa depan yang jadi bahan renungan. Misalnya peringatan terbitnya buku Sutasoma atau apalah. Sejarah memang lebih dikenal karena perjalanannya yang berdarah-darah..

No related content found.

1 Comment
  • yoyok
    September 21, 2006

    sejarah ditulis oleh pemenang dan sayangnya pemenang dalam konteks ini adalah pemenang perang, bukan pemenang kemanusiaan atau lainnya

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *