Prat Prit Prat Prit Nodong Duit

16 Permalink 0
Ini cerita usang yang terus berulang. Aku sudah pernah membacanya di blog Suryawan soal ini. Juga, rasanya buanyak banget orang di Denpasar yang pernah mengalami. Maka dijamin ini isu yang basi banget. Tapi ya daripada hanya disimpan di kepala, lalu jeblug, kepalaku mbledos, jadi ya ditulis saja.

Pemicu tulisan ini adalah perilaku tukang parkir di depan Super Ekonomi (SE) Gatsu Denpasar.

Kemarin aku ambil duit di ATM SE Gatsu, yang memang tidak jauh dari rumahku. Ketika mau cabut, satu tukang parkir segera datang. Tapi bukannya menarik motorku atau sekadar membantu, dia hanya berdiri di belakang dengan peluit di mulutnya. Prit prit. Tanpa basa-basi dia menodongkan tangan. Meminta aku bayar parkir. Lalu, dengan santai dia nyelonong pergi tanpa memberi karcis parkir.

Inilah yang selalu bikin sebal. Apa sih susahnya melakukan sesuatu untuk orang yang parkir. Tidak hanya berdiri menunggu lalu menodongkan tangan padaku. Juga, apa sih salahnya ngasih karcis parkir itu ke orang yang habis bayar. Sebab, kalau tukang parkir tidak memberikan karcis itu padaku, bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan pembayaran itu.

Kadang aku memang kasihan juga dengan tukang parkir. Berdiri di panas-panas dengan pendapatan yang mungkin tidak seberapa. Dua tetanggaku di Subak Dalem adalah tukang parkir. Aku tahu keduanya secara ekonomi termasuk kurang. Tapi, kalau toh mereka memang kekurangan, bukan berarti dibenarkan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar?

No related content found.

16 Comments
  • imsuryawan
    May 21, 2008

    nah kan, serba salah juga bli! hehehehe… makanya saya pikir mesti dibuatin sistem yang setidaknya meminimalkan celahnya… Daripada makenyat-kenyatan sama tukang parkirnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    May 21, 2008

    bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan pembayaran itu?
    ————-
    caranya pake sistem preman, jatah2an tempat parkir lalu setor berapa persen ke supervisor preman nya 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • dap
    May 21, 2008

    Tukang parkir logikanya adalah membantu atau melayani perparkiran, artinya ada wilayah-wilayah tertentu yang memang perlu parkirnya diatur, misalnya daerah-daerah keramaian yang riskan terjadinya kesembrawutan parkir. Tempat-tempat yang sebetulnya tidak mungkin terjadinya kesembrawutan tersebut seharusnya tidak perlu ada tukang parkir, apalagi pungutan parkir. Namun pungutan parkir tidak lagi berbasis pelayanan tapi berbasis pungutan, sebagai bentuk eksploitasi masyarakat oleh penguasanya untuk memaksimalkan pendapatan asli daerah (PAD). ssssstttttt….. celakanya lagi dengerdenger dikelola preman! anjrit!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • aprilia gayatri
    May 22, 2008

    di kampus saya kalau lagi ada wisuda, lahan parkir beda tempat beda harga… tergantung jauh dekatnya ke gedung. paling dekat dengan gedung Rp. 15.000; agak jauh Rp. 10.000 dan jauh Rp.5.000
    ck ck ck… rejeki musiman… 😆

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    May 22, 2008

    saya juga sering ekk gini Om, cari parkir dewe, benerin posisi motor dewe, eh buntut2nya dimintain uang parkir ma si TuKir udah gitu karcisnya diembat pula nggak dikasi ke saya .. arghhhhh sebel ……..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    May 22, 2008

    cerita lama dan mungkin sudah trade mark di indonesia ini….
    pernah suatu hari temen saya dari amrik marah2 di mintain uang parkir ama pak tukir… di kiranya mau nodong…. abis bukannya bantuin malah sibuk SMS an…trus ujung2nya….. UANG NYA PAK…. 😳

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    May 22, 2008

    liat judulnya, kirain mau ngomongin “polisi cepek” yg di surabaya… hehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 22, 2008

    @ imsuryawan: bener, bli. kalo ada sistem yg lbh baik jg akan asik. misalnya bayar bulanan. jd akan lebih jelas ke mana duit mengalir, tidak ke kantong pribadi.

    @ devari: kira2 berani gak kalao yg parkir preman karibia. 😀

    @ dap: sepakat, dap. masak cuma narik ATM ditarik parkir jg. parah..

    @ aprilia: waaah, bs jadi lahan bisnis tuh. 😀

    @ arie: enaknya sih kita jg pura2 ga liat dia aja. :p

    @ ick: gila, trnyata orang amrik jg jd korban. 😀

    @ wira: iya ya. kali ini sama dg polisi cepek. bedanya di denpasar pake seragam. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    May 25, 2008

    Kalau saya sih sengaja memberikan karcis parkir ke mereka, eh ternyata manjur juga lho, mereka jadi mau bantu narik motor. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    May 25, 2008

    hmmm wah kalo ngurusin yang ini emang bikin bingung sama seperti anak gepeng yang di perempatan lampu merah. dikasih salah, gak dikasih kasian… c spasi de aja deh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 26, 2008

    @ imcw: tapi karcis kan diberikan kalau kita sudah bayar. lha ini udah suuh narik motor sendiri, eh, mrk baru datang. kalo mmg tukang parkirnya mmg niat kerja dg mmbantu kita, tentu kita jg dg suka rela mmberikannya. ya toh?:)

    @ ghozan: yoih. itu jg susah. ga dikasih, kasian. tp dikasih jg sama dg mendidik mrk trbiasa minta2. serba salah jdnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tonny
    May 28, 2008

    keterlaluan tuh tukang parkir. kalau saya.. ketemu tukang parkir yg seperti itu.. biasanya saya cuman angkat satu tangan sambil bilang “terima kasih”.

    😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • fenfen
    May 28, 2008

    kalo saya ga mau bayar kalo si jukir ga mau bantuin… trus kalo saya bayar, harus dapet karcis parkir. kalo ga, enak di dia dong, duit parkir saya ga disetorin ke PD Parkir, tp masuk kantongnya sendiri. iya kalo cm saya korbannya, saya yakin dalam 1 hari pendapatan pribadinya melebihi jumlah setorannya. itulah kenapa byk rakyat menengah ke bawah yang pengen jadi jukir…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 28, 2008

    @ tonny: waah, saya ga cukup PD, bli. takutnya besok2 langsung dgembosin banku. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 28, 2008

    @ fenfen: itulah susahnya jeng. sebenarnya kan kasian jg liat mereka. cuma kok ga enak jg kalo mereka kemudian jd kebiasaan utk nilep kecil2an.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Adi
    June 4, 2008

    Sy akan beri ongkos parkir kepada yang memang layak untuk diberikan, kalo cuman semenit atau dua menit sy pikir tidak perlu diberi, sy biasanya berucap “kejep gen pak!” sambil senyum. Atau kalo lagi pingin boong “binjep gen balik bin pak!” sambil senyum juga.

    Katagori yang layak diberikan : Parkir lebih dari 5 menit, memang tempat parkir umum, petugas pake seragam dan memegang tiket parkir, mau menolong angkat2 sambil main lepri, penuh senym dan rasa bersehabat.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *