Pesona Kota Tua yang Merana

4 , , , Permalink 0

Bangunan tua selalu memesona. Begitu pula di Kota Tua Jakarta.

Niat berkunjung ke Kota Tua, Jakarta sebenarnya sudah lama. Tak terhitung berapa kali ke Jakarta, tetap saja niat itu gagal. Maka, pekan lalu, setelah usai acara Klik Hati, aku langsung ke sana.

Dari tempat kegiatan di restoran Harum Manis Jl KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat perlu waktu sekitar 30 menit dengan bus Transjakarta ke Kota Tua. Kalau tak salah melewati 4-5 halte Transjakarta ini, termasuk Harmoni. Karena Kota Tua terletak di bagian paling ujung, jadi tak terlalu membingungkan termasuk bagi penakut di Jakarta seperti aku. Ketika busway sudah sampai di kawasan Stasiun Kota, maka tinggal turun dari bus. Sampailah aku di tempat tujuan yang sudah lama aku inginkan ini.

Dari halte, aku turun ke penghubung bawah tanah menuju arah Kota Tua. Ini mengingatkan penghubung sejenis yang biasanya ada di Eropa, seperti Belanda, Belgia, dan Perancis. Bisa jadi karena pembangunnya memang sama-sama orang Eropa.

Papan petunjuk dengan mudah ditemukan. Beberapa bangunan dengan gaya art deco di sini juga menjadi penanda sangat gampang. Saatnya menjelajahi lebih jauh suasana Kota Tua ini.

Kota Tua adalah asal mula Jakarta saat ini. Dia dibangun pada tahun 1600an oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena itu, bangunan-bangunan di sini sangat terasa karakter art deco-nya, seperti juga semua bangunan yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Bangunan-bangunan ini jadi pesona Kota Tua. Misalnya, Stasiun Jakarta Kota, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan puluhan bangunan tua lainnya. Dari sekian bangunan tersebut, Museum Sejarah Jakarta yang dikenal dengan nama Museum Fatahillah, bisa disebut sebagai pusatnya. Di depannya ada halaman seluas lapangan bola.

Di depan museum yang awalnya balaikota inilah warga, pengunjung maupun penjual jasa dan makanan, berkumpul. Dia jadi melting point. Penjaja ojek sepeda ontel bersanding dengan tukang tato temporer, penjual minuman, penjaja manisan, dan lain-lain.

Sayangnya, waktuku selama di sana tak lebih dari 2 jam. Jadi, tak banyak yang bisa dilihat. Hanya Museum Fatahillah yang terlihat memesona. Sebagian bangunan di sekitarnya terlihat agak kumuh. Bahkan ada yang sangat merana, bangunan di depan Museum Fatahillah. Dia terlihat merapuh dan mau ambruk.

Kota Tua tak terlalu terlihat sebagai daerah tujuan wisata yang dikelola dengan baik. Tak tahu siapa yang bertanggung jawab, tapi kawasan ini bisa jadi jauh lebih cantik dikelola dengan serius. Tak banyak informasi yang bisa diperoleh dari tempat ini sore itu.

Dari Kota Tua, aku coba berjalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Jaraknya sekitar 2 km. Menurutku, bangunan-bangunan di antara dua tempat ini sebenarnya juga menarik. Tapi ya itu tadi, tak terurus sehingga terlihat kumuh. Sampah-sampah juga berserakan di depannya.

Jalur antara Kota Tua menuju Pelabuhan Sunda Kelapa jelas tak ramah buat pejalan kaki. Tak ada trotoar nyaman, apalagi menyenangkan buat para pengguna jalan atau wisatawan. Kalau trotoarnya tak rusak, dia dijajah para pedagang kaki lima. Menyebalkan!

Paling ironis justru ketika melewati gedung departemen blablabla yang tak jelas karena papan namanya hancur. Selokan di depan departemen dengan nama belakang lingkungan ini justru bau banget. Benar-benar ironis karena di depan departemen dengan tulisan lingkungan.

Toh, setelah berjalan dengan penuh perjuangan, sampai juga aku di Pelabuhan Sunda Kelapa petang itu. Matahari sudah tenggelam. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Tapi, pekerja pelabuhan masih asik bekerja menambah hidup suasana pelabuhan. Mereka semua benar-benar asik buat pelancong singkat seperti aku.

Kota Tua, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan semua yang ada di kawasan ini sebenarnya asik banget untuk jalan-jalan. Pemerintah setempat dan para warga harus lebih serius menatanya agar lebih asik lagi untuk dinikmati.

4 Comments
  • Sakti Soediro
    June 30, 2011

    How cud such a lovely post like this has no comments yet? Love it so. Nice picture, nice writing 🙂

    Some people still don’t know the meaning of ‘You dont know what you got til its gone’ while some others still don’t realize that ‘history is a cyclic poem written by Time upon the memories of man on every building ever exist..’

    Artinya? saya nggak tau hihi. Yang jelas bangunan bersejarah itu keren, penanda masa dan budaya, saksi diam dari banyak cerita dimasa silam yang bisa diceritakannya kapan saja andai saja kita mau lebih peduli.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Sakti Soediro
    June 30, 2011

    Meh moderasi.. 😐

    ReplyReply

    [Reply]

  • Lukman Efendi
    July 12, 2011

    wah tulisannya keren sekali..
    jadi jurnalis…. “D

    and nice post 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Bukik
    August 12, 2011

    Hooooo aku gak diajak…….

    Iya, bangka kita sulit mengapresiasi apa yang ada
    Sukanya sirik dengan milik yang lain

    Tulisannya asyiiik

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *