Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman

5 , , , , Permalink 0
Baiklah. Mari kita mulai lagi menulis semua cerita. Meski bawaan liburan masih saja terasa, jadi ada alasan untuk males nulis, menulis toh tetep harus dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan menguap begitu saja.

Sebagai awalan, aku nulis soal mudik pas Lebaran kemarin saja. Pertama soal perjalanan saja dulu. Besok-besok lanjut soal kampung halaman, potensi ekonomi, petani garam, dan tradisi Kupatan.

Soal perjalanan pulang dulu. Untuk pertama kalinya, dengan sengaja, aku mudik setelah Lebaran. Persisnya H+1. Sebenarnya niat awal justru pas hari H saja. Sayangnya dapat tiket kereta api pas hari kedua Lebaran. Yowislah. Kami pilih hari ini biar perjalanan lebih sepi juga biar bisa ikut tradisi Kupatan, perayaan hari seminggu setelah Lebaran.

Dan benar saja. Pas pulang, perjalanan memang sangat lancar. Di Pelabuhan Gilimanuk, yang biasanya perlu waktu sampai tiga empat jam untuk nyebrang saat Lebaran, ternyata tak perlu ngantri semenit pun. Bis yang membawa kami ke Stasiun Ketapang itu langsung masuk kapal dengan suksesnya.

Dari Stasiun Ketapang, kami ganti naik kereta api. Kami pilih moda ini karena harganya lebih terjangkau dbanding bis. Kalau bis sampai Rp 200 ribu. Sedangkan kereta api sekitar Rp 223 ribu sudah untuk dua orang. Tiga, ding, termasuk Bani.

Tapi ya memang ada konsekuensinya. Naik kereta api tuh enaknya karena murah. Tempat duduk juga lebih luas. Kalau capek selama perjalanan bisa jalan-jalan di gerbong atau malah antar-gerbong. Kelas bisnis yang kami naiki lebih sepi dibanding Kelas Ekonomi. Jadi relatif lebih tenang dari “gangguan” pengamen, pedagang acung, dan seterusnya.

Tapi ada gangguan lain, suara kereta. Mih, ribut banget. Parahnya lagi tempat duduk kami ada di dekat sambungan antar-gerbong. Jadi suara itu sangat mengganggu.

Pilihan mudik saat pagi juga tidak asik. Selain karena bawaannya buru-buru, sejak pukul 3.30 harus siap-siap, juga karena perjalanan terasa sangat lama. Hampir tujuh jam perjalanan dari Ketapang (Banyuwangi) ke Stasiun Semut (Surabaya) itu kok kayaknya lamaaaaaa banget. Padahal kalau naik bis malam terasa lebih cepet.

Panjangnya perjalanan itu ditambah lagi ketika sudah sampai di Stasiun Semut Surabaya. Salah satu alasan turun di stasiun terakhir ini adalah biar cepet sampe di Terminal Wilangun Surabaya bagian utara. Eh, ternyata tidak juga.

Dari Stasiun kami harus naik becak ke JMP alias Jembatan Merah Plaza. Dari JMP cari angkot ke Wilangun. Jadinya ya lebih repot lagi.

Dari Wilangun, kami perlu dua jam ke Tanjung Kodok, Lamongan. Kurang ajarnya, di tengah jalan kami diturunin dari bis pertama. Padahal kami sudah bayar di depan dan bilang tujuan terakhir adalah Terminal Tanjung Kodok. Tapi karena penumpangg di bis itu tinggal lima, termasuk kami bertiga, maka bis tidak mau melanjutkan perjalanan. Kami dioper ke bis lainnya. Wedus!!

Sampai Tanjung Kodok, kami baru nunggu jemputan ke rumah. Kali ini sepeda motor.

Walhasil, dari rumah di Denpasar sampai rumah di Lamongan, kami sampai naik turun setidaknya sembilan kali: (1) mobil dari rumah ke Ubung, (2) bis sampai Gilimanuk, (3) kapal nyebrang ke Ketapang, (4) kereta api sampai Stasiun Semut, (5) becak sampai JMP, (6) angkutan kota (lyn) sampai Wilangun, (7) bis pertama dari Wilangun, (8) bis kedua sampai Tanjung Kodok, dan (9) motor sampai rumah.

Yowislah. Risiko orang miskin ya memang melarat begini, termasuk saat mudik Lebaran.

5 Comments
  • sherly
    October 15, 2008

    bisnya ga sopan buanget rekkk!!! nurunin orang di tengah jalan, wedus tenan!

    ReplyReply

    [Reply]

  • pande ndak baik
    October 15, 2008

    Sepertinya Om AnTon masih JetLag dengan perjalanan mudiknya…. Lama gak muncul. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    October 15, 2008

    Walhasil, dari rumah di Denpasar sampai rumah di Lamongan, kami sampai naik turun setidaknya sembilan kali: (1) mobil dari rumah ke Ubung, (2) bis sampai Gilimanuk, (3) kapal nyebrang ke Ketapang, (4) kereta api sampai Stasiun Semut, (5) becak sampai JMP, (6) angkutan kota (lyn) sampai Wilangun, (7) bis pertama dari Wilangun, (8) bis kedua sampai Tanjung Kodok, dan (9) motor sampai rumah.

    *kok kayak jejak petualang yah? 😆

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    October 16, 2008

    Asik ya, punya cerita. Aku pengen tahu reaksinya lode gimana ton ? Hehehehe. Punya cerita romantis gak selama perjalanan. Misal, bilang i love you ketika kereta apinya melintasi jembatan. Hahaha, dijamin lode nggak akan dengar.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Kusmawan
    October 17, 2008

    Wah perjalanan yang melelahkan

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *