Perempuan Terbaik yang Pergi Itu

11 , Permalink 0

IMG_6358

Husnul Khotimah adalah salah satu perempuan terbaik bagiku.

Ketika aku masih SMP, atau malah SD, dia sudah mengajari tentang tak adilnya pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan, katanya, lebih sering hanya jadi pembantu di rumah tangga. Di sisi lain laki-laki lebih banyak menuntut.

“Maka, kamu harus bisa juga mengerjakan pekerjaan perempuan,” ujarnya padaku, adik laki-lakinya.

Aku kemudian terbiasa mengerjakan pekerjaan domestik. Menyapu rumah. Menyuci baju. Membersihkan piring, gelas, dan semacamnya. Selain karena aku harus mandiri meski tinggal bersama orang tua juga karena aku sepakat dengan apa yang disampaikannya, ketidakadilan itu sering kali dimulai dari wilayah terdekat kita. Rumah tangga adalah salah satunya..

Di kemudian hari. Aku baru tahu inilah yang disebut kesetaraan gender. Bahwa laki-laki dan perempuan tidaklah harus dibedakan hanya karena pekerjaan. Keduanya bisa melakukan hal yang sama.

Kini aku masih merasakan apa yang dia pernah katakan sekitar 20 tahun lalu. Rumahnya selalu jadi tempat istirahat yang nyaman. Tiap kali aku pulang ke Lamongan, rumahnya yang kecil itu selalu jadi tempat menenangkan untuk singgah. Bukan hanya karena rumah yang rapi tapi juga kedamaian dari pemiliknya. Aku bisa merasakannya..

Di rumah itu pula aku tak pernah melewatkan masakannya. Masakan Yuk Tim, panggilan semua adik-adik termasuk aku padanya, terlalu nikmat untuk dilewatkan.

Inilah salah satu alasan lain kenapa dialah salah satu perempuan terbaik bagiku. Dia jago masak. Tiap kali mudik ke Mencorek, desa kami di kawasan pesisir Lamongan, masakan Yuk Tim adalah salah satu menu yang wajib kami nikmati. Sayur lodeh, garang asem, pepes bandeng, atau apa pun itu menu rumahan lain di tangannya akan terasa nikmat.

Saking enaknya itu aku pernah memintanya untuk membuat warung makan saja. Tapi dia memilih tetap jadi guru ngaji di salah satu Tempat Pendidikan Alquran (TPA) di Sedayulawas, desa tempat dia tinggal.

Menjadi guru memang seperti sudah jadi pilihan hidupnya. Dia pernah jadi guru TK. Aku pernah jadi salah satu muridnya. Namun yang paling lama memang ketika dia jadi guru di TPA. Aku merasakan dia punya kebanggan di pekerjaan ini. Bukan hanya soal kegiatan ini sebagai sebuah pekerjaan, tapi juga pengabdian.

Maka, meski pendapatan sebagai guru ngaji itu pas-pasan, setidaknya bagiku, dia tetap bertahan. Dia menghidupi keluarga, dua ponakanku Nova dan Zaki, bersama Cak Lis suaminya yang aku tahu pendapatannya bekerja di tempat pelabuhan ikan juga tak seberapa.

Menjadi guru ngaji tidaklah membuatnya bersikap puritan, meski secara fisik mungkin terlihat demikian. Dia sering menggunakan jilbab yang menutupi pundak, bukan jilbab gaul yang dipakai anak sekolahan. Dia juga selalu memakai gaun panjang. Tapi sekali lagi, dia jauh dari sikap konservatif. Dia sangat demokratis.

Dia pernah bercerita bagaimana dia menolak ajakan teman-temannya untuk gabung dalam kelompok pengajian eksklusif ketika masih tinggal Jakarta. Atau bagaimana dia menasehati suaminya agar beribadah “biasa” saja, tidak harus berlebih-lebihan. Bagiku, sikap itu sangat menyenangkan.

Berbincang dengannya tentang agama tidak pernah membuatku merasa sebagai pendosa. Bahwa kebenaran itu tetap tergantung pada siapa yang bicara. Maka kami sama-sama membenci orang yang paling merasa benar apalagi mengkafirkan orang lain hanya karena perbedaan keyakinan. Karena itu, dia tetap jadi salah satu orang terbaik dalam hidupku.

Kami mulai jarang bertemu ketika aku masih SMP. Dia tinggal di Jakarta dan Bekasi saat itu. Ketika dia kembali ke Lamongan, aku yang kemudian ke Bali untuk kuliah dan tinggal di sini sampai saat ini.

Pertemuan kami bisa dihitung dengan jari. Paling hanya saat mudik Lebaran atau sesekali aku pulang kampung. Tapi kami masih sering berhubungan, setidaknya lewat telepon.

Perbincangan kami terakhir kali pada Senin awal pekan lalu. Saat itu aku menelpon untuk tanya tentang Zaki, ponakanku yang akan mondok di Tenggulun. Aku tidak terlalu setuju kalau ponakanku mondok. Apalagi ini di pondok yang kadung dicap beraliran keras.

Yuk Tim sendiri tidak terlalu setuju. Tapi karena ini adalah pilihan Zaki sendiri, maka kami tak berhak melarangnya. Kami hanya menasehati dia. Silakan belajar apa pun. Tapi tidak usah menganggap diri paling benar lalu menyalahkan orang lain apalagi sampai membenci orang hanya karena perbedaaan keyakinan. “Ingat, keluarga kita ini demokratis. Tidak ada yang berhak melarang satu sama lain,” kurang lebih begitu nasehatnya.

Setelah telepon sekitar seminggu lalu itu, aku tak menelponnya lagi. Hingga sebuah kabar datang mengagetkanku. Yuk Tim kejang-kejang, muntah-muntah, dan pingsan..

Kejadian itu berawal dari kandungannya yang semakin tua. Bulan ini, menurut bidan, adalah bulan kelahiran anak ketiganya tersebut. Dari gejalanya, aku menduga Yuk Tim keracunan air ketuban. Sebab dia sempat jatuh ketika kejang-kejang.

Dia segera dibawa ke Puskesmas untuk kemudian dirujuk ke Rumah Sakit swasta di Tuban, berjarak sekitar 25 km dari rumahnya. Sampai di rumah sakit, bayinya lahir normal. Namun tak berumur lama. Bayi itu pun meninggal.

Mendengar kabar bayi belum bernama itu meninggal, diam-diam, aku lega. Sebab biasanya kalau bayi sudah meninggal, ibunya akan tertolong. Apalagi setelah itu keadaan Yuk Tim juga membaik. Dia makin sadar dan bisa diajak berkomunikasi.

Tapi sebuah kabar mengagetkan kembali datang pada Minggu siang. Yuk Tim kritis. Maka kami semua, saudaranya yang jauh dari rumah, harus segera pulang. Aku di Bali. Kak Alhan di Jakarta. Kak Hid di Riau. Kami semua sepakat pulang sore itu juga. Aku ikut penerbangan pertama yang aku dapat sore itu, pukul 18.20 Wita.

Minggu malam aku tiba di Surabaya. Yuk Tim yang semakin kritis sudah dirujuk ke rumah sakit terbesar di Jawa Timur, RSUD dr Soetomo.

Aku menemuinya di ruang Resusitasi. Kakinya dingin. Pucat. Dia terbaring dengan bantuan pernafasan di mulutnya. Lebih dari lima dokter menanganinya. “Harapannya kecil,” jawab salah satu dokter yang aku tanya tentang bagaimana kondisinya.

Ternyata benar. Aku tak tak pernah bisa lagi berbincang dengannya. Aku hanya bisa bertemu dengan sekitar 10 menit. Itu pun dia sudah tidak sadar. Setelah itu, denyut nadi dan nafasnya semakin hilang. Lalu, dia pergi untuk selamanya.

Seperti namanya, aku yakin, kakak perempuan terbaik kami itu pergi dalam keadaan Husnul Khotimah..

11 Comments
  • PanDe Baik
    July 31, 2009

    Dear Anton. Turut Berduka dari Pande sekeluarga. Semoga Amal Ibadah Beliau mampu diteruskan oleh adik-adiknya kelak. Manusia terbaik biasanya selalu disayang oleh-NYA…

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 31, 2009

    Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk Pak Anton sekeluarga besar, semoga keluarga yang ditinggalkan bisa tabah..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cadink
    July 31, 2009

    Turut berduka cita..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    August 1, 2009

    Masih terngiang betul ucapan teraKhir ketika dia masih bisa berucap sempurna, rabo siang 22 Juli 2009, ketika aku meminta doa untuk ujian skripsiku, 23 Juli, dia bilang dengan bangga bahwa dia akan selalu mendukung semua saudaranya. Dia bertutur, betapa bangganya dia dengan keluarga yang kita miliki sekarang. Satu sama lain saling melengkapi, saling memberi support, saling bahu membahu. Masih terngiang seKali kata-kata itu. Mungkin itulah pesan, bahwa kita harus selalu bisa melengkapi satu sama lain, sebagai saudara yang dia banggakan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    August 1, 2009

    Wah, aku ikut sedih ya Ton.

    Tapi, keracunan air ketuban itu maksudnya bagaimana? Ada yang bisa jelasin ndak? Maklum, calon suami nih.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • gede_adhy
    August 4, 2009

    Turut berduka cita Um dan saya pikir pasti Um bangga punya kakak demikian

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekabelog
    August 4, 2009

    Turut Berduka Cita…

    jadi ingat sama Sahabat ku yang belum lama ini juga meninggalkan saya….

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ridlon
    August 13, 2009

    “Usia manusia adalah bagaimana dia akan selalu terkenang (karena budi pekertinya), bukan karena lamanya dia hidup” (Ahmad Syauqi)
    kebaikan pekertinya akan membuatnya selalu ada bersama kita… semoga Allah menerima segala amal ibadah dan menghapus segla dosa. amin

    ReplyReply

    [Reply]

  • R-wati
    August 25, 2009

    turut bela sungkawa yang sedalam-dalamnya….
    membaca blogmu kayaknya aku kenal dengan kakakmu… tapi, sampai saat ini aku masih meraba-raba, coz aku juga punya teman sekolah waktu masih duduk di MTs Muhammadiyah Sedayulawas

    ReplyReply

    [Reply]

  • Gentry Amalo
    August 29, 2009

    aaah.. maafkan aku terlalu lama melanglang buana pada dunia maya nun jauh disana, hingga aku terlambat mengetahui jika dirimu berduka, turut berduka untuk mu ton,.. semua memang harus terjadi jika memang waktuNYA sudah tiba.
    Kadang perpisahan dan kepergian seseorang yang kita hormati menjadi begitu pedih serta menyedihkan, karena banyak hal yang belum bisa kita penuhi untuk dijalani bersama orang yang kita sayangi itu.
    Tapi dibalik kepergian orang yang kita sayangi justru mendatangkan banyak kenangan manis kita terhadap orang itu.
    Semoga mbak mu bahagia di rumah barunya karena sudah bertemu dan berkumpul bersama sang Pencipta, Ameen..

    ReplyReply

    [Reply]

  • nupha auzzora
    January 26, 2011

    bunda memang yg terbaik yg pernah ada

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *