Penyeragaman Budaya Lewat Makanan

5 , , , , Permalink 0
Perjalananku ke Mamasa kali ini adalah untuk liputan tentang kedaulatan pangan di kabupaten di Sulawesi Barat ini. Peni, teman program officer VECO Indonesia di Mamasa, bercerita bahwa di kabupaten yang baru terbentuk pada 2002 ini ada Forum Pangan Daerah. Kabupatean ini juga mulai mengembalikan pangan lokal, ubi dan umbi-umbian.

Maka, aku pikir menarik juga kalau menjadikan cerita di Mamasa ini sebagai salah satu bahan tulisan di LONTAR, media internal VECO Indonesia, tempatku kerja part time. Aku pun ke sini sama dua teman, Peni dan Anna, manajer publikasi VECO Indonesia.

Mamasa berada di semacam lembah yang terkurung bukit. Karakter geografisnya sama dengan Ngada di Flores, Nusa Tenggara Timur. Lokasinya juga lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Suhunya dingin. Luasnya kotanya sak iprit. Rasanya kok sama saja dengan Mencorek, desaku di Lamongan.

Kabupaten terdekat dari Mamasa adalah Polewali. Jaraknya sekitar 90 km. Namun karena rusaknya jalan penghubung antar kabupaten ini, maka perlu waktu 4 – 5 jam dari Polewali ke Mamasa.

Sebagian besar penduduk Mamasa hidup dari pertanian. Maka, pendapatan asli daerah (PAD) terbesar kabupaten ini pun dari pertanian. Ironisnya, meski hidup dari pertanian, bahan pangan di kabupaten ini justru didatangkan dari kabupaten lain seperti Polewali, Pinrang, Malino, Toraja, dan Enrekang.

Selasa (9/2) kemarin kami berkunjung ke Desa Minake, Kecamatan Balla. Perjalanan sekitar 1 jam dari kota Mamasa ke arah barat. Desa ini menarik ditulis karena petani setempat mulai menanam kembali ubi-ubian, setelah sebelumnya hanya menanam padi.

Padi ini memang banyak jadi cerita klasik tentang penyeragaman makanan, begitu pula di daerah ini.

Sejak zaman bahuela, warga Mamasa sebenarnya biasa makan ubi sebagai makanan pokok. Ubi jalar ataupun ubi kayu biasa untuk sarapan. Kalau siang dan malam mereka baru makan nasi.

Mulai sekitar 1982, Revolusi Hijau pun masuk desa ini, bahkan seluruh Mamasa. Ini cerita klasik tentang kambing hitam bernama Revolusi Hijau yang menyeragamkan tanaman petani di Indonesia. Aku agak males nyebut karena selalu saja dia disebut sebagai penyebab hilangnya budaya pertanian lokal di berbagai tempat. Tapi memang begitu faktanya. Termasuk pula di Mamasa ini.

Revolusi Hijau itu berawal dari ambisi para ilmuwan dan teknokrat untuk mendapatkan hasil pertanian sebanyak-banyaknya. Mereka pun membuat berbagai teknologi entah bibit, sistem produksi, dan seterusnya untuk mengejar produksi setinggi mungkin.

Pada padi, lahirlah berbagai varietas baru yang dikembangkan di Jawa namun kemudian dipaksa secara langsung ataupun tidak di banyak tempat di Indonesia. Di Mamasa, padi jenis lokal harus digantikan jenis Semeru, Pelita, Bengawan Solo, dan semacamnya yang semuanya sangat jawasentris.

Padi baru ini ditanam dua kali tiap tahun. Panennya juga lebih banyak. Tentu saja dengan input luar sangat banyak: bibit, pupuk, dan pestisida.

Karena padi bisa panen dua kali tiap tahun, lama-lama petani pun terpaksa makan nasi terus. Ubi makin terpinggirkan. Lama-lama, makan ubi jadi identik dengan kemiskinan. Larinya kemudian pada gengsi. Makan nasi berarti menaikkan gengsi. Inilah penyeragaman budaya lewat makanan itu.

Tapi Revolusi Hijau itu bagus di awal. Jangka panjangnya merusak lingkungan akibat tanah terlalu dipaksa menghasilkan. Ketika petani lokal masih menanam padi lokal, tanah mereka sempat untuk beristirahat. Sekarang tidak. Ketika kesuburan belum kembali, tanah itu harus dipaksa memberi makan padi lagi. Lama-lama produksi turun.

Ketika mereka sudah kadung tergantung sama nasi, produksinya justru turun. Mau tidak mau ya mengambil dari daerah lain.

Sejak akhir 2008 lalu petani setempat mulai membentuk Forum Pangan Daerah (FPD), yang difasilitasi Yayasan Duta Pelayananan Masyarakat (YPDM) Mamasa. Mitra VECO Indonesia ini pula yang mengajak kembali agar petani setempat menanam kembali ubi-ubian.

Langkah ini baru diambil. Masih terlalu awal untuk tahu bagaimana keberhasilannya. Tapi setidaknya mereka sudah menentukan langkah. Mengembalikan pangan lokal yang sempat dilupakan itu..

5 Comments
  • Mo
    February 11, 2009

    SALAM sekarang jadi LONTAR, ya? Eh, apa sister media?

    ReplyReply

    [Reply]

  • tulank
    February 11, 2009

    Di Bali mungkin sudah sedikit bergeser dimana padi bukan lagi penghasil beras tetapi lebih kepada tanaman hias untuk pemandangan saat para turis menikmati makan siangnya..

    ReplyReply

    [Reply]

  • dendin
    February 11, 2009

    mas anton jalan jalan terus ya postingan nya bagus

    ReplyReply

    [Reply]

  • Luigi
    February 12, 2009

    Mas Anton, kayaknyakampanye pertanian harus dimulai nih – agar kita gak perlu impor beras lagi…tanaman hias bisa nomer dua… 😉

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    February 12, 2009

    Ada gak sih yang kampanye melalui tulisan di media untuk mengangkat citra umbi umbian dkk untuk menyaingi beras?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *