Penyelundup Bajakan di Pintu Perbatasan

1 , Permalink 0

Penjaga perbatasan itu berteriak ke kami.

“Woi,” teriak mereka dari jarak sekitar 10 meter dari tempat kami berdiri. Mereka lalu mengibas-ibaskan tangan menyuruh kami pergi. Cuma itu tindakan mereka tapi cukup membuat kami jiper juga.

Bahasa tubuh mereka jelas memerintah, “Jangan motret. Pergi dari situ!” Pelan-pelan aku turunkan kamera dan memasukkannya ke tas. Ngeri juga melihat para penjaga perbatasan tersebut.

Sore itu, pada hari ketiga di Vietnam (4/10), aku mengunjungi Lang Son, provinsi di bagian utara Vietnam. Ketika tahu dari teman di sini bahwa provinsi ini berbatasan dengan China, aku langsung merengek, “Kita harus main ke perbatasan Vietnam – China.”

Jadwal pekerjaan sore itu mendukung. Agendanya cuma satu, diskusi dengan staf VECO Vietnam tentang program di sana. Maka, kami pun mengajaknya sekalian ke perbatasan. Kami berdiskusi di mobil dan dilanjut ketika sudah tiba di perbatasan.

Selebihnya kami jalan-jalan melihat pos penjagaan perbatasan kedua negara dan pasar di sini.

Ada beberapa pos perbatasan China – Vietnam. Namun, pos perbatasan Lang Son ini yang paling ramai dan sibuk. Jaraknya sekitar 30 km dari Lang Son, nama provinsi sekaligus ibukota provinsi ini. Dari Hanoi, ibu kota Vietnam, sekitar 200 km dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Namun, karena aku dan dua teman melanjutkan perjalanan ke Lang Son dari Viet Tri, perjalanan makan waktu selama sekitar 5 jam.

Meski lama, perjalanan ke Lang Son ini asyik banget. Selain karena jalan yang mulus dan lurus, layaknya semua jalan antar-provinsi di negeri ini, pemandangan juga keren. Salah satu bagian yang aku suka adalah ketika melewati pegunungan dengan lansekap naik turun serupa grafik. Lokasi pegunungan ini sekitar 1 jam sebelum tiba Lang Son.

Bajakan
Tapi, bagian paling menarik dari Lang Son adalah perbatasan dengan China tersebut selain juga… bebek panggang!

Pos perbatasan di Dong Dang, Lang Son dan Pingxang, China ini sekitar 30 menit dari Kota Lang Son. Lokasi ini dikelilingi pegunungan. Dia menjadi semacam lembah. Wajah kontras terasa ketika membandingkan antara Vietnam dengan China yang terlihat dari sekitar 200 meter dari tempat kami berdiri ketika kami dibentak petugas penjaga.

Di depan sana ada bangunan megah. Kata teman dari Vietnam sih itu kantor imigrasi China. Aku lihat ada tulisan bahwa bangunan tersebut hotel. Ada pula tulisan dalam Bahasa China yang tak aku mengerti. Tidak juga oleh teman-teman dari Vietnam yang datang bersamaku.

Sebenarnya aku sangat ingin menyeberang sedikit saja ke tanah China. Biar tahu saja bagaimana rasanya. Atau paling tidak ya foto-foto narsis di sana. Hehehe. Tapi, apa daya para penjaga di sana galak-galak. Baru ngeliatnya saja sudah ngeri. Aku kubur saja niat itu.

Kami kemudian main ke pasar di sana. Karena lokasinya yang persis di perbatasan dengan China ini, maka pasar di Lang Son penuh dengan barang dari China. Pakaian, peralatan rumah tangga, alat elektronik, telepon, bahkan celana dalam. Menurut pedagang di sana, semua barang di sana berasal dari China.

Musibah
Salah satu barang dagangan yang menarik bagiku adalah telepon seluler. Pedagang di sini menjual aneka rupa ponsel pintar seperti Samsung, iPhone, dan seterusnya. Seri terbaru dari masing-masing ponsel pintar pun ada. Harganya berkisar ratusan ribu dong.

Secara fisik, ponsel bajakan tersebut sangat mirip aslinya. Namun, begitu dibuka programnya, barulah ketahuan kalau ponsel pintar tersebut bajakan. Layar sangat kasar dan ikon aplikasi susah digerakkan.

Banyaknya pembajakan di Lang Son ini bisa jadi berkah sekaligus musibah bagi warga setempat. Berkah ya karena warga bisa membeli barang-barang bajakan dengan harga murah. Tapi ya musibah bagi produsen aslinya.

Ada pula berkah lain bagi Lang Son karena lokasinya yang di perbatasan, kota ini salah satu kota subur bagi penyelundup. Ketika kembali dari pos perbatasan, kami bertemu belasan pengendara sepeda motor dengan barang bawaan di belakang yang tertutup kain gelap. Mereka mengendarai sepeda motornya di antara riuhnya jalanan penyambung Vietnam dan China ini.

“Oh, itu para penyelundup barang dari China,” kata temanku yang aku tanya. Para penyelundup ini membeli barang di China untuk kemudian dijual di Vietnam. Mereka bawa sepeda motor karena lebih mudah jika ketahuan.

“Tinggal buang barangnya dan tak ada bukti sama sekali. Aman dari kejaran polisi,” tambah temanku.

Lalu, sepanjang jalan pulang itu pula aku lihat orang-orang di pinggir jalan sibuk bertransaksi dengan para penyelundup tersebut. Serupa orang jual beli barang kaki lima kalau di Bali. Harga lebih murah meski risikonya lebih besar. Toh, semua berjalan di depan mata. Terbuka..

1 Comment
  • maia
    October 21, 2012

    asiknya yang jalan-jalan ke luar negeri

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *