Patung-patung Tua yang Bercerita

2 , , , , Permalink 0

Godfrey of Bouil

Semula aku hanya berniat melihat Manneken Pis, patung anak kecil sedang kencing ikon Belgia. Ternyata aku malah menemukan banyak patung lain di antara menawannya lansekap ibukotanya, Brussels.

Tak banyak yang aku persiapkan ketika berencana berkunjung ke Brussels, Belgia. Aku hanya berniat mampir tak lebih dari setengah hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Leuven, kota berjarak sekitar 30 km dari Brussels.

Tujuan utamaku ke Belgia memang bukan untuk jalan-jalan tapi berkunjung ke kantor pusat Vredeseilanden, lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Leuven. Lembaga ini memiliki kantor regional di tujuh negara termasuk VECO Indonesia, tempatku kerja paruh waktu.

Tapi, waktu setengah hari, persisnya malah hanya lima jam itu jelas kurang. Aku seharusnya menyiapkan waktu lebih lama untuk mengenali Brussels dengan segala pesonanya. Kota ini punya banyak tempat menarik. Terima kasih untuk Asmayani Kusrini, teman semasa kerja di GATRA yang kini menetap di Brussels, yang telah menunjukkan betapa menariknya kota ini.

Menikmati Grand Palace saja jelas tak cukup kalau hanya lima jam. Selain Town Hall dengan bangunan gothicnya, kawasan ini juga mempunyai hal-hal unik yang menarik untuk diketahui lebih dalam.

Salah satunya adalah patung Everard ‘t Serclaes, penguasa Brussels yang mati pada zaman perang tahun 1300an. Patung dari kuningan dengan posisi berbaring ini ada di salah satu sisi dinding restoran L’ Ommegang di sebelah Town Hall. Ekspresi patung ini seperti menahan luka.

Orang-orang berhenti sejenak, termasuk aku, untuk melihat kepiluan wajah di patung ini. Tak sedikit orang lewat yang mengusap patung ini dengan urutan yang sama mulai dari wajah, tubuh, kaki, lalu dua patung kecil lain di atasnya. Ritual ini sekaligus doa agar mereka beruntung.

Dari patung ini, aku menuju patung lain yang jadi ikon Belgia. Namanya Manneken Pis. Ini patung anak kecil, umurnya mungkin dua tahun, sedang kencing sambil memegang penis. Patung dari tembaga ini tingginya tak sampai 50 cm. Tapi patung ini jadi salah satu tujuan utama wisatawan di Brussels. Bagiku sih patung ini tak ada istimewanya selain populernya.

Manneken Pis

Ketika aku di sana, puluhan turis sedang berfoto ria dengan latar belakang Manneken Pis di belakangnya. Toko-toko di sekitar lokasi patung ini juga menjual aneka barang kenangan seperti gantungan kunci, kaos, coklat, pulpen, dan souvenir lain yang menggunakan patung anak kecil melalung ini sebagai objeknya.

Legenda tentang Manneken Pis ini beragam. Ada sebagian orang bilang bahwa pada masa Perang Eropa tahun 1100an, ada anak kecil mengencingi pasukan penjajah sehingga pasukan itu kalah. Ada yang bilang patung anak kecil ini adalah anak tukang pedagang yang hilang. Ada dua versi lainnya menurut Wikipedia. Tak jelas mana yang benar. Yang jelas patung anak kecil ini sudah kadung jadi legenda dan dikenal oleh semua wisatawan.

Tak hanya melihat Manneken Pis, aku juga melihat patung lainnya, Jeanneken Pis, yang tak kalah lucunya. Kalau Manneken Pis sudah tenar sebagai salah satu tujuan pariwisata bagi turis di Brussels, maka Jeanneke Pis, perempuan anak perempuan sedang kencing itu, tak banyak yang mengunjunginya. Dia berada di gang sepi dari turis.

Kalau Manneken Pis sudah dibuat sejak tahun 1300an, maka patung Janneke Pis baru dibuat pada tahun 1985 untuk tujuan menggalang dana bantuan bagi pengobatan kanker. Di bawah patung ini ada tulisan yang isinya kurang lebih begini. Ngguyuo ning ojo lali karo wong sing loro. 🙂

Dari patung Jeanneke Pis, aku menuju tempat lain. Kalau di tempat lain bersama Rini, kini aku sendiri. Rini pulang bersama Liv, anak perempuannya yang belum genap berumur satu tahun. Rini, teman yang sekaligus pemandu jalan (Hehe), memberikan sedikit panduan untuk jalan-jalan di sisa waktu itu.

Dari sekitar kawasan Grand Palace, aku menuju Royal Square. Jaraknya tak sampai 1 km. Di jalan menuju Royal Square ini masih ada beberapa patung lain. Salah satu patung yang menarik bagiku adalah Godfrey of Bouillon, persis di gereja Saint Jacques-sur-Coudenberg.

Patung ini terlihat begitu gagah dengan bendera di tangan kiri dan kuda mengangkat kaki depan. Godfrey of Bouillon adalah pemimpin pasukan pada zaman Perang Salib. Dia menjadi raja pertama Jerussalem yang berhasil ditaklukkannya.

Karena posisi Royal Square yang lebih tinggi dibanding kawasan lainnya, dari tempat patung ini terlihat lansekap Brussels membentang petang itu. Sangat menawan.

Melihat lansekap Brussels petang itu dari patung Godfrey of Bouillon aku berpikir, begitulah mungkin setiap kota atau bahkan kebudayaan dibangun: dengan perang dan penaklukan.

2 Comments
  • Anita
    May 24, 2010

    Belgiaaaaaaaaaaaa! Kapan kita ke sana lagi yah mas? 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • pin-pin
    May 25, 2010

    waaahh…mas baca tulisan2 mas tentang Belanda serasa membaca kembali novel Negeri van Orange edisi lainnya,,,,,bagus……jadi pingin keliling Dunia juga…..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *