Pasanglah Lilin pada Tempatnya

14 Permalink 0
Orang alim bilang manusia itu campuran antara malaikat dan binatang. Binatang lebih mengandalkan perasaan daripada pikiran. Makanya kalau ayam lagi nafsu untuk ngeseks ya langsung aja main sikat meski dipelototi teman-temannya. Anjing kalau mau pup juga asal saja meski di depan rumah orang. Tapi malaikat sebaliknya. Konon mereka cerdas-cerdas. Sayangnya mereka tidak punya perasaan dan nafsu. Jadinya ya mereka tidak butuh makan dan… seks. Kasian banget sih.

Nah, enaknya manusia itu karena terletak di antara dua kutub itu. Jadi dia bisa bersikap layaknya malaikat: sibuk mencari surga sampai lupa menikmati enaknya maksiat (cucian deh Lu..), tapi juga bisa bersikap layaknya ayam: ngeseks seenaknya di depan webcam lalu disebar lewat internet (hihihi, mauuuu).

Bagi manusia, perasaan harus seimbang dengan pikiran. Sebab kalau tidak, akan ribet juga akibatnya. “Tempatkanlah sesuatu pada tempatnya,” kata salah satu guruku.

Misalnya begini. Bagi restoran di Kamboja, menyajikan masakan langsung dengan alat yang dipakai masak adalah hal yang biasa. Katakanlah menu oseng-oseng kangkung. Salah satu ciri khas penyajian makanan di sana adalah menggunakan tempat masaknya. Misal, oseng-oseng kangkung disajikan sekalian dengan wajannya. Namun bagi orang Aceh, makan dari tempat masaknya itu pamali. Nani Afrida, teman sesama wartawan ketika kami ikut kursus investigasi di Kamboja 2004 lalu, agak kikuk ketika harus makan sayur itu dari wajannya. Ya, karena secara rasa itu tidak bagus meski secara rasional ya tidak apa-apa.

Namun, tetek bengek proporsi rasa dan rasio itu tidak terlalu berpengaruh pada Pan Belog. Kadang dia cuek saja melakukan sesuatu selama memang rasional, meskipun secara rasa tidak bagus bagi orang lain.

Pekan lalu misalnya. Listrik di kawasannya mati karena gardu listrik tidak jauh dari rumahnya rusak disambar petir. Maka, sejak sekitar pukul 5 sore, dia sudah tidak bisa menikmati panasnya gosip artis atau asiknya siaran TV lainnya. Pas masih terang sih mending. Dia bisa baca buku atau ngerjain yang lain.

Tapi kebingungan mulai muncul pas hari makin gelap. Mau baca buku, baca koran, atau ngerjain yang lain suasananya gelap. Alhasil dia hanya rebahan di kasur sama istrinya. Bergelap-gelap seperti itu sama istrinya, dia mikir yang mesum saja. “Sekarang aku tahu gunanya TV selain untuk melihat gosip-gosip artis. Ternyata TV bisa juga mendukung program pengurangan jumlah kelahiran anak,” katanya sambil ngakak.

“Kok bisa?”

“Ya iyalah. Pas listrik mati kemarin aku jadi bisa ngrasain bahwa tanpa hiburan bernama TV, ternyata kita jadi mikir untuk membuat hiburan sendiri bareng istri. Bayangkan kalau tiap malam tidak ada TV. Apalagi kalau pasangan itu tidak pakai KB atau semacamnya. Inilah alasan kenapa nenek moyang orang tua kita dulu bisa punya anak sampai puluhan,” ujarnya.

Kegelapan telah memberikan kecerdasan baru juga untuk Pan Belog. But, tunggu dulu. Ternyata kegelapan juga memberikan masalah baginya.

Karena tidak mungkin bergelap-gelap ria terus, maka Pan Belog pun menghidupkan lilin. Dan inilah hubungannya dengan rasa dan rasio itu tadi.

Dengan cueknya dia ambil dua gelas untuk dipakai sebagai tempat menyalakan lilin. Padahal sehari-hari gelas itu dia pakai untuk minum.

“Pakai na’e tempat lain. Masak gelas dipakai untuk tempat lilin. Kan tidak pantes ya,” protes istrinya.

“Ah, itulah masalah kita. Terlalu sering pakai perasaan. Secara logis kan tidak masalah. Kita nanti bisa bersihin gelasnya biar bisa dipakai lagi,” kelit Pan Belog.

Maka, gelas itu pun dipakai untuk menyalakan lilin. Dua sekaligus untuk di satu ruangan. Ketika lilin belum habis, Pan Belog sudah terlelap dan ngorok keras dengan mulut menganga lebar. Sekitar pukul 12 malam, listrik menyala. Pan Belog masih belum tahu.

Istrinya yang terbangun kemudian memindahkan gelas dengan lilin yang tinggal sisa-sisa itu ke dapur. Dia meletakkannya di atas kulkas. Persis di samping air minum.

Sekitar pukul 6 Pan Belog bangun seperti biasa. Istrinya sudah sibuk memasak di dapur.. Pan Belog menuju dapur seperti kebiasaannya tiap pagi. Dia ambil gelas di atas kulkas. Mengisi gelas itu dengan air minum. Lalu, glek.., diminumnya air itu. Baru saja air itu sampai di mulut, dia langsung menyemprotkannya. “Kurang ajar!” katanya mengumpat pada diri sendiri.

Ternyata sisa lilin itu masih nempel di gelas yang dipakainya untuk minum. Makanya rasa air yang biasa tawar itu pun jadi aneh dan berminyak karena campur sisa lilin.

“Ah, itulah masalah kita. Terlalu sering pakai pikiran. Makanya gelas jangan dipakai untuk tempat lilin,” sindir istrinya.

14 Comments
  • widi
    March 31, 2008

    Rasain loe pan belog..kena batunya…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    March 31, 2008

    Pan Belog, emang belog yang idealis, hehehehe….

    ReplyReply

    [Reply]

  • dipoetraz
    March 31, 2008

    pan Belog ini ada hubungannya dengan pan Belog yang di Balipost tiap minggu ga?
    Pan Belog meli bebek. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • manx dhe
    March 31, 2008

    Cerita Pan Belog ini asik dan menyindir, memperlihatkan 2 sisi kehidupan, idealis yang kebangetan, kayak Pan balang tamak aja. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • paramarta
    March 31, 2008

    tapi saya setuju kok sama pan belog… tapi logika nya habis jadi tempat lilin ya dibersihkan itu aja.

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    March 31, 2008

    akal2an si men belog itu mah biar filosofinya menang… hwuahahaha

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 31, 2008

    @ widi: waduh, malah disyukurin. 🙂

    @ dek didi: idealis? soksialis kali. makanya sial terus. 😀

    @ dipoetraz: emang ada ya Pan Belog di Bali Post? Kalo ada, bedanya ini gak pake tanda bintang (*). 🙂

    @ mank dhe: memang mirip kok keduanya. 🙂

    @ paramarta: nah itu dia. kali ini dia logika kebablasan. 😀

    @ viar: hwahahaha jg.

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    March 31, 2008

    kmaren jadi mancing nggak? sorry aku ga jadi ke sana, bangun jam 8 terus ujan pula.

    ReplyReply

    [Reply]

  • tunik
    March 31, 2008

    salah sapa y?
    sepertinya salah dua2ny de..
    istrinya yang naro gelas kotor ga tempat cucian,
    terus pan belog yang ga liat2 sebelum make gelas..
    tapi tetep, sangat sulit untuk memahami & menjelaskan apa itu “rasa”, apalagi yang dirasakan oleh orang lain..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    April 1, 2008

    SOOKKKKOOOOOOOOOORRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR……………

    he.he.he..
    *udah lama nggak ngeluarin kata2 itu. hi.hi.hi*

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    April 1, 2008

    *ikutan* sokorrrrrrrrrrrrrrrrrrrr juga

    hihihihi makana liat liat sebelum minum air 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • gus tulank
    April 1, 2008

    Wekekekeke…. Pan Belog dapet pengetahuan baru nih… air rasa lilin… varian rasa baru buat pengusir dahaga.. hahaha…. good… good….

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 2, 2008

    @ viar: aku batal mancing. karena hujan dan bani sakit. 🙁

    @ tunik: yg salah lilinnya. 😀

    @ yanuar: aduh, tega sajan noq. 🙂

    @ arie: ikut2an misua nih. :p

    @ gus tulank: mungkin dipikir rasa vodka. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • hari_bumi
    August 6, 2008

    ada benarnya juga dampak listrik thd populasi penduduk….ha…ha…ha…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *