Oyu Sambil Monyongin Bibir

10 Permalink 0

Lama juga gak nulis soal Bani. Jadi ya kali ini soal Bani saja. Tapi mulai dari mana ya? Umur? Ah, basi banget.

Baiklah. Aku mulai dari kata apa saja yang sudah bisa diucapkannya, meski tidak jelas benar. Oyuu adalah kata aneh yang diucapkan Bani dengan memonyongkan bibir ke depan. Kata ini dia ucapkan pertama kali ketika kami dalam perjalanan antara Salatiga – Jogja usai main ke sekolah alternatif Qaryah Thayyibah Juni lalu.

Kata ini selalu diucapkan Bani kalau ditanya, “Bilang apa?” usai dia mendapat sesuatu dari orang lain. Oyuu adalah bahasa Bani untuk Thank you. Aneh juga. Meski sudah diajarin berkali-kali untuk bilang “Terima kasih”, Bani lebih suka bilang “Oyu” sambil monyongin bibir itu tadi.

Selain Oyuu, kata lain yang sering diucapkan Bani sekarang adalah “Mamam” untuk “Makan”, “Njem” untuk “Pinjem”, “Enum” untuk “Minum, “Ntak” untuk “Minta”, dan lain-lain. Aku lupa satu per satu. Intinya Bani makin rajin belajar kata. Cuma masih susah untuk merangkainya jadi satu kalimat.

Bani juga mulai rajin belajar baca. Kalau Ayah Bundanya lagi pada baca buku atau koran, Bani kadang ikut ambil satu buku atau koran juga. Lalu dia komat-kamit dengan bunyi mendesis. Mirip ular cuma tidak melata saja. 😀 Kadang dengan belog ajumnya dia duduk bersila atau tengkurap di lantai lalu buku itu ditaruh persis di depannya. Dia belagak lagi baca buku. Dasar anakku!

Dia juga lagi seneng-senengnya main huruf. Ada permainan memasang huruf A sampai Z di papan kayu. Bani cepat sekali bisa. Dia sigap memasang tiap huruf yang bisa dilepas pasang itu ke tempatnya. Bangga juga punya anak cepat belajar hal baru begini.

Cuma aneh. Meski mulai (sok) pinter baca dan pasang huruf, ternyata dia gagap pakai sandal. Sejak kemarin sore dia belajar pakai sandal jepit. Maunya belajar jadi gembel kayak Ayahnya. Biasanya dia pakai sandal selop dengan tali di samping dan belakang. Jadi dia tidak perlu repot menjepit sandal itu dengan ibu jari dan telunjuk kaki. Tapi kalau mau masuk rumah, dia agak repot karena harus copot dulu. Susahnya kan karena dia juga suka keluar masuk rumah.

Maka, Bunda pun mengajak Bani beli sandal jepit kemarin sore. Tapi ternyata dia tetap susah pakai. Baru beberapa langkah, sandal itu sudah dicopot. Dipegang di tangan. Lalu jalan nyeker seperti biasa. Ah, anakku sepertinya akan lebih gembel dibanding ayahnya. 😀

10 Comments
  • yainal
    August 4, 2008

    ehmm.. belajar jadi gembel kayak ayahnya? keliatannya nggak deh.. sandalnya kurang mahal aja kali.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    August 4, 2008

    bani yang lucu….

    ReplyReply

    [Reply]

  • pandebaik
    August 4, 2008

    psst.. Om Anton, Bani dapet salam dari adik Mirahnya. katanya ‘gaga gugu wawowawo….’. kali aja ini bahasa isyaratnya mereka ya ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    August 4, 2008

    yu al welkam Bani…

    ReplyReply

    [Reply]

  • shizuka
    August 5, 2008

    ah, memakai sandal jepit juga merupakan ketrampilan seorang anak kok, pak… nanti juga bisa, jangan digembel2in dong hehe…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    August 5, 2008

    Aih, Bani! Coba bilang Oya? Pasti Bani masuk MURI tuh, kecil-kecil jadi wartawan dengan ikon Oya? Sori maksa. Kangen banget buat Bani ya..

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    August 5, 2008

    kek nya bakal mengikuti karir bapaknya 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • kaka kiyudh
    August 6, 2008

    ahahaha oyuu bani for being born!! teguhkan hati nak buat emak bapakmu repot sampai besar nantiii…kaka dukuuung!!!! ayo yang semangat nakalnya jangan cepat besar….

    *lariiii*

    ReplyReply

    [Reply]

  • luhde
    August 6, 2008

    sedihnya, sampe sekarang bani nggak suka manggil “bunda”. Aku dipanggilnya “ayah”
    hik..hik…hik.. nelangsa banged

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    August 7, 2008

    @ yainal: kalo gitu, “beliin sandal dong, om. hadiah dari BC.” hehe..

    @ erick ningrat: om erick yg sangar. 😀

    @ pande baik: waah, itu pasti bahasa tarzan. :p

    @ wira: sama2, om.

    @ shizuka: makasih semangatnya, om.

    @ tumik: ah, dasar. lek tum pancen ga jelas. ndang rabi.

    @ didut: i think so.. 🙂

    @ kaka kiyudh: lari ke tetangga ya, tante? :p

    @ luhde: bunda, kita bikin lagi aja. trus sejak kecil diajarin manggil, “bundaaa..” 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *