Gak Enak Hidup di Zaman Orde Baru

0 Permalink 0

Buat kalian yang sedang merindukan Soeharto.

Sini aku ceritain sedikit betapa tidak enaknya hidup di zaman itu. Apa-apa mahal. Tidak ada kebebasan. Yang murah saat itu hanya satu, nyawa kalian yang berani menentang si Bapak Pembangunan.

Menjelang Pemilu 1997. Kampung kami di pesisir Lamongan, Jawa Timur kecipratan hiruk pikuknya. Di tengah kuatnya Golkar ketika itu, partai pemenang di kampung kami selalu sama, PPP.

Pesisir utara Lamongan adalah basis Muhammadiyah. Orang-orang di sini lebih memilih partai yang dianggap mewakili Islam, PPP. Bukan Golkar yang dianggap mewakili pemerintah.

Tapi itu tidak mudah. Dusun kami kena akibatnya juga. Berjarak hanya sekitar 2 km dari jalan raya antar-provinsi, pembangunan toh nyaris tak pernah masuk kampung kami.

Jalan penghubung dengan desa tetangga hanya berupa tanah. Becek atau bahkan terputus ketika musim hujan. Tapi, itu jalan utama kami kalau hendak sekolah ke desa sebelah.

Listrik pun tidak ada.

Kami tak pernah mendapatkan, apalagi menikmati pembangunan, di zaman berkuasanya Bapak Pembangunan yang sekarang dirindukan, Soeharto.

Alasannya, Golkar tidak pernah menang di kampung kami. Karena itu, kami sok-sokan terpaksa memakan kebanggaan meskipun pahit, melawan kesaktian Orde Baru dengan tidak memilih partai mereka, Golkar.

Ketika pembangunan tak pernah masuk kampung kami, tidak demikian dengan pengekangannya. Kepala Dusun kami saat itu adalah bagian dari mesin politik Orde Baru. Tidak boleh ada yang berkampanye tentang partai selain Golkar di kampung kami.

Jadilah, sebagai anak SMA yang baru mau ikut nyoblos pemilu, aku terpaksa menempel poster Mega Bintang sambil kucing-kucingan dengan Pak Kasun. Mega Bintang adalah koalisi PPP dan PDI yang terlarang pada saat itu.

Saat tengah malam, bersama seorang teman, kami mengendap-endap dari rumah ke rumah untuk memasang poster Mega Bintang itu. Sesekali kami harus tiarap bersembunyi saat Pak Kasun atau hansip lewat.

Saat itu heroiknya bukan main bagi anak kampung semacam kami.

Heroisme itu menjadi semacam api penyemangat ketika hidup begitu susah bagi kami. Tidak ada listrik. Pendidikan mahal. Pemilik televisi hanya dua orang di kampung kami. Itu pun hitam putih. Sepeda gayung pun tak terbeli.

Bagi kami, hidup di zaman Orde Baru sangatlah susah.

Lha kok tiba-tiba mendadak banyak yang rindu Soeharto dan Orde Baru. Memang apa enaknya hidup di zaman itu? Jangan-jangan cuma mitos yang membuat otak kalian serupa batu.

No related content found.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *