ODHA, Saatnya Kalian Ngeblog Juga

2 , , Permalink 0

Sebenarnya tulisan ini untuk membayar utang. 🙂

Desember lalu, teman-teman orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) Berhak Sehat membuat lomba blog tentang HIV dan AIDS. Aku berniat ikut. Tapi, dasar pemalas dan pelupa, sampai pendaftaran lomba ditutup, aku tak juga membuat tulisan tersebut.

Aku baru ingat justru setelah baca pengumuman tersebut lewat akun Twitter @ODHABerhakSehat. Ah, padahal aku benar-benar mau ikut lomba tersebut. Bukan untuk berburu hadiah tapi dukungan kepada teman-teman penyelenggara.

Maka, daripada tidak menulis sama sekali, lebih baik terlambat. Aku pengen menulis ajakan agar teman-teman ODHA juga memanfaatkan blog sebagai media bersuara.

Karena begini. Masih saja terjadi kasus di mana teman-teman ODHA atau pegiat penanggulangan HIV dan AIDS mengeluhkan berita di media arus utama. Macam-macam sebabnya. Ada yang mengeluhkan berita yang tidak tepat. Ada yang kecewa karena media masih saja meneruskan stigma. Banyaklah.

Kejadian terakhir, sekitar September tahun lalu, adalah ketika seorang teman pegiat komunitas ODHA di Bali merasa salah satu media nasional salah menuliskan fakta tentang layanan kesehatan bagi ODHA di Bali. Dia lalu mengeluh ke aku dan berharap bisa mengontak wartawan penulis agar meralat tulisan tersebut.

Aku minta teman ODHA ini untuk menulis di blog saja. Namun, hingga kini dia tak menulisnya.

Pendosa
Kejadian di atas hanya salah satu contoh bahwa berita di media arus utama seringkali berbeda dengan “kemauan” teman-teman ODHA. Kekeliruan media arus utama ketika menulis tentang HIV dan AIDS bisa terjadi karena beberapa hal.

Pertama, karena si penulis memang tak cukup paham isu ini. Misalnya, belum tahu bagaimana HIV menular, tidak tahu apa itu harm reduction, ARV, dan tetek bengek istilah dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

Itu hanya contoh yang kadang bisa “dimaklumi”. Wartawan yang menulis HIV dan AIDS, biasanya adalah wartawan di desk kesehatan. HIV dan AIDS hanya salah satu subtopik dari seluruh topik dalam bidang kesehatan.

Kedua, bisa jadi karena wartawan yang menulis memang sudah memiliki penilaian tersendiri terkait isu HIV dan AIDS. Misalnya, atas dasar moralitas lalu menganggap orang-orang positif HIV dan AIDS sebagai para pendosa.

Nah, kalau kekeliruan wartawan terjadi karena alasan kedua, maka amat berbahaya. Sebab, bukannya berempati kepada ODHA, si wartawan malah akan menghakimi. Tulisannya akan bias dan semata-mata menyalahkan ODHA. Padahal, dalam banyak kasus, ODHA adalah korban.

Contoh kedua ini mungkin tak banyak. Tapi, berdasarkan pengalamanku sih ada saja.

Ketiga, kekeliruan wartawan bisa saja terjadi karena memang “salah paham”. Tidak akurat data, nama, dan hal-hal “kecil” lainnya. Ini sih kekeliruan yang memang kadang terjadi pada wartawan tak hanya dalam isu HIV dan AIDS. Namun, setidaknya wartawan sudah paham isu HIV dan AIDS plus sudah berempati kepada para ODHA.

Mengelus Dada
Nah, menurutku, blog bisa jadi media untuk mengurangi kekeliruan oleh media arus utama tersebut.

ODHA sebaiknya mulai rajin menulis di blog tentang buwanyak sekali isu terkait HIV dan AIDS. Berdasarkan pengalaman sekitar tujuh tahun bergelut dengan isu ini, meskipun tidak terus menerus, menurutku banyak sekali topik menarik yang bisa diangkat ODHA.

Misalnya, cerita para ODHA dengan perspektif mereka sebagai korban, kualitas pelayanan bagi para ODHA, dukungan dari sesama ODHA ataupun keluarga dan teman, serta banyak lagi.

Blog bisa jadi pilihan mudah bagi ODHA karena mengelola blog itu gampang. Semua sarana sudah tersedia secara gratis di internet, misalnya nebeng di WordPress. Pengelolaannya juga gampang. Bisa menulis sendiri, mengedit sendiri, menyebarluaskan sendiri. Jadi, tak perlu malu jika merasa tulisan tak bagus karena toh tak bakal ditolak editor layaknya di media arus utama.

Blog, karena dibuat dan dikelola sendiri oleh ODHA, maka dia bisa memperpendek rantai informasi. Jika melalui media arus utama, rantainya akan panjang. Dari ODHA sebagai rantai pertama, lalu ke wartawan sebagai rantai kedua, kemudian ke editor sebagai rantai ketiga, kemudian media sebagai rantai keempat, dan terakhir baru ke pembaca sebagai rantai kelima.

Menurut teori komunikasi, makin panjang rantai informasi ini, maka akan makin banyak bias.

Nah, jika ODHA langsung menulis di blog, maka rantai informasi sangat pendek. Dari ODHA langsung ke pembaca. Dengan begitu, bias akan makin berkurang. ODHA juga bisa menentukan sendiri topik apa yang menurut mereka menarik dan penting untuk disebarluaskan.

Dengan demikian, kekeliruan penyebarluasan informasi tentang HIV dan AIDS bisa berkurang atau malah hilang sama sekali.

Maka, blog atau website yang dikelola secara langsung oleh ODHA akan lebih berdaya guna untuk menyampaikan informasi tentang HIV dan AIDS. Ya, meskipun kekuatan blog memang belum sekuat media arus utama. Tapi, jika makin banyak ODHA ngeblog, aku yakin kekuatan blog juga akan makin bertambah.

Sayangnya sih, upaya mengajak ODHA untuk ngeblog ini masih jadi pekerjaan rumah yang berat. Setidaknya, begitulah pengalamanku sendiri. Sudah terlalu sering aku dan teman-teman di Bali kasih pelatihan blog untuk mereka, tapi usai pelatihan ya bubar begitu saja. Tak ada lagi teman-teman ODHA yang kemudian rajin menulis di blog lagi.

Kami ya cuma bisa mengelus dada. Toh kami sudah mengajari dan mengajak mereka. Cuma itu yang sejauh ini kami bisa..

2 Comments
  • imadewira
    January 7, 2013

    Saya tidak tahu banyak tentang HIV dan AIDS, tapi membaca beberapa tulisan pak anton tentang itu, ditambah dengan beberapa pengalaman langsung, saya cukup yakin bahwa informasi yang beredar selama ini di masyarakat tentang HIV dan AIDS belum sepenuhnya tepat. Khususnya tentang stigma bagi ODHA. Mereka sudah dicap negatif, padahal banyak juga yang seperti pak anton katakan bahwa mereka adalah korban. Walaupun mungkin sebelumnya menjadi ODHA mereka punya perilaku negatif, toh sebenarnya tidak sejahat stigma yang mereka derita saat ini.

    ReplyReply

    [Reply]

  • inatsa
    December 20, 2014

    selamat malam, maaf mengganggu. saya inatsa dari psikologi upi sedang melakukan penelitian tentang orang yang menikah dengan ODHA. Kenal sama orang yang menikah dengan ODHA? Boleh minta bantu sebarin kuesioner saya? Atau kalau akang sendiri menikah dengan ODHA boleh minta kesediaannya untuk mengisi kuesioner saya?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *