Obrolan Pagi: Tuhan, E’ek, dan Hantu

3 , Permalink 0

Adik di Nusa Penida

Pagi ini Satori entah dapat wahyu dari mana.

Saat kami berdua sedang menonton film kartun, si adik tiba-tiba bertanya tentang Tuhan. “Tuhan itu kelihatan apa ndak, Ayah?”

“Mmm, tidak. Tuhan tidak kelihatan tapi Tuhan bisa melihat kita.”

“Kok Putri bilang Tuhan kelihatan? Di sana,” katanya sambil menunjuk sanggah, tempat pemujaan di depan rumah-rumah umat Hindu Bali, milik tetangga di depan rumah.

“Oh. Itu bukan Tuhannya yang di sana. Itu tempat ngasih kue untuk Tuhan. Tuhannya tetap tidak kelihatan.”

Kata “kue” mungkin lebih mudah dipahami bagi anak umur empat tahun seperti Satori daripada “banten” atau “persembahan”.

Adik sepertinya puas. Dia menjawab singkat dengan intonasi merendah, “Oooh..”

Dia kembali lanjut nonton. Aku masuk kamar baca koran sambil rebahan.

Sekitar satu jam kemudian topik lain kembali dia tanyakan saat aku nyuapin dia untuk sarapan.

“Ayah, e’ek itu datangnya dari mana?”

“Dari makanan kita. Nasi sama ikan yang kita makan jadi daging, darah, dan tulang. Sisanya jadi e’ek.”

“Kalau pipis dari mana?”

“Dari air yang kita minum. Dia jadi darah dan masuk ke otak kita juga. Biar tetap bisa main dan nonton TV,” jawabku meskipun agak tidak yakin dengan jawabanku sendiri.

“Kok warnanya beda sama air?”

“Karena pipis itu sisa-sisa air minum yang sudah jadi darah. Makanya lebih jelek warnanya.”

Makanan pertama habis. Dia minta tambah. Aku ambil nasi dan sate lilit lagi.

Film kartun di televisi menayangkan kartun Pokemon dengan tokoh-tokoh binatang yang aneh: monyet, panda, dan kelinci yang semua punya gigi taring dan sekilas mengerikan.

Pas aku duduk untuk nyuapin lagi, topik obrolan berganti lagi.

“Kok binatangnya seram, Yah? Adik jadi takut.”

“Itu kan kartun. Bohong-bohongan. Bukan binatang beneran.”

“Seram kayak hantu. Ayah pernah lihat hantu?”

“Tidak. Hantu kan juga tidak kelihatan…” Hampir saja aku tambahkan…, “Sama kayak Tuhan.” Tapi aku pikir lebih baik tidak. Nanti malah jadi panjang pertanyaannya. Hehehe..

No related content found.

3 Comments
  • PanDe Baik
    July 18, 2016

    hmmm… obrolannya terlalu singkat.
    belum ini apa itu apa, kenapanya…

    ReplyReply

    [Reply]

  • aprian
    July 20, 2016

    Karena kalau Tuhan kelihatan, Tuhan jadi tidak adil. Cuma orang-orang yang tidak buta yang bisa melihat. Begitu nak Satori … 🙂

    Eh, tapi Satori tahu konsep Tuhan darimana, ton?

    ReplyReply

    [Reply]

  • fhsu tiger tracks
    October 5, 2016

    woh, satori udah 4 tahun? kok cepet :O

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *