NTT, Kenalkan Pangan Lokalmu

4 , , , Permalink 0

Nulis tentang periboga Lombok mengingatkanku pada NTT.

Setiap kali ke Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Sumba, Flores ataupun Timor, aku selalu kecewa untuk urusan lidah.

Aku tak menemukan warung makan dengan menu lokal yang enak di pulau-pulau tersebut. Tiap kali makan, teman-teman di sana akan mengajak ke warung jawa atau warung padang.

Kalau hanya warung jawa atau padang, aku tak perlu jauh-jauh ke NTT. Di Bali pun banyak. Sebagai penggemar makanan lokal, aku ingin makan menu khas setempat, seperti di Sumba, Flores, ataupun Timor. Nyatanya, aku hampir tak pernah menemukannya.

Kekecewaan itu mungkin merefleksikan kurangnya kepedulian warga lokal pada potensi pangan khasnya sendiri. Padahal, setelah aku ikut perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) NTT di Bajawa Oktober 2011 lalu, aku makin yakin bahwa NTT juga punya makanan khas sendiri. Tak harus bergantung pada beras.

Di Ende, salah satu dari tiga kota di Ende dengan pelabuhan udara yang berfungsi baik selain Maumere dan Labuhan Bajo, ada makanan khas ubi cincang. Sayangnya, selama tiga kali ke sini aku pun gagal menikmatinya karena tidak bisa menemukan warung yang menjual. Di Bajawa pun ada makanan lokal, seperti wata, jali, kewa, dan suza. Tapi sama tak jauh beda, aku tak menemukannya di warung-warung tepi jalan.

Untuk itu, sudah saatnya warga setempat di NTT juga peduli pada pangan lokalnya sendiri. Warga setempat harus ada yang mengolah dan menjual pangan lokal ini kepada kami, orang yang berkunjung ke NTT. Upaya ini sekaligus sebagai pelestarian dan pengenalan pangan lokal.

Ketika warga sendiri bisa mengolah dan menjual pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, serta biji-bijian, maka warga jadi punya pilihan. Tak lagi hanya tergantung pada beras yang sebagian besar didatangkan dari Jawa.

Upaya ini perlu didukung pemerintah setempat. Kebijakan seperti Gubernur NTT yang tiap Selasa dan Kamis menyediakan pangan lokal perlu diperluas dengan melibatkan warga. Tak hanya mengaja tapi juga meningkatkan kapasitas petani dalam produksi komoditi lokal serta pengolahan. Dukungan modal dan pendampingan usaha juga penting.

Kampanye kepada konsumen, antara lain melalui pameran pada HPS atau NTT Food Summit juga berperan penting. Dengan begitu, konsumen akan sadar bahwa pangan lokal itu penting dan juga bergengsi. Sebab, selama ini toh ada anggapan pada warga setempat sendiri bahwa pangan lokal itu murahan.

Padahal, dengan terus bangga mengonsumsi di warung jawa atau padang, tanpa sadar orang NTT sendiri terus melanjutkan ketergantungan. Itu harus dihentikan. Budidayakan pangan lokal. Olah dan jual dengan kemasan yang bagus. Dengan begitu, warga lokal akan bangga mengonsumsi pangan lokal.

Dan, aku juga akan menemukan keragaman pangan ketika ke NTT. Itu menyenangkan.

4 Comments
  • budiastawa
    January 28, 2012

    Berarti, sampai sekarang Pak Anton belum pernah menemukan makanan khas mereka di warung makan?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    pernah sih. di ende. cuma ya tinggal sisa-sisa gitu. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • bisnisgitujitu
    February 1, 2012

    NTT daerah yang indah 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    yoih. daerahnya keren banget. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *