Nikmat Berbuka Bersama Nengah Panji Islam

12 , , , , Permalink 0
Suara lonceng dipukul itu menandakan waktu berbuka telah tiba. Agak telat, sih. Jam di telepon genggamku sudah 18.22 Wita. Padahal waktu berbuka di Buleleng, setahuku 18.19 Wita.

Lalu minuman penutup puasa segera tiba. Lima gelas es untuk kami berlima. Aku, Bani, Bunda, Joker, dan Ervi. Di antara kami berlima, hanya aku yang puasa. Tapi, tanpa wajah berdosa, empat lainnya menghabiskan minuman segar itu juga. Hehe..

Belum selesai minum, makanan pun datang. Nasi putih, sayur terong mini dengan luluran sambal, tongkol goreng, juga tempe. Air liurku sepertinya tak bisa kutahan. Apalagi perut memang sudah keroncongan.

“Ah, tapi kok belum juga dipersilakan ya?” pikirku. Tak sabar. Nengah Panji Islam, si tuan rumah masih sibuk keluar masuk. Aku diam menunggu.

“Silakan, silakan,” katanya ketika melihat aku seperti singa lapar melihat empuk daging rusa.

“Akhirnya..” gumamku. Maka, segera saja kusantap dengan penuh tanpa malu-malu. Nafsu makan minum yang seharian kukekang itu segera kulepaskan. Dia menghabiskan nasi, sayur bening dan teroong, ikan tongkol, serta tempe itu segera.

Inilah menu buka puasaku Jumat kemarin di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Desa ini berjarak sekitar 80 km dari Denpasar. Kami sengaja datang agak sore karena ingin ikut menikmati buka puasa dan pasar senggol di desa ini.

Pegayaman adalah desa yang hampir semua warganya beragama Islam. Maka, desa ini sering disebut Kampung Islam. Karena Bali sangat identik dengan Hindu, maka desa ini jadi unik. Berbeda memang selalu jadi perhatian..

Mumpung Ramadhan, sepertinya menarik kalau menulis soal desa ini. Meski sebenarnya aku sudah pernah ke sini dua tahun lalu, -daftar namaku bahkan masih ada di buku tamu ketika aku lihat kemarin sore. hehe- tapi aku tetap semangat liputan ke sini. Mungkin karena liputan sekarang juga agak berbeda.

Desa ini unik bukan hanya karena dia berbeda dengan Bali pada umumnya. Dia juga unik karena berbeda dengan Islam pada umumnya. Warga di sini menggunakan nama Bali meski muslim. Nengah Panji Islam, sekretaris desa yang menyambut kami dengan sangat hangat, adalah salah satunya. Nengah pun menggunakan nama Putu, Made, dan Nyoman untuk anak-anaknya.

Urusan ritual pun, warga di sini seperti orang upacara (Hindu) Bali pada umumnya. Misalnya ada Penyajanan (hari bikin jajan), Penampahan (hari untuk memotong binatang kurban), juga Manis (sehari setelah hari raya). Istilah-istilah itu biasa dipakai umat Hindu Bali ketika ada upacara besar seperti Galungan, Kuningan, dan semacamnya.

Tapi, bagian paling unik liputan kali ini adalah pasar senggol ala anak-anak Pegayaman. Ini tradisi tiap Ramadhan di desa ini. Tiap malam, usai buka puasa sampai waktu tarawih tiba, ada pasar senggol di jalan-jalan desa. Penjual dan pembelinya anak-anak, sebagian besar SD.

Jalan-jalan desa pun jadi riuh sama anak-anak yang jualan ini. Macam-macam yang dijual. Ada jeruk, mangga, salak, sate usus, tahu goreng, sampai jajanan taruhan semacam lotre.

“Apa enaknya pasar senggol?” tanyaku pada beberapa anak.

“Bisa ketemu teman-teman sekalian belajar jualan,” kata Nyoman Alvin, anak ketiga Nengah Panji.

Masih ada beberapa keunikan lain desa ini yang menunjukkan akulturasi Islam dan Bali. Dua entitas ini saling melengkapi tanpa harus melanggar batas masing-masing. Mereka tetap ada, berdampingan tanpa harus saling meniadakan. Begitulah seharusnya semua (umat) agama. Memberi tempat pada tradisi. Saling menghormati..

12 Comments
  • bul gombal gambul
    September 14, 2008

    Stuju bang anton.. Seharusnya keberagaman biarlah seperti itu adanya.. Tentunya dilandasi dengan toleransi yang tinggi..

    *bisa jg saya nulis gituan.. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    setuju juga, mbul. semoga di surabaya jg begitu. kalo damai kan urip dadi tenang. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artana
    September 14, 2008

    Keragaman di Bali memang harus dihargai, dijaga dan dihormati, sebuah budaya luhur yang diwarisi turun temurun.
    Semoga langgeng selamanya!

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    amin, bli. tidak hanya di bali, tp semoga bisa di mana saja. sebab, bukankah kalo beragam itu lebih asik karena jd bisa saling belajar.

    ReplyReply

    [Reply]

  • budarsa
    September 15, 2008

    ah jadi inget sama Nyoman Muhamad n Kadek Ibrahim. Btw ini desa sebelah desa saya…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    wah, tau gitu mampir ke desanya bli bud. buka puasa di sana. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    September 15, 2008

    keren…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    keren jg. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    September 15, 2008

    selamat berbuka berpuasa pak….

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    makasih. kapan ngundang kami buka puasa di rumah pak wira? :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dolar bulanan buat blog berPR
    September 15, 2008

    Met buka puasa yee!

    Kalo liat arsipnya, km rajin ngeblog juga ya!
    Trus blognya punya pagerank juga.
    Sayang tuh kl gak dimanfaatin, coba dech jual beberapa link ads, lumayan dapet puluhan dolar per bulannya.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    mmm, soal cari duit kapan2 aja deh. makasih usulnya. tp utk sekarang saya belum ada niat. cari duitnya dr tempat lain aja, bukan dari blog..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *