Nak Jawa Belajar Bahasa Bali

21 No tags Permalink 0

Nyempal dikit dari tulisan bersambung soal perjalanan ke Flores. Tiba-tiba aku pengen nulis soal bahasa.

Jawa dan Bali itu memiliki karakter yang tidak jauh beda. Misalnya soal feodalisme. Menurutku keduanya memiliki budaya yang bertingkat-tingkat dalam interaksi, termasuk soal bahasa. Kalau di Jawa, terutama Mataraman alias Jawa Timur bagian barat daya dan Jawa Tengah bagian selatan serta Yogyakarta, masyarakatnya mengenal tingkatan dalam bahasa, maka begitu pula Bali. Berbicara dengan orang yang lebih tua harus menggunakan tingkat bahasa lebih halus dibanding dengan bahasa untuk orang yang sepantaran.

Setahuku ini berbeda dengan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang tidak ada tingkatan bahasanya. Jadi kita bisa menggunakan bahasa yang sama untuk siapa saja dengan bahasa Melayu.

Selain soal tingkatan, bahasa Jawa dan Bali juga memiliki banyak kata yang sama. Lucunya kadang-kadang tingkatan bahasa ini bisa bertolak belakang. Di Jawa adalah bahasa halus, di Bali justru bahasa kasar. Atau di Bali bahasa halus, padahal di Jawa itu bahasa kasar. Ada beberapa contoh. Tapi kok aku lupa ya sekarang. Hehehe..

Lalu balik ke topik awal. Kesamaan bahasa Bali dan Jawa itu yang memudahkan aku, sebagai nak (orang) Jawa, untuk belajar bahasa Bali. Kata-kata yang sama artinya itu seperti mulih (pulang), sugih (kaya), dan lain-lain. Ada pula kata yang mirip di pengucapan dan bermakna sama meski beda tingkatan. Misalnya medahar (kasar di Bali) yang sama dengan dahar (halus di Jawa). Arti kata ini sama yaitu makan, namun beda di tingkatan bahasanya.

Nglantur dari topik sedikit. Soal tingkat bahasa itu, menurutku, memang hal paling lucu dari feodalisme Jawa dan Bali. Kadang-kadang ada orang yang merasa direndahkan hanya gara-gara penggunaan bahasa untuk tingkat lebih rendah, padahal artinya sama.

Ada contoh lucu yang pernah ditulis almarhum Made Kembar Karepun, salah satu intelektual di Bali soal bahasa ini. Kalau tidak salah begini. Seorang dari kasta lebih tinggi (Ksatria) pernah menuntut seorang yang berkasta lebih rendah (Sudra) gara-gara orang Sudra itu menggunakan kata ngamah (artinya makan) untuk orang Ksatria. Kasus ini benar-benar terjadi pada tahun 1940an.

Oleh hakim, yang kebetulan orang Batak, si Ksatria itu ditanya kenapa kok keberatan. Dijawab olehnya bahwa kata ngamah itu sangat kasar. Menurut si Ksatria, seharusnya si Sudra menggunakan kata ngajeng, bukan ngamah, untuknya.

“Apa artinya ngajeng?” tanya hakim.

“Makan,” jawab si Ksatria.

“Lalu artinya ngamah?”

“Makan juga.”

“Lha kalau artinya sama-sama makan, kenapa Anda mesti marah,” kata si hakim. Lalu Sudra itu pun divonis bebas.

Ilustrasi ini hanya menggambarkan bahwa tingkat bahasa Bali, seperti halnya bahasa Jawa, seringkali memang jadi masalah. Begitu pula bagi aku yang belajar bahasa Bali.

Dari pertama tinggal di Bali, sejak Juni 1997, aku tinggal di Denpasar. Bahasa gaul di Denpasar cenderung singkat, tidak lengkap. Mungkin ini erat kaitannya dengan budaya kota yang serba cepat. Maka pengucapan bahasa pun demikian. Contohnya pengucapan kata pipis yang artinya uang. Oleh orang Denpasar hanya jadi pis, hilang pi-nya. Jadi yang semula mirip orang kencing (pipis) jadi orang yang cinta damai (pis). Hehe..

Contoh lain adalah lakar (akan). Orang Denpasar cuek bebek menyebut kal. Artinya sama saja yaitu akan atau mau. Contoh kalimatnya begini, “Lakar kija?” atau “Mau ke mana?” bisa jadi hanya, “Kal kija?”. Dan masih banyak lagi contoh lain. Intinya bahasa di Denpasar cenderung singkat dari kata asli dan lebih kasar dibanding, misalnya, Gianyar dan Bangli.

Bagi aku, ini kadang jadi masalah. Kalau bicara dengan orang Bali yang kira-kira sepantaran sih tidak jadi soal. Aku bisa dengan cuek pakai bahasa Bali ala Denpasar ini. Tapi aku tidak cukup PD kalau ngomong Bali ala Denpasar ini dengan orang yang lebih tua. Misalnya dengan mertua atau kakek dan (almarhum) nenekku, yang orang Bali. Dengan mereka, aku lebih sering pakai bahasa Indonesia. Takut saja sih dipikir, “Dasar mantu kurang ajar. Sudah dikasih anak, masak masih saja pakai bahasa kasar?” Hehehe..

Cara paling mudah untuk belajar bahasa Bali, menurutku, adalah dengan praktik langsung. Kalau ketemu sama teman yang asli Bali, aku pakai bahasa Bali. Sebab, bahasa adalah soal kebiasaan.

Masalahnya, tidak sedikit juga teman orang Bali yang malas pakai bahasa Bali. Entah kenapa orang Bali sendiri, terutama sesama cewek muda, lebih suka berbicara dengan temannya dalam bahasa Indonesia meski sama-sama orang Bali, apalagi sama nak Jawa.

Ada yang lebih lucu lagi. Beberapa temanku yang orang Bali dan pernah tinggal di Jawa, justru lebih suka ngomong pakai bahasa Jawa dengan aku. Mereka sih rata-rata kuliah di Yogyakarta, Malang, atau Surabaya. Meski aku sudah ajak ngomong pakai bahasa Bali, tetap saja mereka pakai bahasa Jawa. Alhasil, bahasa Baliku pun tidak makin berkembang.

Jadinya ya, sori gen nah. Hahaha..

21 Comments
  • devari
    February 4, 2008

    medahar atau medaar, bukanlah kasar melainkan tingkat menengah.

    *jadi pegin nulis tentang bahasa Nusa Penida yang beda banget dengan bahasa Bali*
    fyi, nusa penida masuk wilayah Bali juga lo, in case ada yang lom tahu 🙂

    http://devari.wordpress.com/2007/09/27/introduction-to-nusa-penida-language/

    ReplyReply

    [Reply]

  • baladika
    February 5, 2008

    nah..nah…

    ReplyReply

    [Reply]

  • komang budarsa
    February 5, 2008

    belajar bahasa buleleng aja bli, biar terasa kasarnya.
    btw saya juga lebih suka mengunakan bahasa jawa dengan nak jawa,

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    February 5, 2008

    menurut gw sebagai orang bali yang tidak bisa bahasa bali,bahasa bali itu bahasa yang paling unik.dan menurut gw bahasa itu norma,itu yang membedakan kita sama negara2 barat atau kapitalis…sekarang aja gw lagi belajar bahasa bali
    🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • dewi
    February 5, 2008

    hm… daku 10 tahun di bali ga bsia bahasa bali, bisapun.. sangat medhok. meski klo diam tanpa ngomong, orang pasti nyangka aku orang bali. iya khan bang?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    February 5, 2008

    aku gen be 6 thn dini nu keseleo yen ngomong basa bali.
    yaa.. perlu kebiasaan aja..

    mari.. melali sambil melajah.. hi.3

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    February 5, 2008

    yap, org semarang malah pada males pake bhs jawa jadinya bhs jawa saya juga tdk byk berkembang walaupun sudah 10 thn tinggal di semarang

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ina
    February 5, 2008

    😀 ooo..bgitu yach. Pantesan aja sa sempat agak bingung ama bahasa bali.

    ternyata ada kasar dan halus juga.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    February 6, 2008

    Bahasa Menunjukkan Bangsa

    *hahaha, sok serius

    Memang banyak hubungan antara bahasa Jawa dan Bali. Makanya orang Bali pun lebih gampang mengerti bahasa Jawa. Tetapi perbedaan tingkatan bahasa (kasar dan halus) kadang menimbulkan kelucuan atau masalah.

    ReplyReply

    [Reply]

  • winata
    February 6, 2008

    ada bahasa di Jawa kasar, di Bali Halus. Contohnya “Cokor”. Artinya sama-sama Kaki. Tapi di Jawa ini sangat kasar. Maka di Semarang sering ada yang heran kalau saya cerita di Bali ada gelar bangsawan “Cokorda”. “Itu gelar Bangsawan?” tanya mereka terheran-heran.

    ReplyReply

    [Reply]

  • baliazura
    February 8, 2008

    kata pertama yang dilarang teman saya yaitu adalah “kenyang” pada awalnya binggung kenapa, tapi setelah dijelaskan akhirnya cuman bilang oooo…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Purnama Yasa
    February 8, 2008

    Memang beda arti “Kenyang” Indonesia dengan “Kenyang” Bali, pasti kebanyakan sudah ada yang tau artinya

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ady Gondronk
    February 9, 2008

    beneh nto bos…,rage merasa bahasa bali sekarang dimata kaum muda seperti udah tinggalkan, kalo pake bahasa bali dibilang kuno alias mati gaya cing….!! dan mereka justru merasa lebih funkeh kalo bernesia alias pake bahasa indonesia..

    Kalo semua seperti ini siapa yang akan mengajarkan bahasa bali untuk generasi penerus kita…???
    pissssss

    ReplyReply

    [Reply]

  • joesatch yang legendaris
    February 9, 2008

    saya malah krisis identitas.
    kalo lagi sama orang jawa yang lagi main ke rumah, saya pasti dibilang bali banget kalo ketangkep lagi ngobrol sama sesama orang rumah.

    tapi kalo lagi ngumpul2 sama temen2 bali, saya pasti dibilang jawa banget. beuh… jadi orang prancis memang susah… :mrgreen:

    ReplyReply

    [Reply]

  • Purnama Yasa
    February 9, 2008

    Ada lagi anak-anak bali jaman sekarang tidak diajari bahasa Bali dari kecil, langsung diajari bahasa Indonesia, gimana tidak punah tuh bahasa Bali. Saya sendiri aja malu karena tidak terlalu bisa bahasa Bali halus… padahal orang Bali 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • wiratno
    June 15, 2008

    kalo aku udah sering ngomong bali, karena teman-temanku di jogja kebanyakan dari bali. tapi anehnya setiap aku sms mereka dengan bahasa bali alus mereka membalas dengan bahasa indonesia. kenapa ya ?
    sebaliknya aku juga males pake bahasa jawa karena ribet, sama ortu musti pake basa krama lagian bahasa kramaku ancur.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wiratno
    June 15, 2008

    aku terlahir sebagai orang jawa tulen kerana aku terlahir di wilayah Kasunanan Surakarta, namun aku lebih suka ngomong ngoko ketimbang krama.
    di jawa tengah sendiri ada 3 dialek bahasa jawa, yaitu: Jawa Solo-Jogja, Jawa Banyumas, dan pantura-an. pusing jika aku ngomong ama orang Tegal, Brebes ato daerah Jateng bagian barat lainnya karena dak nyambung. bahasa mereka cenderung campuran antara jawa dan sunda. jadi mending aku pake bahasa indonesia aja. padahal masih satu propinsi tapi bahasanya beda 180 derajat.

    ReplyReply

    [Reply]

  • mahendra
    June 17, 2008

    sampun mekaten mas wiratno, kula ingkang saking Banyumas dados tersinggung lho. inggih sampun mekaten, kados pundi malih mboten saget dipunewahi malih. menawi kula dipunaturi ngagem basa krama inggih saget, namung nggih mboten sealus panjenengan sami ingkang saking wilayah Jogja-Solo. basa menika khan dados cirinipun budaya, leres mboten? menawi dipunaturi ngagem basa ngapak malah kula remen sanget, amargi menika basa ibu wonten daerah kula.

    “jangan begitu mas wiratno, aku selaku warga Banyumas jadi tersinggung lho. memang sudah begitu, mau gimana lagi, tidak bisa dirubah lagi. kalau aku disuruh pake bahasa krama bisa aku, tapi ya tidak sehalus kaliyan yang dari Jogja-Solo. bahasa kan mencerminkan budaya, betul tidak? kalau aku disuruh pake bahasa ngapak malah senang sekali aku, karena bahasa ini kan bahasa ibu di daerahku.

    ReplyReply

    [Reply]

  • arum
    September 14, 2008

    aku mau tanya nih sama siapa aja… aku asli orang Jwa. aku pengin tahu apa orang Bali manggil ibu, ayah, adik sama kakak itu seperti orang jawa juga? atau ada bahasa Bali-nya sendiri? terima kasih sebelumnya…

    ReplyReply

    [Reply]

    dekha Reply:

    kalau ibu ada yang tetep manggil IBU,bisa juga MEME.kalau ayah,bisa pake NANANG/AJI,kakak cwek-MBOK,kakak cwo-BLI.kalo adik,q blm tau.

    ReplyReply

    [Reply]

  • agung
    December 25, 2009

    aq lebih bingung lagi.aq orang bali yg merit ma orang sunda.suamiku bisa bahasa bali,tapi “secukupnya”aja padahal dia lahir & besar di bali.trus anakku sama sekali ga ngerti bahasa bali.gimana ya ??? mereka nantinya kan juga pasti bgaul ma orang bali,mau aq ajarin tapi di rumah sehari hari bernesia. please advice donk!!!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *