Muramnya Masa Depan Tanah Kelahiran Kami

1 , Permalink 0

Tembok itu runtuh pelan-pelan.

Tidak ada yang melakukannya. Tembok itu ambrol begitu saja sore itu. Sebagian pasir dan batu dari tembok itu jatuh di sisi barat rumah tua tersebut. Tembok itu pun menyisakan lubang berdiameter sekitar setengah meter.

Rumah tersebut persis di sebelah rumah kami di kampung kelahiran. Pemilik rumah tersebut Yai Bau, panggilanku untuk Mbah Abu Amar yang juga kepala dusun kami. Dia juga mbah kami karena adik kandung nenek kami.

Di rumah itu, ketika masih kecil kami dulu nonton televisi hitam putih, belajar main catur dengan mahasiswa ITS yang sedang KKN, nongkrong dan ngobrol sampai tiap malam, dan kadang-kadang tidur di terasnya. Karena menjadi rumah kepala dusun, dia juga menjadi semacam pusat kegiatan kami di kampung.

Tapi, kini rumah itu tak lagi berpenghuni. Dindingnya kusam. Keropos. Terlihat tak terlalu terurus.

Melihat rumah tersebut, aku jadi membayangkan mungkin rumah-rumah lain di kampung kecil kami akan bernasib tak jauh berbeda. Tua. Tanpa penghuni. Lalu pelan-pelan rubuh dengan sendirinya.

Ini hanya sekadar kekhawatiran ketika aku ke kampung kelahiran sambil liburan minggu lalu. Melihat dusun kami, aku seperti tak menemukan masa depan cerah sama sekali tapi justru sebaliknya, suram.

Melihat wajah-wajah penghuninya, aku lebih banyak menemukan wajah orang-orang tua dan anak-anak. Sementara itu mereka yang ada pada usia kerja, 18 – 40an lebih banyak merantau. Di keluargaku sendiri contohnya. Dari tujuh anak yang masih ada, cuma satu yang kini tinggal di desa. Kami semua merantau dan menetap di tempat jauh: Bengkalis, Batam, Jakarta, Bali, Surabaya, dan Malang.

Sepupu-sepupuku pun tak jauh beda. Di Malang, Jakarta, Bangka Belitung, dan Sidoarjo. Di rumah lain pun sama saja. Mereka pada usia kerja memilih untuk merantau dan bekerja terutama di Malaysia sebagai tenaga kerja Indonesia. Di desa kami hanya tersisa orang-orang tua dengan sedikit anak muda. Pedihnya lagi sebagian orangtua tersebut sakit, seperti juga emak kami.

Sebenarnya aku yakin desa kami punya banyak potensi. Tapi, kami tak pernah belajar untuk mengenali apalagi menggali potensi yang kami miliki. Maka, kami selalu melihat bahwa masa depan itu ada di luar sana. Di tempat lain, bukan di rumah kami sendiri.

Maka kami pun meninggalkan tanah kelahiran dengan beragam alasan. Kuliah, bekerja, menikah, atau sekadar merantau untuk kemudian kembali. Tinggallah rumah-rumah tempat kami lahir yang sepi. Dusun kami yang tiap malam seperti kampung mati tanpa anaka-anak bermain di jalanan.

Itu semua bukan salah siapa-siapa. Itu semua juga kesalahan kami sendiri yang pergi dan kemudian tidak kembali.

1 Comment
  • alafasy
    December 6, 2013

    coba lah di lestarikan tanah kelahiran kt sendiri? selamat berjuang?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *