Mujahir Goreng yang Bikin Ketagihan

6 , , , Permalink 0

Selain keindahannya, Danau Batur di Kintamani, Bangli juga menghasilkan ikan muhajir, eh, mujahir yang bisa dipanen sepanjang musim. Ikan tawar ini dibudidayakan petani setempat menggunakan keranda keramba di danau. Karena itu, salah satu yang membuat Kintamani tersohor adalah menu ikan mujahir gorengnya.

Ini pula yang membedakan Danau Batur dengan Bedugul. Meski di Bedugul ada tiga danau, namun tak satu pun dari danau itu yang digunakan untuk budidaya ikan mujahir. Di Bedugul saya belum pernah menemukan warung yang menjual ikan mujahir goreng. Padahal di  Kintamani justru banyak sekali.

Banyak warung di daerah Kintamani. Di bagian atas di Penelokan, titik di mana pengunjung biasa menikmati Danau dan Gunung Batur dalam satu pemandangan, ada beberapa restoran yang menjual menu khas Kintamani ini. Saya sendiri hanya pernah sekali menikmati makanan di salah satu restoran ini. Dan, rasanya tidak oke. Jauh dari rasa nikmat.

Makanan yang membuat saya ketagihan justru ada di bagian bawah dari Penelokan. Persisnya ada di Banjar Seked, Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Warung ini berada sekitar 100 meter dari Danau Batur. Menu ikan mujahir ini adalah satu-satunya menu di Warung Seked, punya Bu Ni Wayan Karya.

Untuk ke tempat ini, kita harus turun dari Penelokan melewati jalan agak berkelok selama sekitar 10 menit. Ketika bertemu pertigaan antara Toyabungkah – Kedisan, kita harus ke kiri ke arah Toya Bungkah. Warung Seked berada di kiri jalan sekitar 200 meter setelah pertigaan dan melewati Hotel Segara. Tidak ada papan nama di warung yang berada setelah jalan agak menanjak ini.

Warung Seked Kintamani

Dari depan, warung ini juga terlihat seperti toko, bukan warung makan. Jadi untuk orang yang pertama kali berkunjung, penampilan warung ini memang menipu. Untunglah Dek Didi, teman dari Desa Songan, Kintamani, yang dulu mengajak saya pertama kali ke sini.

Menu ikan mujahir goreng di Warung Seked disajikan dalam dua pilihan: kering atau basah. Pembeli yang harus menentukan. Kalau kering, maka ikan mujahir goreng itu disajikan tanpa siraman bumbu. Jadi ikan goreng mujahir poloslah. Cuma ya tetep ada bumbu lain menemani ikan ini. Rasanya gurih dan teksturnya renyah.

Kalau goreng basah, ikan goreng itu disajikan dengan siraman bumbu di bagian luar. Namun bumbu itu juga meresap hingga bagian dalam. Teksturnya lebih lembut dengan rasa yang jauh lebih kuat gurihnya. Menu ikan mujahir goreng basah inilah pilihan saya di warung ini. Begitu pula pada akhir Desember lalu ketika saya dan keluarga menghabiskan tahun di Kintamani.

Ikan goreng mujahir di Warung Seked disajikan dalam piring ingka, dari anyaman lidi, berlapis kertas bungkus makanan. Dalam satu porsi nasi di atasnya ada setengah ekor ikan mujahir goreng ditemani mie goreng dan sayur, kacang goreng, dan sayur kacang panjang. Tidak ada sambal khusus karena sambal itulah yang melumuri ikan goreng basah tersebut. Jelas terasa bumbu itu pakai basa genep, bumbu lengkap, khas Bali.

Di tiap porsi ada sayur undis atau kara hitam yang mirip kedelai atau kacang tapi ukurannya besar. Sayur undis ini disajikan di mangkuk terpisah dengan kuah berlimpah. Penampilannya yang hitam memang tak terlalu menarik. Tapi ketika diseruput, alamak jan, uwenaq tenan.. Pedas, gurih, dan hangat. Benar-benar pas diseruput di dinginnya Kintamani.

Tiap porsi itu harganya Rp 10.000. Bagi saya sih setengah ekor ikan itu tidak cukup. Maka saya biasa nambah. Dua potong ikan sama harganya satu porsi nasi. Kalau nasi sudah habis, ikan goreng itu bisa dijambal alias dimakan tanpa nasi. Pokoke sampai ludes menyisakan tulang saja. 🙂

Sayangnya kenikmatan bersantap di Warung Seked ini agak terganggu dengan banyaknya lalat di warung. Lalat-lalat itu mengerubung di atas meja. Meski sudah ada lilin untuk mengusir, lalat-lalat itu tetap mengerubungi kita.

Tapi ini memang masalah di mana saja kalau bersantap di daerah sini. Juni lalu ketika kami bersantap di salah satu warung di Desa Toyabungkah juga buanyak sekali lalatnya. Begitu pula ketika kami bersantap di warung lain. Jadi anggap saja lalat-lalat itu adalah salah satu seninya bersantap di kawasan ini. 🙂

Warung Seked
Banjar Seked, Desa Kedisan
Kecamatan Kintamani, Bangli
Telp 0366 – 52048

6 Comments
  • Deddy
    January 15, 2010

    haha… tak pikir muhajir goreng 🙂
    boleh juga klo pas lewat mampir situ…

    ReplyReply

    [Reply]

  • kiki
    January 15, 2010

    setahu saya ikan itu dipelihara dalam keramba, karena keranda itu untuk mayat? akurasi dong bos…?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    tengs ralatnya. aku udah perbaiki. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cahya
    January 15, 2010

    Wah…, Bos Anton sudah mulai kuliner lagi 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • kiki
    January 16, 2010

    Sebelumnya saya mohon maaf, menulis komentar di sini untuk tulisan “Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi” karena tulisan tersebut comments off(?).

    Saya hanya ingin meluruskan pengertian ring back tone. Bos menulis ring back tone adalah nada tunggu yang terdengar jika ada orang yang menelepon kita. Bos sepertinya tidak bisa membedakannya dengan ring tone. Ring back tone adalah nada tunggu yang didengar oleh orang yang menelepon kita.
    Kayaknya Bos juga harus mengerti, ” Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi” ditulis dari perspektif si pemilik RBT alias Bos sendiri, bukan?
    Sekali lagi, akurasi dong bos…?

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 17, 2010

    belum pernah makan mujahir di sana.. abisnya kesana juga jarang banget..

    btw, udah pernah nyoba ikan mujahir Pak Bagong yang di Bangli pak?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *