Merekam Keriuhan dan Kepiluan Tajen

9 , , Permalink 0

Teriakan bersahutan dan sorakan itu terdengar hingga ruang tamu.

Setelah aku keluar, ternyata puluhan laki-laki itu sedang main sabung ayam (tajen). Mereka saling bersorak memberikan dukungan pada ayam pilihan yang sedang bertarung sore itu.

Biasanya, tajen digelar di kalangan, tempat pertarungan serupa gelanggang tinju. Tapi, kali ini tak ada kalangan. Mereka hanya main di pertigaan gang, persis samping rumah mertua. Mau tak mau, aku turut serta dalam keriuhan itu untuk sekadar merasakan suasana.

Ini kali pertama aku berada di tengan para bebotoh, orang-orang penggemar tajen. Hampir 15 tahun tinggal di Bali, aku belum pernah sama sekali melihat langsung apalagi ikut tajen.

Maka, tak apalah. Ikut saja. Sayangnya sih aku tak bawa kamera kesayangan, EOS 50D. Maka, Android Galaxy S pun jadi alat percobaan. Jepret sana sini di antara beberapa mata yang agak sinis karena aku foto. Malah ada yang berseru, “Awas nanti wartawannya lapor polisi.”

Dengan kemampuan kamera Android yang terbatas, misalnya lambatnya kemampuan untuk menangkap momen dan rendahnya resolusi, aku harus main di sudut pandang. Dan, inilah hasilnya percobaan tersebut setelah diolah dulu dengan GIMP Image Editor Ubuntu.

Tajen dimulai dengan saling mengenalkan dua ayam jago. Jika keduanya saling menyerang, maka tajen akan dilanjutkan.

 

Para petaruh akan memilih ayam mana jagoannya. Jika pilihannya menang, dia juga menang.

Taji, pisau kecil, merupakan senjata pembunuh yang dipasang di kaki ayam yang diadu.

Setelah memilih, para penggemar tajen akan membayar sesuai tarif yang ditentukan.

Ayam terlebih dulu diberi persiapan. Begitu saling menyerang, ayam akan dilepaskan. Pertarungan pun mulai.

Begitu ayam dilepas dan bertarung, lingkaran pun segera terbuat. Mereka saling bersorak memberikan semangat.

Dalam waktu tak sampai lima menit, salah satu ayam langsung kena taji, sempoyongan, lalu... mati. Mengenaskan.

Usai pertarungan, yang tersisa hanya darah. Ayam yang mati akan dipotong untuk kemudian disajikan di meja makan.

9 Comments
  • indobrad
    December 30, 2011

    budaya yg satu ini sepertinya susah hilang meski sudah dilarang ya

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    begitulah adanya. bisanya akan jadi komoditas politik menjelang pemilu. ada yg pro. tak sedikit pula yg kontra.

    ReplyReply

    [Reply]

  • suryaden
    January 2, 2012

    ojo melu-melu lho mas 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    wahaha. aku malah pasang taruhan juga ben ora dikamplengi goro2 foto terus. cuma kalah! :((

    ReplyReply

    [Reply]

  • Majalah Masjid Kita
    January 3, 2012

    wow.. uang yang berputar di arena semacam ini sepertinya lumayan banyak juga mas ya 🙁 tapi.. apa gak menyakiti hewan ya 🙁 ??!?!

    mas.. kebetulan nih FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta kini tengah membuka pendaftaran anggota baru untuk Angkatan ke-16, mungkin mas anton bisa mengajak sebanyak-banyaknya kawan di tempat olah raga ayam ini tuk mau join.. kami sangat welkom dan silahkan-silahkan saja.. dan tentunya.. terimakasih 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    duitnya sih memang sampe jutaan. malah pernah dengar ada yg mainnya milyaran. tapi yg kasian memang ayamnya itu sih. :((

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agus Lenyot
    January 9, 2012

    Sebaik-baiknya orang Bali, seperti aku, tajen adalah hiburan tersendiri. Tajen sama seperti pertandingan tinju, kepuasan kita justru bisa didapat saat melihat lawan tersakiti *nyengir*

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 10, 2012

    Sisi uniknya, ada aturan dalam sistem taruhannya mas. Ada yang bertaruh di dalam, biasanya akan kena “cuk” (pajak) 10% yang akan diambil oleh yg mengadakan tajen. Kalau bertaruh di dalam, kita sudah pasti bisa ikut bertaruh dan mendapatkan bayaran kalau ayam kita menang.

    Kalau tidak mau kena “cuk” maka bisa bertaruh di luar (mencari lawan taruhan sendiri), yaitu sesaat sebelum ayam dilepas. Tapi resikonya, bisa jadi kita tidak mendapat lawan dan ayamnya keburu dilepas untuk beradu.

    Sistem taruhan di luar ini juga memiliki aturan sendiri, misalnya ada yang berteriak “cok”, “gasal”, “tluda”, dll. Semuanya memiliki arti sendiri. Misalnya “tluda” (telu-dua) maksudnya taruhan 3 berbanding dua.

    ReplyReply

    [Reply]

  • tidar
    January 14, 2012

    itu tajinya ditambah pisau kecil?

    btw, foto darahnya serem …

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *