Mereka Tetap Bangga Mengaku Indonesia

3 , , , Permalink 0

SBY membatalkan kunjungan ke Belanda akibat ancaman dari simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS). Demikian bencikah orang-orang keturunan Maluku itu pada Indonesia?

Pengalamanku dengan mereka menunjukkah hal sebaliknya. Orang-orang Belanda keturunan Maluku itu selalu saja bangga punya hubungan dengan Indonesia. Memang, sih, ini hanya pengamatan sangat dangkal dari dua kali kejadian. Tapi, aku tetap menangkap kuatnya perasaan bangga sebagai bagian dari Indonesia itu ketika berbincang dengan mereka.

Pengalaman pertama sekitar Agustus 2003 lalu. Waktu itu aku dan sembilan teman lain hanya singgah beberapa jam di Bandara Schipol Belanda sebelum ke Inggris.

Schipol salah satu bandara tersibuk di Eropa. Ini pintu masuk Eropa dari Asia selain Frankfurt, Jerman. Suasana hiruk pikuk saat itu. Orang-orang asing bagi kami lalu lalang dengan bahasa yang tak kalah asingnya bagi kami.

Hiruk pikuk dan bahasa asing di tempat baru bagiku adalah sebuah pengasingan tersendiri. Namun, kami seperti kembali ke rumah begitu ada suara menyapa kami dalam Bahasa Indonesia, “Dari Indonesia, ya?”

Sapaan itu datang dari petugas, kalau tidak salah keamanan (apa imigrasi ya?), di Schipol. Lelaki beumur 40an tahun tersenyum pada kami. Wajahnya agak tipikal orang Indonesia timur, seperti Ambon atau Flores.

Kami berbincang sebentar dalam Bahasa Indonesia. Wajahnya terlihat bersahabat ramah di antara wajah-wajah petugas lain yang tegas. Dia mengaku keturunan Maluku meski warga Belanda. Dia juga mengaku senang kalau bertemu orang Indonesia, termasuk kami.

Katanya, sih, bisa mengobati kangen leluhurnya.

Pernyataan bahwa berbincang dengan orang Indonesia menjadi pengobat rindu tanah leluhurnya itu juga terucap dari seorang warga Belanda yang aku temui di Amsterdam April lalu. Inilah pengalaman kedua.

Waktu itu aku dan tiga teman lain sedang menikmati kemeriahan kota saat merayakan Queens Day. Di antara ribuan warga berpakaian oranye, seorang laki-laki berumur 35an tahun mendekati kami dan mengajak berbincang dalam Bahasa Indonesia.

Wajahnya pun tipikal Ambon dengan kulit agak coklat dan rambut ikal. Setelah tahu kami dari Indonesia, dia langsung mengajak kami foto-foto. Dia bercerita juga tentang bagaimana komunitas Maluku di Belanda. Katanya, meski sudah jadi warga Belanda tak sedikit yang tetap menyimpan ikatan dengan Indonesia.

Si teman baru ini, pagi itu membawa gitar, tinggal di Belgia meski lahir di Belanda. “Tapi di Belgia kurang asik karena jarang bertemu orang dan, terutama, makanan Indonesia,” kurang lebih begitu dia bilang.

Kami berbincang hanya sekitar 30 menit. Tapi, aku bisa ngerasain senangnya dia berbincang dengan kami dalam Bahasa Indonesia. Susah dijelasin, sih. Menurutku, ini mirip kita jauh meninggalkan tanah kelahiran dan Bahasa Ibu lalu satu hari kita bertemu dengan orang dari tanah kelahiran itu.

Klangenan.. Bisa jadi perasaan itulah yang sebenarnya ada di sebagian besar hati keturunan Maluku di Belanda. Cuma, sebagian kecil saja orang yang menyimpan kebencian pada Indonesia.

Dan, apa boleh buat, yang sedikit ini selalu jadi perhatian hanya karena mereka keras bersuara dan menyebarkan kebencian. Mirip teroris berkedok agama itulah. Kurang lebih..

3 Comments
  • insany
    October 7, 2010

    klangenan…saya kira ini benar sekali…thanks for share this story…kenyataan itupun ada di Ambon kog…mayoritas warga Ambon anti RMS…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Bodrek Arsana
    October 7, 2010

    Banyak juga orang Glenmore, Genteng, Banyuwangi yang tinggal di Zoetemeer (kalo gak salah nulis) Belanda barat laut…aku sering korespodensi dengan salah satu tetua mereka yang punya rumah dan setiap tahun pulang ke Banyuwangi. istrinya Ambon dan dia bekas tentara KNIL…mereka pernah bikin reuni antara tentara Belanda dan tentara Indonesia…Dia kelahiran Glenmore dan pindah ke Belanda setelah Indonesia merdeka, ada juga imigran generasi kedua yang lari ke Belanda setelah G30S meletus dan ada stigma kepada mereka sebagai simpatisan komunis karena agama mereka kristiani…selain Belanda ada “jejak” Belgia, Inggris (Skotland) dan Belanda di Glenmore dan Kalibaru, Banyuwangi…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Gentry Amalo
    October 8, 2010

    mau passport Belanda atau passport Indonesia itu hanya sekedar kertas berisi stempel kedaulatan semata, tapi warna darah dan warna kulit yang sawo matang itu sama saja, oh ya satu lagi, aku suka huruf I yang jadi latar belakang foto mu nton,.. tetap semangat dan terus berkarya..!!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *