Mereka Pekerja, Bukan Pelacur!

31 , , , Permalink 0
Ada yang mengusikku ketika ikut diskusi terbatas sama mantan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika Selasa kemarin. Diskusi terbatas di Sanur itu membahas tentang bagaimana peran industri pariwisata dalam penanggulangan AIDS di Bali. Beberapa petinggi pelaku pariwisata di Bali hadir dalam diskusi sejak pukul 5 sore itu.

Hal yang mengusikku adalah ketika Ardika mengatakan sebaiknya media tidak usah membuat eufemisme, penghalusan, tentang pelacur dengan menyebut mereka sebagai pekerja seks komersial (PSK). “Sebut saja mereka sebagai pelacur. Dengan begitu kita tidak membenarkan mereka karena sudah berbuat salah,” kurang lebih begitu mantan menteri ini menyebut.

Aku berusaha membantahnya ketika ada kesempatan untuk ngomong menjelang diskusi berakhir. Namun, pak mantan menteri masih ngotot bahwa PSK bukanlah kata yang tepat untuk perempuan-perempuan itu. Dia masih keukeuh menyebut mereka sebagai pelacur atau setidaknya wanita tuna susila (WTS).

Maka, baiklah. Aku tulis saja di blog soal kenapa media, termasuk aku di dalamnya dan selalu kata itu yang kugunakan untuk menyebut mereka, menggunakan istilah PSK bukan pelacur.

Bagiku penyebutan PSK karena beberapa alasan.

Pertama karena menyebut mereka sebagai pelacur berarti telah menjustifikasi mereka sebagai orang yang melanggar moral. Kata melacur adalah sebuah penghakiman. Ada nilai negatif tertentu yang sudah kita lekatkan pada mereka ketika menyebut mereka sebagai pelacur. Menyebut mereka sebagai pelacur adalah stigmatisasi yang terus berulang..

Menyebut mereka sebagai pelacur bukanlah sesuatu yang empatik. Padahal seringkali PSK adalah orang yang menjadi korban. Aku belum pernah melakukan wawancara mendalam tentang prostitusi. Tapi sebatas yang pernah aku liput di lapangan, para PSK itu melakukan pekerjaan tersebut karena alasan ekonomi. Mereka tidak melacur. Mereka bekerja..

Kedua sebutan pelacur ataupun WTS juga bertendensi seksis, merendahkan perempuan. Padahal dalam banyak kasus pilihan mereka untuk bekerja di dunia prostitusi juga karena laki-laki. Terlalu klasik cerita bahwa mereka jadi PSK adalah mereka jadi korban laki-laki. Baik secara psikologis, misalnya dikhianati, atau karena ekonomi, suami tidak cukup bisa menghidupi.

Selain itu tak sedikit pula laki-laki yang jadi pekerja seks komersial, bukan hanya perempuan. Maka sebutan PSK lebih netral dibanding WTS.

Ketiga, menyebut mereka sebagai PSK adalah pengakuan bahwa perempuan-perempuan tersebut adalah pekerja. Artinya mereka punya hak untuk berserikat, punya hak mendapat upah yang layak, dan punya hak untuk menentukan kehidupan mereka sebagai manusia.

Di beberapa negara, setauku malah sudah ada serikat pekerja seks komersial ini. Malah sudah ada PSK yang jadi anggota legislatif. Di Indonesia? Jangan harap. Mengakui keberadaan mereka pun sesuatu yang sangat susah. Terlalu banyak orang menggunakan moralitas ketika berbicara tentang prostitusi, termasuk PSK di dalamnya.

Marilah mulai dari kita. Setidaknya dengan mengakui bahwa mereka memang ada. Lalu pelan-pelan mengurangi standar moral yang kita gunakan untuk mendiskusikan tentang mereka. PSK berhak mendapat pengakuan yang setara sebagai manusia, bukan dengan terus melekatkan stigma pada mereka.

31 Comments
  • imcw
    January 15, 2009

    Itulah bahasa Indonesia, penuh hiasan untuk sebuah makna. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    yap. kadang2 sampe maknanya melenceng dari maksud sebenarnya..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Luigi Pralangga
    January 15, 2009

    Bukan bermaksud ‘judgemental’ namun demikian mereka yang menjadikan ‘prostitusi’ sebagai lahan nafkah, menadikan mereka menyandang sebutan PSK..

    Salah satu pendekatan dalam nenanggulangi HIV/AIDS berkaitan dengan dunia pariwisata Bali, dalamlangkah jangka panjangnya adlah pemberdayaan masyarakat –> mengembalikkan mereka kepada profesi lain-nya, keluar dari ‘jalanan’ dan menumbuh-kembangkan nilai ‘keluarga’ dalam lingkup ketahanan terkecil masyarakat (Keluarga) .. memang ini adalah jangka panjang, namun strategis dan perli dikembangkan selain dari pada pendekatan penanggulangan HIV/AIDS.

    Mencegah adalah lebih baik daripada (terus-terusan) mengobati.. begitu halnya dengan penyelesaian masalah narkoba.

    Parenting is the anti-drug 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    mengembalikan mereka pada profesi lain seringkali jadi mimpi, kang. sudah terbukti gagal berkali2.

    yg sebaiknya dilakukan adalah realistis bahwa mereka ada lalu mencegahnya dg intervensi langsung lewat kewajiban memakai kondom.

    susahnya adalah mereka diakui keberadaannya pun tidak. jd susah utk diajak dalam program.

    ReplyReply

    [Reply]

  • blog competion
    January 16, 2009

    salam
    itu seperti bum waktu,di mana penanganan tidak bisa di lakukan sendiran,harus banyak pihak yang ikut berkontribusi,

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    betul. termasuk blogger di dalamnya. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pekerja Sek Komersil
    January 16, 2009

    mereka memang ada, dan baiknya kita tetep jujur pada istilah yang paling jujur yang kita punya…dan tak perlu menutupi diri dengan berbagai macam penghalus kata…pelacur ya pelacur, gembel ya gembel, koruptor ya koruptor, gelandangan ya gelandangan…

    simple eh 😛

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    mm, persoalannya gak semudah itu. PSK itu udah kadung mendapat stigma kalo disebut pelacur. padahal mereka belum tentu melacur. itu dia masalahnya..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nate
    January 16, 2009

    Hm…saya setuju dengan pernyataan berikut “PSK berhak mendapat pengakuan yang setara sebagai manusia, bukan dengan terus melekatkan stigma pada mereka.”…Emang mereka rata2 gak punya pilihan lain selain menjadi PSK. And yah memang tiap orang punya mindset yang berbeda dalam memandang berbagai hal….

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    semoga yg mindsetnya masih menstigma bisa berubah..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ahead
    January 16, 2009

    entahlah…. aku juga bingung masalah sebutan itu bagi mereka sebagai perempuan.
    Ada perasaan dilema dengan istilah itu. Kalau dimasukkan di kolom identitas mereka lebih suka kutulis : pekerja swasta. hehehe!!!

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    kok kamu tau, put? ada pengalaman pribadi? :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    January 16, 2009

    dan yang lebih penting bisa mencarikan solusi yang bisa mengurangi permasalahan tentang PSK tsb, jangan hanya bisa merendahkan mereka..

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    setubuh!

    yuk diajak ngeblog ajah. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    January 17, 2009

    orang2 kita masi sering mencampuradukkan moral dan pemerintahan bli! bukannya jelek, tapi terkadang urusan moral dianggap lebih utama ketimbang memanusiakan manusia…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    malah kadang2 yg merendahkan moral orang lain sampe lupa ngurus moral sendiri.

    *kok nyindir diri sendiri ya. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ida
    January 17, 2009

    PSK juga manusia…..
    Dan setiap manusia butuh yang namanya pengakuan!!

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    yoih.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dewi Pinatih
    January 19, 2009

    setuju dengan bli suryawan…. kya kata bang Iwan, soal moral biar jadi urusan masing – masing.
    Kita ga akan pernah bisa memahami alasan mereka memilih pekerjaan itu selama kita tidak ada dalam posisi mereka, means kita ga berhak menghakimi mereka karena kita tidak betul2 bisa memahami mereka…
    Kita hidup bermasyarakat pake hukum duniawi yang berlaku aja, soal moral n agama bisa jadi urusan pribadi masing – masing kan 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    sepakat. yg lebih penting adalah menghargai mrk as human being, not just blame them..

    ReplyReply

    [Reply]

  • adit
    January 19, 2009

    Ah, kalau hanya beragumen dengan logika memang tidak akan ada habisnya dan semuanya menjadi relatif.

    Menawarkan seks untuk uang, menurut saya, tidak pernah dan tidak akan menjadi sesuatu yang mulia. Tidak perlu pusing apakah psk itu laki-laki atau perempuan, melacur tetaplah sesuatu yang merendahkan para pelakunya sendiri.

    Saya tidak habis pikir kalau para so-called psk malah diberi hak untuk berserikat, bukankah itu melegalkan sesuatu yang tidak benar? Secara nurani, melacur merupakan perbuatan hina, dan pembenaran yang disampaikan hanyalah pemikiran yang menggampangkan saja. Seolah-olah kalau berhenti menjadi “psk” tidak akan hidup.

    Hidup adalah pilihan, “keterpaksaan” yang sering dilontarkan oleh para psk, menurut saya, adalah kata-kata pesimis dan fatalis. Itu hanya dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak mau berpikir lebih cerdas dan malas untuk percaya dengan pertolongan Tuhan.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    ini hanya omongan orang yang melihat PSK dari kacamata moral. tidak ada yg menggampangkan diri ketika jadi PSK. trlalu banyak faktor.

    tidak bisa kemudian digeneralisir sbg orang fatalis dan pesimis. justru dg cara bekerja sebagai PSK itu mereka yakin bahwa mereka bs mengubah nasib.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Rian Xavier
    January 20, 2009

    Penggunaan tata bahasa Indonesia itu. =)

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    maksudnya? 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • dani
    January 22, 2009

    di KBBI Daring disebutkan:

    me·la·cur v
    berbuat lacur; menjual diri (sbg tunasusila atau pelacur);

    pe·la·cur n
    perempuan yg melacur; wanita tunasusila; sundal;

    knapa cuman buat perempuan ya..yg laki2 dan banci?
    saya pribadi tdk setuju jika layanan alat kelamin/pemuas nafsu seks dijual utk disebut sbg pekerjaan, itu kalo hub seksual=melacur

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    nah kan. sebutan pelacur itu terlalu seksis, merendahkan perempuan..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Wijaya
    January 28, 2009

    Ardika ngomong seperti itu mungkin karena banyak alasan. Apapaun alasannya; kebiasaan menghakimi sudah terlalu mendarah daging di Indonesia.

    Saya sendiri bukan pengguna, hanya saya bersimpati. Tentu akan sangat absurd kalau kemudian harus meminggirkan “kelompok ini”

    Jika kemudian penyebaran HIV/AIDS sebagai ancaman, kenapa pembinaanya tidak pernah tuntas? Kenapa malah “pemerintah dan masyarakat” yang sok moralis seperti “meletakan mereka di posisi yang tidak penting?”

    Kalau boleh, serikat “pekerja seks komersial” sebaiknya di adakna saja untuk mempermudah pendataan dan pembinaan baik secara “finansial dan kesehatan mereka”

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    sayangnya diakui keberadaannya saja tidak. jd para PSK itu terlalu susah utk berserikat..

    ReplyReply

    [Reply]

  • yuna
    January 29, 2009

    setuju banget sama bung wira, ketimbang repot2 nyuruh wartawan utk nyebut “mereka” pelacur ketimbang PSK, mending carikan lapangan pekerjaan buat mereka., saya yakin tak ada yang ingin berada di posisi “mereka”..
    bahkan mereka pun lebih terhormat ketimbang koruptor..

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    mari kita minta pak ardika utk membuka lowongan kerja buat PSK kalo begitu. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • iPul dg. Gassing
    May 22, 2012

    katanya di Jerman PSK sudah punya serikat ya..
    dan mereka benar2 dianggap sebagai pekerja, ada partainya dan ada yang mewakili di legislatif.
    mereka juga punya hak cuti dan tunjangan kesehatan..

    keren ya..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *