Mereka Peduli. Anda Tidak, Pak Menteri..

1 , Permalink 0

Ketika Kedutaan Amerika Serikat mengundangku sebagai embedded blogger, diam-diam aku meratap juga.

Kalau Amerika begitu peduli pada warga dunia maya (netizen) khususnya blogger, kenapa justru pemerintah Indonesia begitu ketakutan terhadap kami? Kalau Amerika memberi tempat begitu istimewa pada blogger, kenapa pemerintah tak pernah mengajak kami? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang mengusik kepalaku.

Pertanyaan plus gugatan itu muncul lagi setelah akhirnya Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika mengundangku sebagai embedded blogger pada kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton di Indonesia. Hillary hadir pada pertemuan menteri-menteri luar negeri ASEAN di Bali pada 21-24 Juli 2011.

Aku tak tahu pasti alasan mereka mengajak blogger. Aku hanya tahu pasti bahwa proses ini tak mudah. Sempat tarik ulur. Aku pun sempat ragu-ragu kalau mereka jadi mengajakku.

Sekitar seminggu sebelumnya, Dian Agustin, staf Kedubes AS menelponku. Dia bertanya apakah aku bersedia jadi embedded blogger atas nama pengelola Bale Bengong selain juga blog pribadiku. Aku mengiyakan. Tapi, mereka akan usulkan dulu ke Washington.

Untuk itu aku harus kirim biodatalah, data tentang bloglah, dan semacamnya. Proses yang bagiku agak lama dan tidak pasti. Padahal aku bahkan sudah membatalkan rencana liputan ke Sulawesi Tenggara.

Dua hari menjelang hari H, barulah aku dapat kepastian aku kalau mereka jadi mengajakku sebagai embedded blogger. Aku senang bukan kepalang. Ini kesempatan yang belum tentu akan terulang, jadi embedded blogger tokoh yang oleh majalah TIME pernah disebut sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia.

Tentu saja upaya Amerika ini tak lepas dari keinginan Amerika untuk menggunakan blogger sebagai pengeras suara bagi kepentingan mereka. Aku dengan sangat sadar sedang dijadikan corong kepentingan mereka membangun citra. But, so what?

Aku ambil positifnya saja. Inilah bukti bahwa Amerika memberikan perhatian amat besar pada blogger, sesuatu yang justru tidak dilakukan pemerintah Indonesia. Aku jadi bisa belajar bagaimana mereka mengajak blogger.

Besarnya perhatian itu terlihat dari bagaimana pentingnya blogger ini bagi mereka. Mereka hanya mengajak empat orang untuk embedded dengan tim media Hillary. Empat orang itu, dua di antaranya adalah fotografer dan videografer internal mereka, satu kameramen kantor berita AP, dan satu blogger: aku.

Ketika media arus utama tak diajak, Amerika justru mengajak blogger, sesuatu yang selama ini tak dianggap oleh pemerintah Indonesia.

Di Bali, pemerintah tak pernah mengajak kami sama sekali. Justru sebaliknya, beberapa kali kami di Bali Blogger Community (BBC) ataupun Bale Bengong yang mengundang mereka datang ke kegiatan kami. Mereka ya datang. Tapi tak ada perbincangan serius bagaimana kami bisa bekerja sama.

Salah satu jawaban yang pernah kami terima justru membuatku mengelus dada. “Kami tak bisa kalau bekerja sama dengan lembaga tidak resmi,” kata pimpinan Dinas Informasi dan Komunikasi Denpasar pada sebuah diskusi.

Blogger di Bali memang tak terikat pada sebuah lembaga resmi. Kami memilih jadi komunitas cair tanpa aturan formal maupun struktur organisasi baku. Jadilah, hingga saat ini mereka tak pernah mengajak kami dalam kegiatan terkait teknologi informasi dan semacamnya.

Di tingkat nasional pun rasanya tak jauh beda. Dibanding memberikan dukungan, misalnya, pendampingan atau fasilitasi, Kementerian Komunikasi dan Informasi justru lebih senang menciptakan aturan-aturan yang mengekang kami. Ancaman penjara, blokir internet, dan semua yang menghambat justru dibuat oleh menteri.

Jadi, sudah tidak mendukung, pemerintah justru menghambat kami. Inilah yang layak untuk diratapi.

1 Comment
  • Tumik
    September 10, 2011

    hebat..
    anak-e mak-e rek 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *