Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara

15 , , , Permalink 0

Kembali, kupenuhi janjiku dalam hati untuk menemui anak-anak itu. Hari ini adalah kali keempat aku mencari anak-anak tukang suun di Pasar Badung tersebut. Tapi kali ini pun gagal. Aku tak menemukan anak-anak yang pernah aku ajak ngobrol akhir Juli lalu itu.

Minggu lalu, bersama Bunda dan Bani, setengah mati aku ubek-ubek pasar terbesar di Bali itu untuk menemukan mereka. Tapi, seperti hari ini, aku juga tak menemukan satu di antara mereka.

Padahal, Juli lalu aku bisa ngobrol dengan setidaknya lima di antara puluhan anak-anak tukang suun itu. Informasi yang aku dapat juga sudah banyak saat itu. Anak-anak tukang suun itu memberikan jasa membawakan belanjaan orang yang belanja di pasar. Barang seberat bahkan ada yang sampai 50 kg itu diangkat di kepala. Paling banyak mereka bisa dapat Rp 5000 sekali junjung.

Berumur antara 7-10 tahun, mereka harusnya sekolah. Tapi mereka harus meninggalkan kampung halamannya, sebagian besar dari Tianyar, Karangasem, dan tinggal di Denpasar tanpa orang tua. Mereka tak sekolah. Hidup tanpa wali. Karena itu sejak awal aku berniat untuk mencari mereka ke kosnya juga. Tak hanya ngobrol di pasar.

Hari ini, janji dalam hati itu kupenuhi. Aku main ke tempat kos anak-anak itu karena tak menemukan mereka di pasar. Menurut tukang suun lainnya, anak-anak itu sudah pulang dari pukul 10 pagi lalu kembali pukul 4 sore.

Dari informasi tukang suun di pasar, aku mencari tempat kos anak-anak itu di jalan Gunung Batur. Persisnya di Banjar Penyaitan, yang awalnya aku pikir Banjar Penyakitan.

Aku tak bisa menemukan anak-anak yang dulu pernah ngobrol sama aku itu. Tempat kos itu memang untuk anak-anak tukang suun. Tapi anak-anak itu tidak ada di sana. Aku hanya ketemu dengan puluhan anak lainnya. Dan, di tempat ini pula aku mendapat cerita dan sisi lain dari gemerlap Denpasar. Inilah cerita mereka yang kalah..

Gang yang aku kunjungi hari ini adalah salah satu gang kumuh di Denpasar. Di gang itu, para pemimpi dari daerah pinggiran datang menyerbu kota. Berduyun-duyun mereka datang dari Tianyar, Karangasem untuk ikut menikmati gemerlap Denpasar. Tapi inilah mereka temui.

Mimpi itu terhenti, setidaknya sampai saat ini, di ruang tak lebih dari 3×3 meter persegi, di mana mereka tinggal. Kamar, mungkin lebih tepat bilik, berdinding bambu di mana sekaligus jadi kamar tidur, ruang keluarga, tempat bermain, nonton TV, dan semua kegiatan yang mereka lakukan di rumah. Bilik itu satu-satunya tempat di mana mereka sebut sebagai rumah.

Atapnya seng. Lantai tanah, becek di sana sini. Bilik-bilik itu berderet dengan penghuni berbeda keluarga tiap biliknya. Satu tempat kos yang aku kunjungi saja ada tiga keluarga dengan setidaknya lima kepala.

Jauh meninggalkan desa, kekalahan yang mereka dapati. Bukan karena mereka malas. Tapi karena tidak ada cukup akses pada modal yang mungkin bisa mengubah nasib mereka. Kemiskinan, kata peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen, tidaklah terjadi karena kemalasan. Tapi karena kurangnya atau malah tidak adanya peluang untuk mereka.

Jangan bilang mereka kalah karena malas. Tiap hari mereka berjalan setidaknya 5 km selama 30 menit dari tempat kos ke pasar untuk menjajakan jasa. Lalu selama hampir 10 jam mereka bekerja, sejak pukul 6 pagi sampai –kadang-kadang- 8 malam. Beban yang mereka junjung di atas kepala bisa sampai 5 kg.

“Tapi paling banyak dapat dua puluh ribu sehari, Pak. Buat beli susu saja sudah habis,” kata Bu Wayan, satu di antara mereka. Perempuan dari Tianyar ini tinggal dengan tiga anak dan satu cucu. Anak perempuannya, baru berumur 10 tahun, juga jadi tukang suun.

Inilah cerita tentang mereka yang kalah. Bukan karena mereka malas, tapi karena Negara yang tidak bertanggung jawab. Pembangunan hanya terpusat pada kota. Maka laron-laron itu datang mengerubung lampu bernama kota itu.

Ironisnya, ketika laron itu datang, Negara menganggap mereka sebagai sampar. Mereka harus dihilangkan dari pandangan. Kemiskinan tidak boleh terlihat di depan mata. Negara kadang terlalu sombong mengakui mereka. Mungkin juga karena Negara tak punya cukup akal untuk mengatasi kemiskinan itu.

Maka, tak sedikit aparat yang malah menangkap mereka untuk dikembalikan ke asalnya. Seperti menggarami air laut. “Setelah itu kami kembali lagi ke sini,” kata Bu Wayan.

Laron-laron itu lalu kembali. Mengejar mimpi. Lalu terperangkap pada kekalahan yang sama. Terus berulang..

15 Comments
  • tebeh ferror
    September 13, 2008

    ekspresi yang ada di foto foto itu sama , setiap urat diwajah mereka mencerminkan muka indonesia yang sebebernya. jadi inget kick andy semalem

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    maaf kalau tidak nyaman. tp itulah kenyataan..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    September 13, 2008

    seperti biasa, sangat emosional, ayah. u r very good narator. more, more, more

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    ini pembajakan nama. hihihi..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    September 13, 2008

    maaf, saya khilaf karena gak logout dulu. yang komen atas nama ini adalah men bani ya. mahap. maklum, megarang nganggo komputer

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    dimaklumi, bunda. mmuah!

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    September 13, 2008

    Speechless.. Jadi apa yang bisa kita lakukan buat mereka bli? Membubarkan negara ini kah?

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    sesuai dharma masing2. aku bisanya cuma nulis mrk. tp setidaknya melakukan sesuatu. daripada cuma diam. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    September 14, 2008

    Dilematis. Sisi kemanusiaan kita akan memberi kasih ke mereka dengan merelakan apa yg kita punya. Tapi apakah itu mendidik ? (Ini bagi pengemis di lampu merah). Lebih baik mengkaryakan diri drpd mengemis. Kembali lagi ke nurani kita utk menolong mrk supaya termotivasi mencari penghasilan lebih, bahkan ilmu yg lebih supaya mereka tdk ‘kalah’.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    kalo utk gepeng mgkn bener. tp utk tukang suun, bagiku salah.

    mereka udah bekerja keras. dan mrk berhak mndapat apa yg mereka peroleh: biaya atas jasa yg diberikan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    September 15, 2008

    bingung mau komen apa… mau gimana lagi pak, negara ini sudah terlilit oleh lingkaran setan…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    ayo tulis lbh banyak soal spt ini aja, pak dosen. paling tidak mengetuk nurani orang lain. soal bagaimana dampaknya, itu urusan belakang. setidaknya kita peduli aja dl.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yuhendra
    September 19, 2008

    wah bang,
    asli pada saat pertama kali saya baca postingan abang yang ini “merinding” bulu kuduk saya, sebuah postingan yang menggugah hati, dan saya juga tidak mampu berkomentar banyak,…

    oh ya bang (bang bahasa bali-nya = “beli” ya kan?) tukang su un baru saya dengar kalo di medan sumut sebutannya beda bang “penjual plastik asoy” kurang lebih sama,.. tapi saya sangat tertarik dengan postingan ini,…

    Bravo bang

    Salam kenal

    Yuhendra

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    terima kasih sudah berkomentar. semoga bang hendra jg bs brbagi hal yg sama..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    September 22, 2008

    pengen nangis aku Pak De … merinding bener bacanya … apa yah yg bisa kita perbuat ?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *