Merawat Tumbuhnya Suara-Suara Berbeda

1 , , , Permalink 0

Tatkala.co

Pagi-pagi grup WhatsApp Bali Blogger sudah ramai Jumat kemarin.

Pemicu obrolan kali ini soal pencabutan tulisan Kemerdekaan ala Perempuan Bali: Keterikatan Abadi oleh penulisnya, Kadek Sonia Piscayanti. Tulisan itu pernah dimuat Tatkala.co

Sebagaimana dituliskannya di Facebook, Sonia mencabut karena “Tulisan ini telah menimbulkan polemik di media sosial sehingga sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan hal-hal yang tak kita inginkan.”

Tapi, mantra di dunia maya memang berlaku. Sekali kamu mengunggah di Internet, selamanya jejak itu tetap ada di sana. Begitu pula dengan tulisan Kadek Sonia.

Meskipun dia telah menghapusnya, tulisan itu bisa ditemukan di beberapa website lain. Di sana aku bisa membaca tulisan dosen dan penyair yang tinggal di Singaraja tersebut.

Secara umum, tulisan Sonia membahas lemahnya posisi perempuan di Bali. Menurutku, Sonia benar adanya. Dia pasti berangkat dari pengalaman pribadi ataupun berkaca dari lingkungannya.

Di grup Bali Blogger, semua teman juga mengiyakan pendapat itu.

Aku tidak tahu persis bagaimana diskusi di Tatkala terhadap tulisan itu. Aku tak sempat membacanya. Tapi, aku menduga, Sonia diserang banyak orang atas pendapat yang amat berbeda tersebut.

Sayang banget sih Sonia kemudian menghapus tulisan itu. Sebuah pendapat kan tidak bisa diadili. Apalagi sampai kemudian penyampai pendapat itu diserang secara pribadi.

Namun, hal menarik bagiku kemudian justru pada bagaimana media-media semacam Tatkala itu terus lahir di Bali. Mereka membawa informasi dan sudut pandang berbeda dibandingkan media arus utama.

Sebelum itu, penting untuk melihat bagaimana perkembangan media arus utama di Bali saat ini.

Di media cetak, media-media lama masih ada. Media baru juga bermunculan. Sekadar menyebut sih ada penguasa lama seperti Bali Post, Radar Bali, Nusa Bali, Fajar Bali, dan Warta Bali.

Di luar pemain-pemain lama itu, ada juga media-media baru. Bali Tribune milik grup Gramedia dan Pos Bali, yang didirikan barisan sakit hati Bali Post juga ikut mewarnai dinamika media di Bali.

Di media daring, bejibun banyaknya. Aku tulis saja yang terlintas di ingatan sekarang: Berita Bali, Kabar Dewata, Suluh Bali, Metro Bali, Suksesi News, Dewata News, Semeton News, Suara Dewata, Ini Bali, Kabar Nusa, Berita Dewata, Bali Berkarya, Baca Bali, dan (mungkin) lebih banyak lagi.

Media-media daring baru di Bali tumbuh serupa jamur.

Tapi ya kepemilikan saja yang berbeda. Isi media-media itu sebagian besar hanya setali tiga uang. Topik sama. Narasumber sama. Sudut pandang sama. Keberagaman media daring di Bali masih sebatas nama dan pemiliknya. Belum materinya.

Di antara tumbuhnya media-media arus utama itu, lahir pula media-media alternatif. Mereka dikelola oleh komunitas atau pribadi dengan tujuan non-profit.

Sekadar menyebut sih ada BaleBengong (tentu sajaaaaa! Hahaha), Tatkala, Pop Bali, Bali Saja, Nusa Penida Media, dan Kulkul Bali. Mungkin ada beberapa lain yang aku tak tahu.

Hal yang membedakan dari media-media alternatif ini selain dari materi juga dari gaya tulisan dan sudut pandangnya. Mereka menawarkan perspektif agak berbeda dibanding media arus utama.

Itu menariknya. Media alternatif ini bisa menjadi ruang diskusi. Tidak semata mengejar klik lalu ujung-ujungnya uang semata.

Dalam obrolan di WhatsApp, Made Adnyana Ole, teman sesama wartawan di Singaraja yang mengelola Tatkala, berujar. “Aku hanya ingin anak-anak tak takut berpikir dan beda pendapat,” tulisnya tentang kenapa dia membuat media alternatif Tatkala.

Sebagaimana kami di BaleBengong, Ole hanya ingin menyediakan ruang lebih banyak untuk berdebat lewat tulisan, sesuatu yang pernah ada di Bali tapi kini makin hilang. Betapa asyiknya jika wacana dilawan dengan wacana.

Sayang sekali jika perdebatan-perdebatan semacam itu lalu dijawab dengan caci maki atau menyerang penulis secara pribadi, seperti dalam kasus Sonia. Tanpa diskusi, tidak akan ada peradaban di Bumi.

1 Comment
  • Redocrominon
    November 22, 2016

    Terima kasih ya Anton, tulisan ini jernih. Nanti saya ceritakan apa yang terjadi. Secara umum saya bisa katakan bahwa kritik langsung belum bisa diterima, apalagi oleh perempuan Bali. Ya kompleks persoalannya. Perlu perjuangan panjang, yang jelas saya tak berhenti. Terima kasih ya. Salam

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *