Merasakan Beban Ganda Anak-anak ODHA

3 , , Permalink 0

Rasanya pengen nangis lihat anak-anak itu.

Sebenarnya, mereka biasanya ceria. Setidaknya begitu kata teman-teman yang menemaniku liputan hari ini. Namun, pas aku ke sana, ternyata dua anak ini lagi sakit.

Anak pertama, sebut saja Putu Bagus, berusia 7 tahun. Bapaknya sudah meninggal. Murid  kelas I ini tinggal dengan ibu dan kakek neneknya di Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, sekitar 65 km utara Denpasar.

Dia baru pulang sekolah ketika aku dan kawan-kawan Yakeba tiba di rumahnya. Dia terlihat tanpa gairah. Tatapan matanya kosong. Wajahnya tanpa senyum sama sekali. Suhu tubuhnya lebih panas ketika aku meraba dahinya.

“Sakit demam dari kemarin,” kata Putu Kesiut, ibu Bagus. Suami Kesiut meninggal dua tahun lalu meninggalkan HIV di tubuh perempuan berumur 27 tahun ini. lalu, Kesiut menularkan pada anak semata wayangnya, Bagus.

Dengan HIV di tubuhnya, Bagus harus menerima stigma dan diskriminasi, dua hal basi yang terus saja terjadi. Ketika dia baru masuk sekolah, ibunya bercerita, tak ada satu pun teman di sekolah yang mau berteman dengannnya. Alasannya sama, takut tertular HIV darinya.

“Saya sampai datang ke sekolah dengan nangis. Air mata saya tak bisa berhenti ketika saya marah-marah protes kenapa anak saya digituin sama teman-temannya di sekolah,” cerita ibu Bagus.

Kini, diskriminasi itu sudah tak ada lagi. Setidaknya tak ada lagi yang menghindari Bagus pas di sekolah. Tapi, ya tetap hal tak mudah bagi mereka dengan HIV di tubuhnya. Selain harus ekstra menjaga tubuh, karena infeksi oportunistik bisa menyerang mereka kapan saja, juga karena mudahnya mereka kena stigma.

Siang tadi, selama aku di rumahnya, Bagus sama sekali tak bicara. Tatapan matanya yang kosong dan tubuhnya yang tanpa gairah itu benar-benar membuatku trenyuh. Aku bayangin bagaimana rasanya kalau Bagus adalah Bani, anakku sendiri. Umur mereka tak jauh berbeda.

Bapak Sudah Mati
Namun, aku lebih pengen nangis lagi pas ketemu Putu Agus, anak kedua yang aku temui hari ini bareng teman-teman Yakeba, Moyong, Desak, dan Fais. Di umurnya yang baru tiga tahun, anak ini harus kehilangan dua orang tuanya. Dia yatim piatu.

Bapak ibu Putu Agus meninggal karena infeksi oportunistik juga. Keduanya orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Bapaknya meninggal Oktober lalu. Kemudian ibunya meninggal baru dua minggu lalu.

Kini Agus tinggal dengan kakek dan neneknya di Desa Timpag, Kerambitan. “Kalau ditanya bapaknya di mana, dia hanya bilang, ‘Bapak sudah mati,’” kata neneknya.

Siang itu Bagus baru bangun tidur. Dia juga tak senyum sama sekali. Selama sekitar 1,5 jam di sana, dia tak turun dari gendongan kakek atau neneknya. Bolak-balik digodain, dia juga tak merespon sama sekali.

Ada kerutan di keningnya seperti orang yang terus serius berpikir. Kulitnya terlihat berbintik-bintik sisa penyakit gatal. Setauku, jamur kulit memang salah satu infeksi oportunistik yang paling sering menyerang ODHA. Bagus pun mengalaminya.

Tanpa reaksi, tanpa senyum sama sekali, Bagus seperti sudah menceritakan dalam diamnya.

Tak tahulah. Aku memang lebay urusan beginian. Melihat “beban” orang lain sedikit saja bisa dengan mudah ikut-ikutan mewek meskipun yang dilihat belum tentu segitunya.

Tapi, melihat anak-anak ini, apalagi karena hari ini mereka memang sakit dan ngantuk, aku seperti merasakan beratnya beban mereka, yatim atau bahkan yatim piatu dengan HIV dalam tubuh mereka. Itu tak mudah. Terlalu banyak cerita tentang stigma dan diskriminasi di pulau ini.

Catatan: pemuatan foto ini sudah melalui izin orang tua atau pengasuh anak-anak tersebut namun tetap dengan menyamarkan agar tidak jelas wajahnya.

3 Comments
  • Megi Tristisan
    February 19, 2012

    kasiiian sekali ya…..

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    February 23, 2012

    Saya tidak mau cerita banyak, tapi belakangan ini saya benar-benar melihat sendiri bagaimana keluarga yang mengalami duka seperti ini. Mereka, anak2 yang ditinggalkan benar-benar sangat menderita, belum lagi ditambah dengan stigma yang mereka terima.

    Saya heran, stigma ini muncul bukan dari kalangan awam, tapi juga orang-orang berpendidikan dan seharusnya bisa berbuat lebih berwawasan. Saya kecewa karena mereka yang seharusnya bisa memberi ketenangan malah makin memperburuk keadaaan.

    **apaan sih

    Tapi bener pak, saya benar-benar kasihan dengan anak-anak yang seperti ini, jangankan yang ikut tertular, yang menjadi yatim piatu gara-gara kedua orang tuanya meninggal itu saja sudah benar-benar membuat saya ikut meneteskan air mata.

    ReplyReply

    [Reply]

  • HeruLS
    February 23, 2012

    Ooouh, di sinilah pentingnya dukungan lingkungan untuk tumbuh kembangnya

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *