Menyantap Nasi India di Depan Toko Cina

4 No tags Permalink 0
Setelah terakhir kali diadakan 44 tahun lalu, -itu sih kata Pak Darma Putra dalam tulisannya di Bale Bengong-, Festival Gajah Mada kembali diadakan tahun ini. Sore tadi, aku bareng Bunda dan Bani pun ke sana untuk tahu seperti apa kemeriahan festival ala Kota Denpasar ini.

Awalnya aku pikir festival ini diadakan sepanjang Gajah Mada, jalan yang masuk bagian dari kota tua Denpasar. Ternyata bukan. Hanya sebagian, tak sampai separuh, jalan yang dipakai perayaan ini.

Dari arah pertama masuk, karena jalan ini satu arah, Jalan Gajah Mada panjangnya mulai dari perempatan Jl Sutomo – Jl Thamrin sampai perempatan Jl Udayana – Jl Veteran. Ada beberapa perempatan sepanjang jalan ini seperti Jl Sulawesi – Jl Kartini dan Jl Sumatera dan Jl Arjuna. Ternyata festival selama tiga hari ini hanya digelar di mungkin sepertiga jalan tersebut. Dari perempatan Jalan Sulawesi – Jl Kartini sampai perempatan Jl Sumatera – Jl Arjuna.

Candi bentar terbuat dari stereoform bercat coklat mirip batu berhiaskan ukiran bali jadi pintu utama masuk kawasan festival ini. Tapi kok setelah candi bentar ini langsung berganti suara-suara motor yang memekakkan telinga, dan sangat tidak akrab. Ah, rupanya para pecinta motor besar ikut di pawai ini. Seneng sih melihat komunitas bisa terlibat dalam even semacam ini. Tapi kok suara motor yang besar-besar itu sangat mengganggu ya bagiku.

Aku pikir suara motor itu pula yang mengganggu Bani. Sebab ketika kami masuk kawasan itu, Bani menjerit-jerit ketakutan. Agak aneh bagiku. Tumben-tumben dia begitu takut sampai meronta-ronta di gendongan. Dia tidak mau masuk kawasan itu dengan raut wajah ketakutan. Tangannya mencakar mukaku saking takutnya.

Rupanya bukan motor itu yang membuat Bani ketakutan. Sebab dia tidak melihat ke arah motor-motor itu. Dia melihat ke patung gorilla besar yang menggendong dua anak. Patung itu mirip ogoh-ogoh. Patung ini bukan Rangda, mitos makhluk jahat dalam budaya Bali, tapi gorilla berbulu hitam.

Bani bener-bener ketakutan melihatnya. Dia menangis ngotot tidak mau masuk. Ketika akhirnya kami “paksa” untuk masuk kawasan itu Bani masih ketakutan. Dia nangis terus sampai aku harus mengajaknya keluar untuk kemudian balik lagi.

Karena Bani yang terus ketakutan itu, aku jadi heran juga dengan patung gorilla di festival itu. Kira-kira buat apa sih dipajang di sana? Aku maklum kalau patung itu patung celuluk, rangda, atau patung lain yang nyambung dengan Bali atau Denpasar. Tapi patung gorilla, aku tidak ngerti di mana nyambungnya?

Maka, gara-gara patung sialan itu, aku tidak bisa menikmati festival sepuasnya. Hanya bisa melihat tiba-tiba di timur sana banyak balon warna-warni beterbangan. Oh, rupanya Walikota Denpasar baru saja membuka festival ini.

Biarin dah. Aku pilih menikmati saja sebisanya. Ada anak-anak marching band berpakain serba putih sedang bersiap-siap menunggu giliran tampil. Ada anak-anak remaja berdandan ganteng dan cantik dengan pakaian batik endek, batik khas Denpasar. Ada bapak-bapak bawa beduk dan rebana berpakaian muslim antri juga. Di sisi timur, ada juga tiga bapak sedang asik sama kudanya. Mereka semua menunggu giliran tampil untuk menunjukkan betapa beragamnya Denpasar pada pawai pembukaan.

Festival tiga hari itu sendiri diisi dengan beragam kegiatan. Selain pawai pada pembukaan, juga ada Food Festival. Ini bagian yang paling kusuka, berburu makanan. Begitu juga sore tadi.

Berbeda dengan Food Festival setahun lalu di jalan Veteran yang melulu menampilkan menu tradisional Bali, festival kuliner kali ini lebih beragam. Selain tetap berbagai menu tradisional Bali juga ada menu chinese food dan indian food. Cina dan India memang sangat terasa di kawasan Gajah Mada. Bahkan jalan Gajah Mada sendiri bisa disebut sebagai China Town-nya Denpasar.

Di sekitar jalan Gajah Mada seperti jalan Sulawesi bisa pula disebut Kampung Arab karena banyak warga keturunan Arab, juga sebagian India, tinggal di sini. Maka, kawasan ini bisalah disebut pusat keragaman Denpasar. Begitu pula makanannya.

Puas menyantap es campur isi ketan hitam, bubur hijau, dan gula merah kental campur potongan singkong, aku pindah ke menu masakan India di sebelahnya. Di warung India ini aku pilih nasi kebuli. Aku tertarik coba karena belum pernah makan sama sekali sebelumnya.

Btw, ini pilihan yang salah. Seharusnya aku makan yang berat dulu, nasi kebuli, baru ditutup dengan es campur. Tapi ya gimana lagi. Sudah kadung. Jadi ya dilanjut saja meski perut sudah penuh gara-gara es campur.

Sekilas, menurutku, nasi kebuli itu mirip nasi kuning. Bedanya dia tidak sampai pakai kunir untuk membuatnya. Dari wujud dan rasanya sih sepertinya hanya pakai bumbu kare. Jadi gurih banget. Ukuran porsinya terlalu banyak bagiku. Apalagi perutku sudah penuh duluan.

Ada beberapa pilihan nasi kebuli, tergantung lauk. Aku pilih nasi kebuli kambing dari pilihan lain, ayam dan sapi. Menu ini dilengkapi dua tusuk sate kambing dan satu daging kare kambing. Sayurnya acar dari ketimun dan nanas. Agak aneh juga makan dengan sayur nanas. Tapi tetep menarik dicoba.

Rasa menu India ini tidak istimewa-istimewa amat. Tapi suasanya yang asik. Soale aku menikmati menu ini di antara deretan toko Cina, sebagian besar adalah toko obat. Karena itu tadi, jalan Gajah Mada adalah pecinannnya Denpasar. Ya tentu saja asik. Menikmati makanan India di antara deretan toko Cina, what a great multicultural experience i have..

Asiknya lagi, pas lagi asik makan, orang di belakangku persis menyapaku. Walah, ternyata Dea, teman fotografer AP. Lama tidak ketemu, ternyata kami bertemu di sana. Setelah itu di tiba-tiba Bunda juga berseru, “Itu Pak Darma..” Ternyata di belakangku, di warung sebelah, ada Pak Darma sama istrinya sedang menikmati makanan bali. What a surprise, ternyata aku ketemu juga sama Pak Darma, yang baru balik dari Australia, di festival itu. Soale sudah berkali-kali mau ketemu gagal terus. Malah di festival ini kami bertemu..

Mungkin begitu pula bagi banyak orang lain. Festival Gajah Mada tak hanya jadi tempat bertemu dengan beragam budaya, tapi juga teman-teman lama.

4 Comments
  • sherly
    December 30, 2008

    Denpasar tambah asyik aja nih…. ada berbagai macam aktifitas…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    yoih. jd kapan mudik? hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • vanudin
    December 31, 2008

    Jangan sampe deh kesenian Bali direbut sama Negara tetangga….

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    walah. sekarang sih udah dikuasai negara mana2. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *