Menyama Braya di Hari Natal

14 No tags Permalink 0
Kami (Aku, Bunda, dan Bani) baru saja sampai rumah. Abis dari rumah Fenny, si ratu ngebor, eh, ratu kopdarnya Bali Blogger Community (BBC). Dari pukul enam teng tadi, kami di sana. Ikut menikmati perayaan Natal. Kasihan juga Fenny merayakan Natal sendiri di rumahnya yang bagus tapi agak berantakan itu. Hehe..

Tak hanya kami yang datang ke rumah Fennyi di daerah jalan Gunung Agung, di sekitar Pasar Loaknya Bali itu. Ada Novan, Efi, Eka, dan tiga perempuan jalang lain di sana. Acaranya, tentu saja, makan-makan. Sebab, apalah artinya hari raya tanpa pesta. Hwahaha..

Menu makannya enak. Sate udang, gurami bakar, usus buntu –eh salah, usus bumbu-, dengan sambal ulek puedes tenan. Cuma untuk makan enak ternyata perlu perjuangan. Aku harus mandi asap dulu, jadi tukang sate dulu.

Pas makan, waah, uenak tenan. Tapi itu tak hanya karena rasanya. Juga karena rasa lapar yang memang kami bawa. Sejak dari rumah, berangkat pukul empat karena kami ke toko buku Gramedia dulu, perutku sudah keroncongan. Maunya makan mie dulu sebelum berangkat tapi Bunda bilang tidak usah. Yowis. Kami pun berangkat dengan perut yang merana.

Untunglah lapar itu terobati juga setelah berjuang keras untuk bikin sate udang dulu. *Gaya, padahal bagianku cuma kipas-kipas. Hehe..

Tak hanya di rumah Fenny kami menikmati Natal. Kemarin sore, kami juga makan-makan setelah Pak Antonio, tetangga kami yang merayakan Natal, mengirim jootan –hadiah saat hari raya dalam tradisi Bali- ke rumah. Menunya nasi campur ala Bali: nasi putih, ayam suwir, mie goreng, dan sambal goreng.

Bukan makanannya yang istimewa, tapi pemberian saat hari raya tersebut. Sebab itu artinya kami menjadi bagian dari perayaan Pak Antonio, meski kami berbeda agama.

Maka ketika baru makan dua suap nasi itu, aku tiba-tiba berpikir untuk datang ke rumah Pak Antonio saja dulu. Aku mau melihat bagaimana keriuhan Natal di rumah pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Bali itu. Soale Gede dan Putri, dua anak yang mengantarkan jootan itu bilang kalau ibu-ibu tetangga kami sedang menyiapkan jootan di sana.

Benar saja. Ada Bu Wayan, Bu Adit, dan Bu Putri sedang duduk lesehan di ruang tamu yang penuh makanan. Tak ada satu pun dari mereka yang merayakan Natal. Mereka campuran Hindu dan Muslim. Tapi lihatlah. Mereka sibuk menyiapkan jootan untuk merayakan Natal Pak Antonio. Ibu-ibu tetangga kami di gang kecil jalan Subak Dalem itu memasukkan nasi, sambel, telur, ayam, dan semua bahan di jootan dalam satu kertas bungkus nasi di atas ingke, pirin dari anyaman bambu.

Setelah menu siap, Gede dan Putri –dua anak remaja di gang kami- akan mengantarkan jootan itu ke sekitar 15 rumah di gang kami yang memang sangat beragam latar belakang agama, sosial, ekonomi, dan seterusnya.

Tiap hari raya, selalu ada tradisi jootan itu. Siapa yang merayakan hari raya maka dia yang akan membaginya ke rumah-rumah mereka yang tidak merayakan. Kami yang merayakan Lebaran akan panen jootan, berisi buah dan jajan tradisional Bali lain, saat Galungan. Malah biasanya sampai terbuang karena saking banyaknya jootan yang kami dapat.

Begitu juga ketika kami merayakan Lebaran. Kami yang ganti mengirim jootan itu ke semua tetangga kami di gang.

Perayaan hari raya, agama apa pun itu, selalu jadi momen yang mengharukan bagi kami, aku dan Bunda. Entahlah. Mungkin karena kami juga tinggal dalam keanekaragaman itu ketika pada saat yang sama di banyak tempat lain justru muncul hal yang sama sekali berbeda, penyeragaman.

Kami berada di lingkungan kecil yang sangat menghormati perbedaan itu, dan larut dalam tiap momen perayaan atas keragaman itu, ketika secara global juga muncul sikap orang-orang yang makin gemar berkumpul hanya dalam satu identitas yang sama.

Maka, tiap hari raya agama apa pun itu, kami selalu ikut larut di dalamnya. Sebab hari raya bagi kami tak hanya waktu untuk menyama braya –merayakan semangat kekeluargaan- tapi juga merayakan perbedaan..

14 Comments
  • blad
    December 26, 2008

    di gang rumah saya juga gitu mas.. hehe 🙂
    mungkin rata2 yang tinggal di subak dalem n bedahulu xviii emang baik2 yaaaaa… 😛

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    sayangnya kamu belum pernah kirim jootan ke rumahku. haha..

    ReplyReply

    [Reply]

  • pande baik dan putri kecilnya
    December 28, 2008

    Sebetulnya didaerah Canggu – Babakan – Padangtawang Kecamatan Kuta Utara (sekitar rumah Istri), ada satu tradisi yang dilakukan saat Natal oleh Umat Nasrani, sama persis dengan yang dilakukan oleh Umat Hindu saat Galungan.
    Yaitu, nampah celeng (babi), kemudian setelah jadi dimasak ya ngejot ke tetangga dekat termasuk diantaranya umat Hindu yang masih ada hubungan saudara.
    Tak lupa memasang Penjor yang berhiaskan lampu kerlap-kerlip bak pohon Natal.
    Gak aneh sih, wong Gereja mereka desainnya sama persis dengan PuRa kok. bahkan ada beberapa yang memiliki Bale Kulkul di pojokan areanya.
    He… Barangkali ini bakalan jadi menarik untuk dipublish keluar oleh Om AnTon atau Mbok LoDe. Seperti Krematorium kemarin.
    Salam Om.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    tengs, bli pande. informasinya panjang sajan. sebenarnya kemarin tuh memang punya niat ke sana.

    tp pas udah hari H tiba2 mikir untuk nulis yg skala rumah tangga saja, bukan kampung kristen gitu. kebetulan ada tetangga yg kirim jootan ke rumah pas natalan. makanya batal.

    kapan2 deh ke sana. tengs..

    ReplyReply

    [Reply]

  • pande baik dan putri kecilnya
    December 28, 2008

    tambahan dikit : barangkali juga latar belakang Umat Nasrani di daerah ini dahulunya adalah Umat Hindu. Jadi masalah kebiasaanpun tak jauh berubah.
    Eh, denger-denger ada loh yang pindah agama dan keyakinan lantaran kasus-kasus adat seperti yang marak terjadi belakangan ini. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    sekali lagi makasih infonya, bli. kapan2 kita bikin agama baru. bloggisme. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • sherly
    December 29, 2008

    asyiknya makan2 bareng2 hehehehe….

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    apalagi gratis. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • iik
    December 29, 2008

    yupz.. kita umat beragama emang harus rukun. Kalo natal gini, sibuk cari temen-temen kristen buat ditodong makan siang, nah pas galungan, gak ada tuh temen-temen yang datang makan siang ke rumah, hehehe… mungkin karena sibuk di kampung sendiri-sendiri 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    makanya kalo pas galungan ngundang aku aja, mbok. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • HeLL-dA
    December 29, 2008

    Di tempat saya dulu juga begitu, Bli..
    Tapi, di tempat yg sekarang, tdk..
    Mungkin krn terlalu sibuk – dan lagian kalau hari raya begitu mereka pada pulang kampung.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    mmm, kita yg harus mulai lg kalo gitu. lewat facebook kan jg bisa. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    December 30, 2008

    Infonya bli Pande betul sekali, bahkan pakaiannya pun persis pakaian adat Bali (Hindu)… sekilas Natal terlihat seperti upacara Piodalan, hehehehe

    Smoga kerukunan antar umat beragama selalu terjaga. I love Bali 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    semoga. i love you too. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *