Menunggu Godot, Menunggu Kesia-siaan

12 , Permalink 0
Putu Satria Kusuma, pemain teater dari Singaraja, memainkan naskah keren hari ini: Waiting for Godot. Selain keren permainannya, Bli Putu dan tiga teman lain (Aji, Eka, dan Wijaya) juga memainkan naskah yang tepat –sangat tepat malah- dengan situasiku saat ini.

Naskah yang disebut The Massachusetts Review (Autumn, 1999) sebagai “The Most Significant English Language Play of the 20th Century” ini dimainkan Bli Putu di sela evaluasi bulanan kantor tempat aku kerja part time. Tiap enam bulan, kami memang membuat evaluasi internal terkait program. Karena ingin sesuatu yang berbeda, maka kami sepakat untuk mengundang pemain teater yang bisa memainkan naskah Waiting for Godot. Sekalian untuk mengkritik kebiasaan kami di kantor, menunggu sesuatu yang tidak jelas.

Waiting for Godot adalah naskah klasik karya Samuel Beckett tentang penantian oleh dua sahabat karib, Vladimir dan Estragon. Dua sahabat ini menunggu Godot, sesuatu yang tidak jelas sampai akhir cerita. Apakah Godot itu manusia, dewa, Tuhan, penyelamat, uang, atau binatang.

Bli Putu, aku mengenalnya sekitar dua tahun lalu ketika menginap di rumahnya di Singaraja sama Toni usai menontong pementasan Creamer Box di IKIP Singaraja, membuka pementasan ini sama Aji. Keduanya hanya duduk di pinggi panggung kecil di ruang pertemuan Rani Padmawati hotel Puri Dalem Sanur, tempat pertemuan kami.

Keduanya sepakat menunggu Godot. Sambil menunggu itu, mereka ngobrol, berdebat, kadang sampai bertengkar meributkan sesuatu yang tidak jelas. Ironisnya, mereka meributkan tentang apa yang sebaiknya dilakukan namun kemudian tidak melakukan apa-apa. Ini mirip kejadian di kantor dan di Bali Blogger Community (BBC) saat ini.

Di dua tempat ini, kami memang lebih sering meributkan apa yang sebaiknya dilakukan. Sementara itu waktu terus berlalu dan masalah pun tetap ada. Dan ketika masalah itu terus terjadi dan makin parah, kami ternyata masih sibuk berdebat tanpa berbuat.

Vladimir dan Estragon pun demikian. Mereka berdebat tentang rencana tidur selama menunggu Godot namun kemudian tidak jadi tidur karena takut Godot akan datang dan mereka tidak tahu kedatangannya. Mereka sepakat akan menggantung diri karena frustasi menunggu Godot yang tak kunjung datang. Namun rencana ini batal karena mereka tidak menemukan kata sepakat tentang siapa yang harus pertama kali bunuh diri. Begitu selalu. Mereka sibuk berdebat tanpa berbuat.

Di antara diskusi, debat, dan pertengkaran itu, muncul tokoh Pozzo dan Lucky. Pozzo, yang mereka pikir adalah Godot, ternyata penguasa lalim yang menguasai si budak Lucky.

Sadar bahwa Pozzo orang lalim, Vladimir dan Estragon sepakat untuk menolong Lucky. Tapi ya begitu, keduanya sibuk bertengkar dengan suara menggelegar memecahkan ruangan tentang bagaimana caranya menolong Lucky. Namun ketika Pozzo berlalu dengan Lucky masih terikat oleh tali, dua sahabat itu masih sibuk berdebat.

Bli Putu, yang pernah pentas keliling Jawa dan memenangkan beberapa lomba penulisan naskah teater di Dewan Kesenian Jakarta serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata itu, memainkan naskah ini dengan keren. Meski naskahnya sangat serius, mereka juga bisa mengisinya dengan hal-hal lucu, dan berani.

Misalnya saja kencing dengan cueknya di bawah foto Presiden dan Wakil Presiden, entah mereka sadar atau tidak. Juga menggantungkan diri pada Garuda di antara dua foto itu. Lalu mereka juga dengan cueknya, di depan banyak orang, menyentil-nyentil penis dari kayu usai mereka kencing. Semua orang tergelak. Ada juga yang malu-malu.

Pementasan berakhir dengan tragedi. Ketika waktu terurs berlalu, wajah dua sahabat itu makin keriput dan rambutnya memutih, Godot yang ditunggu tak kunjung tiba. Lalu ketika datang seseorang, yang lagi-lagi mereka pikir adalah Godot, ternyata orang itu adalah malaikat kematian.

Maka, hingga kematian itu menjemput, Godot tidak pernah datang. Menunggu Godot tidak hanya menunggu ketidakpastian, dia juga kesia-siaan..

No related content found.

12 Comments
  • Yanuar
    May 15, 2008

    terus godot itu apa mas.??

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    May 15, 2008

    Godot sahabatan ama Godoh yah?

    *menghilang :mrgreen:

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    May 16, 2008

    Godot = potong

    ReplyReply

    [Reply]

  • made eka
    May 17, 2008

    klo saat ini BBC seperti ini.. memang dulu seperti apa bli?? cuman share aja…

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    May 17, 2008

    iya, jadi godot itu siapa?
    awalnya gimana kok bisa ada godot?
    kenapa mereka menunggu2 si godot?
    jadi pengen tau selengkapnya nih

    ReplyReply

    [Reply]

  • komang
    May 17, 2008

    kalau ga salah ya, bukan godot dan apa yang ditunggu yang penting. godot bolehlah diartikan apa saja, kesuksesan, solusi, apa pun. tapi apa yang dilakukan sebelum godot itu datang, atau apa yang dilakukan agar godot itu datang yang paling utama. he..he sekali-sekali menggurui dikit ah..

    ReplyReply

    [Reply]

  • aprilia gayatri
    May 20, 2008

    Yah bukan berarti member BBC hanya sibuk berdebat tanpa berbuat. Hingga akhirnya keluar suatu pernyataan sikap dari BBC, namun sayangnya pernyataan sikap ini tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada di UU ITE itu.

    Masalahnya mas,
    Penyelesaian sesuatu lewat jalur hukum itu selalu jadi pilihan terakhir. Rata2 semua orang malas kalau harus berhubungan dengan hukum dan lebih memilih jalur penyelesaian alternatif / diluar pengadilan.
    Satu2nya cara menyelesaikan masalah yang membuat mas pusing itu hanya lewat jalur hukum, kalau sudah begini pasti banyak yang akan mundur mas…
    memang akhirnya waktu terus berlalu dan masalah pun tetap ada. 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 22, 2008

    @ yanuar: ya itu tadi, gak jelas.

    @ ick: bukan. godot itu suka makan godoh. 🙂

    @ arie: *garuk2 kepala bingung*

    @ made eka: dl tidak trlalu ribet dg mekanisme. siapa punya ide, dia jalan. anggota lain sama2 tau saja. tp kondisi yg aku maksud sebenarnya lbh pada prdebatan soal mekanisme pernyataan sikap kemarin. kita malah lupa dg esensinya jg apa upaya kita selanjutnya trhadap pernyataan sikap tsb. jadinya, malah kemudian megaburan. tidak jelas mau diapain setelah ada pernyataan sikap. ini mirip perdebatan dua tokoh utama dlm naskah ini.

    @ viar: itu ga jelas. tau2 saja godot adalah sesuatu, atau seseorang, yg ditunggu. entah utk apa.

    @ komang: sepakat, mang. dan itulah masalahnya. banyak orang, termasuk kita, lebih suka pd hasil daripada proses. jdnya nafsu semua. 🙂

    @ april: setidaknya bersikap dl. tidak hanya diam. kalo udh pd setuju, atau setidaknya tdk protes lg, br kita jalan ke cara yg lain. uji materilah atau apalah. mmg tidak mudah, tp bukan brarti tidak bs dilakukan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Wira Santosa
    January 25, 2009

    Haa, Putu Satria Kusuma. Beliau pernah melatih anak angin di tahun 90-an.

    Dan kebetulan, tanggal 30 Januari 2009 jam 7 malam, anak angin akan memainkan Menunggu Godot di Aula Smansa Denpasar. Mungkin Mas Anton tertarik untuk meliput? Siapa tahu Jakarta Post ingin memuat berita tentang pertunjukan teater? He….

    Preview sebelum menonton klik di sini.

    Salam.

    ReplyReply

    [Reply]

  • dedek " MEGAT " hendratno
    June 17, 2009

    bang, boleh kirim naskahnya gak???please…kalau mau ngirim, kirim ke dedent011@rocketmail.com ya bang….
    saya berterima kasih sekali kalau abang, bapak, saudara mau mengirimkan naskah tersebut…makasih….

    ReplyReply

    [Reply]

  • hendriawanz
    February 21, 2010

    jika memang Godot tidak diperjelas, maka lebih baik aku memperjelas Godot untukku sehingga jelaslah yang kutunggu..

    ReplyReply

    [Reply]

  • a-chen
    February 22, 2010

    thanks godotnya… 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *