Menulis Perjalanan, Belajar tentang Keragaman

2 , , Permalink 0

Jalan-jalan bersama membuat kelas jurnalisme warga kali ini berbeda.

Kelas Menulis Jurnalisme Warga, biasa kami singkat Kamis, Desember ini adalah angkatan ke-11. Tak terasa. Sudah dua tahun kami melaksanakan pelatihan menulis jurnalisme warga ini sejak awal 2010 lalu. Kelas pada Sabtu-Minggu, 10-11 Desember lalu itu pun jadi penutup kelas selama tahun 2011 ini.

Sebagian besar tema kelas menulis ini sama. Materinya tentang dasar-dasar jurnalistik, blog, dan reportase.

Pada Kamis kali ini, kami membuat tema khusus, menulis perjalanan. Pematerinya Nenden Novianti, jurnalis lepas yang lagi mengambil master di Universitas Ohio, Amerika sana. Dia sedang membuat riset tentang pengembangan jurnalisme warga di Indonesia. Bale Bengong salah satu bahan kajiannya. Jadi ya, sekalian saja kami todong dia sebagai pembicara.

Karena materinya ini termasuk intermediate alias lanjutan, maka sebagian besar pesertanya adalah mereka yang pernah ikut Kamis, kontributor Bale Bengong, atau setidaknya blogger.

Materi pelatihan jurnalisme warga kali ini pun mengalami modifikasi. Tak ada lagi tentang dasar-dasar jurnalistik, menulis berita langsung dan berita kisah, serta pelatihan membuat dan mengelola blog.

Pada hari pertama, kami berdiskusi tentang perkembangan dan tantangan jurnalisme warga di Indonesia maupun di negara-negara lain. Usai makan siang, Nenden berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang menulis perjalanan.

Salah satu topik menarik adalah perlu tidaknya pewarta warga mendapatkan pengakuan dari  media jurnalisme warga, misalnya Bale Bengong, antara lain dengan tanda pengenal. Bagiku sih pewarta warga tak perlu mendapatkan tanda pengenal ini. Biarkan saja dia seperti warga biasa. Ketika dia mendapatkan tanda pengenal, maka dia sudah layaknya jurnalis media arus utama. Padahal mereka berbeda.

Oke. Balik ke Kamis angkatan XI ini.

Pada hari kedua, seperti biasa, peserta kelas menulis akan reportase. Kali ini kami melakukan bersama-sama ke satu tempat, Pulau Serangan. Pulau yang semula terpisah dari Bali daratan ini berada di sisi selatan Denpasar.

Harmonis
Sekitar sepuluh peserta, pemateri, dan panitia Kamis pun jalan-jalan sesuai dengan minatnya. Ada yang liputan tentang naik perahu menyusuri selat Serangan, snorkling melihat terumbu karang, dan ada pula yang mengenal sisi sosial pulau ini termasuk di Kampung Bugis.

Sebenarnya, aku tertarik ikut snorkling sekalian bertemu teman lama yang juga “provokator” setempat, I Wayan Patut. Tapi, karena tak ada yang mendampingi peserta ke Kampung Bugis maka aku ikut mendampingi Agus, Edo, dan Eka liputan ke sana. Dan, ternyata asyik juga.

Salah satu yang menarik dari liputan tentang Kampung Bugis di Serangan adalah karena tiga pewarta warga ini berbeda latar belakang. Dari latar belakang beragam ini, mereka kemudian juga belajar tentang warga Kampung Bugis yang semuanya muslim dan hidup harmonis dengan warga Serangan lain yang hampir seluruhnya Hindu.

Sebagai orang yang gandrung akan keberagaman, liputan oleh tiga peserta ini amat menarik bagiku. Sebab, bagiku, mereka jadi belajar sekaligus berbagi pengalaman mengenal harmoni antar-warga berbeda suku dan agama di Pulau Serangan ini.

Maka, seperti disampaikan Nenden pada hari pertama pelatihan, setiap perjalanan adalah waktu untuk belajar tentang kehidupan. Yap, termasuk di dalamnya tentang keberagaman.

Lebih menyenangkan lagi karena keberpihakan para peserta pada keberagaman itu tercermin pula dalam tulisan-tulisan mereka. Para pewarta warga ini menceritakan indahnya berbeda di pulau ini.

2 Comments
  • honeylizious
    December 16, 2011

    coba ada di Pontianak 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    bikin aja, mbak. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *