Menjura untuk Komunitas Blogger Flobamora

2 , Permalink 0

Flores itu salah satu medan paling berat.

Dari ujung ke ujung, jalanan sepanjang pulau ini naik turun berliku-liku dengan kondisi jalan banyak rusak. Tiap kali ke sini, aku merasa harus bersiap menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Naik turun. Berliku-liku. Kadang-kadang harus turun dulu karena jalanan rusak.

Perjalanan di Flores selalu bercampur antara menyenangkan dan melelahkan.

Toh, bagi teman-teman komunitas blogger Flobamora, jalanan seperti itu sudah biasa. Sejak awal tahun lalu, nyaris tiap minggu mereka harus menempuh perjalanan 2-3 jam atau bahkan lebih dari Ende ke lokasi pengungsi korban letusan gunung berapi di Pulau Palu’e, Kabupaten Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Gunung berapi ini meletus pada Oktober tahun lalu. Ribuan penduduk pulau di utara Flores ini pun harus mengungsi ke pulau seberang. Mereka kini tinggal tak pasti di Flores. Sebagian di Sikka, sebagian lagi di Ende.

Meski ribuan orang mengungsi dan beberapa di antaranya mati, tak terlalu banyak yang peduli pada para korban tragedi ini. Berita tentang mereka tenggelam di antara ingar bingar berita tentang perseteruan politisi, penyerbuan penjara, dan semacamnya.

Di antara sepi perhatian itulah teman-teman komunitas blogger Flobamora bekerja. Tuteh Pharmantara, teman blogger di Ende, mengkoordinir bantuan melalui media sosial. Bersama para blogger NTT, mereka mengajak lewat blog, Facebook, dan Twitter agar tetap peduli pada para pengungsi.

Mereka mengumpulkan bantuan tersebut dan menyerahkannya kepada pengungsi. Bantuan itu datang dari berbagai komunitas, Ambon, Kupang, dan kota-kota lain.

Dan, ini bukan pekerjaan mudah. Nyaris tiap minggu mereka berangkat dengan membawa bantuan tersebut, terutama kebutuhan pangan untuk pengungsi. Medannya, seperti kata Tuteh, naik turun berliku-liku plus hancur di sana-sini.

Mereka yang pernah ke Flores tahu bagaimana menantangnya jalanan ini.

Kemarin, ketika kami bertemu di Maumere sambil memberikan pelatihan internet untuk petani, Tuteh bercerita. “Kami ketemu juga ular besar di jalan. Ngeri,” katanya.

Setelah dua sampai tiga menempuh perjalanan ini, mereka pun harus menghadapi kenyataan pahit, tak banyak yang peduli pada nasib para pengungsi. Bahkan pemerintah sendiri sekalipun.

Toh, di antara sepinya perhatian pemerintah sendiri, di antara ketidakpedulian banyak orang pada ribuan pengungsi Rokatenda, di antara minimnya berita media, teman-teman Komunitas Flobamora ini terus bekerja. Mengajak peduli, mengumpulkan bantuan, dan menyalurkannya kepada pengungsi.

Menjura untuk mereka.

Btw, kemarin pas di Maumere juga aku sekalian menyerahkan sumbangan ala kadarnya dari teman-teman-teman Bali Blogger Community (BBC). Meskipun cuma Rp 1,3 juta, semoga bisa membantu sebagian pengungsi.

Kwitansi sudah ada di bagian awal tulisan ini. Dan, ini fotonya sebagai bukti.

2 Comments
  • fauwzya
    April 29, 2013

    Hiks..
    *terharu*
    makasih untuk donasinya ya teman2 BBC.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Anggara
    May 3, 2013

    iseng ah, validasi buktinya gimana ya mas? :mrgreen:

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *