Menjadi Tikus Keliling Paris

3 , , , , Permalink 0

Bergaya di Menara Eifel

Bermodal 4,5 euro, kami keliling Paris dari bawah tanah. Sayang, karcis dan bukuku hilang.

Begitu keluar dari stasiun metro di kawasan Museum Leuvre Sabtu pekan lalu, kami semua langsung girang bukan kepalang. Persis di depan kami berdiri museum tempat menyimpan lukisan Monalisa karya Leonardo di Vinci itu. Kami semua berseru kompak, “Waaaoow..”

Bagian museum yang kami lihat pagi itu tingginya sekitar 10 meter. Bangunan ini awalnya adalah benteng. Karena itu bentuknya seperti kotak raksasa dengan ukiran-ukiran di bagian depan yang sangat detail. Warnanya dominan putih susu.

Pagi baru mulai ketika kami tiba di sini, sekitar pukul 6.30 waktu Paris. Suasana masih agak sepi. Hanya satu dua kendaraan lewat di jalan. Dengan total area seluas lebih dari 6 hektar dan bangunan-bangunan megah di dalamnya, suasana jadi terlihat lengang. Aku dan tujuh teman lain yang datang pagi itu bisa menikmati sepinya.

Setelah melewati lorong pintu dengan pilar-pilar raksasa, kami tiba di bagian tengah kawasan museum ini. Di dalamnya ada piramida kaca. Terlihat futuristik dengan tampilan potongan-potongan kacanya. Berada di dalam museum yang sudah berumur lebih dari 300 tahun, piramida ini jadi terlihat aneh.

Tapi piramida inilah pintu utama, atau malah satu-satunya, masuk ke dalam museum dan melihat lebih dari 35 ribu koleksi di dalamnya, termasuk lukisan Monalisa dengan senyum misteriusnya itu.

Murah Meriah
Dari delapan orang yang melakukan perjalanan bersama hari itu, hanya dua yang masuk museum. Aku sendiri tak berminat meski harga tiket masuk Museum Luevre relatif murah, hanya 9,5 euro. Bandingkan dengan tiket masuk di Belanda yang rata-rata di atas 10 euro.

Aku dan lima teman lain memilih hanya jalan-jalan melihat suasana museum. Itu pun sudah menakjubkan bagi kami.

Museum Leuvre adalah tujuan pertama kami hari itu. Kami juga mengunjungi tempat-tempat terkenal lain di Paris: Katedral Notre Dame, Arc de Triomphe, Grand Palaise, Concorde, dan tentu saja Menara Eifel yang tersohor itu.

Arc de Triomphe

Kami berdelapan menyempatkan untuk jalan-jalan ke Paris saat akhir pekan di sela kursus media online di Hilversum, Belanda. Dari Belanda kami naik bis Eurolines. Tiket bis 83 euro bolak-balik. Waktu tempuh dari Amsterdam ke Paris sekitar delapan jam. Karena perjalanan saat malam, jadi tidak terlalu terasa meski lama dan bisnya kalah jauh dibanding bis malam Denpasar – Surabaya.

Untuk keliling ke tempat-tempat itu, kami cuma bermodal tiket kereta bawah tanah seharga 4,5 euro. Murah meriah.

Kereta bawah tanah yang biasa disebut metro inilah yang mengundang decak kagum kami selain artistiknya bangunan-bangunan tua di Paris. Metro di Paris terhubung dari satu stasiun ke stasiun lain. Ada 13 rute utama yang ditempuh metro. Tiap rute dibedakan oleh warna. Rute 3 yang membawa kami pertama kali dari Stasiun Gallieni, misalnya, berwarna hijau agak tua. Warna rute ini mirip dengan warna rute 6 yang membawa kami mendekati kawasan Menara Pisa. Tapi antara satu rute dengan rute lain pasti terhubung dan bertemu di satu titik tertentu.

Jalur yang sangat kompleks itu semuanya berada di bawah tanah. Di tiap stasiun metro ada lorong-lorong yang membawa penumpang ke tiap tujuan yang diinginkan. Jika tak cermat melihat tanda, kita bisa tersesat. Apalagi sepanjang lorong bawah tanah itu juga berisi poster-poster iklan dengan tampilan perempuan minim pakaian. Lorong-lorong itu mirip labirin atau lubang tikus.

Karena itu, aku serasa menjadi tikus ketika jalan-jalan keliling Paris. Kami bergerak dari satu tempat ke tempat lain di bawah tanah. Lalu ketika muncul ke permukaan, walla, kami disuguhi pemandangan yang selalu mengesankan.

Buang sial
Inilah hebatnya Paris bagiku. Tiap kali kita selamat dari rumitnya labirin metro itu kita akan tiba-tiba dihadapkan dengan pemandangan mengesankan. Hampir semuanya begitu. Di stasiun Bir Hakeim, misalnya, hanya berjalan sekitar 20 meter setelah keluar dari stasiun, kita akan langsung melihat Menara Eifel setinggi 324 meter.

Begitu juga ketika keluar dari stasiun metro Kleber. Persis setelah keluar dari bawah tanah, kami langsung melihat Arc de Triomphe, tugu peringatan tentara Perancis yang meninggal pada masa Napoleon Bonaparte ini tingginya sekitar 29 meter. Bentuknya mirip huruf “n” raksasa. Ada bendera Prancis yang ukurannya sekitar 10×15 meter persegi di dalamnya.

Hal serupa kami alami ketika kami melewati stasiun terakhir, Opera, sebelum kami menuju stasiun bis Eurolines yang membawa kami balik ke Amsterdam. Ketika keluar dari bawah tanah stasiun, di depan mata kami berdiri Akademi Musik Nasional dengan bentuk bangunan yang juga mempesona: pilar-pilar raksasa, ukiran-ukiran detail, dan arsitektur klasiknya.

Untuk bisa keliling seluruh kota dengan metro itu, kami hanya membayar tiket terusan 4,5 euro. Harga aslinya 9 euro. Tapi karena ketika beli kami dihitung sebagai anak-anak, entah kenapa begitu, kami hanya membayar separuhnya.

Sialnya, karcisku ini hilang. Padahal selain sebagai bukti pembelian, karcis ini juga jadi kunci pembuka pintu ketika masuk stasiun. Tanpa karcis ini, kita tak bisa masuk. Jadi, aku pun terpaksa beli karcis lagi.

Sialku bertambah karena buku Dealing with Dutch, yang aku baca sebagai referensi selama di Belanda ternyata juga hilang dalam perjalanan balik dari Paris ke Amsterdam.

“Anggap saja buang sial di Paris,” kata Dian, temanku. Yowis..

3 Comments
  • Putri
    May 15, 2010

    aku iriiiii mas anton…….!!! 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    May 16, 2010

    “Tapi karena ketika beli kami dihitung sebagai anak-anak…” mungkin lantaran ukuran tubuh Ton. Hihihi…

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    May 16, 2010

    Ngemeng”Themanya balik lagi ya Ton ? pantesan sepertinya familiar. :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *