Menimbang antara Kebebasan dan Kepastian

1 No tags Permalink 0

“Aku ga butuh siapa-siapa. Aku cuma butuh kamu,” kata istriku di tengah isaknya.

Aduh, sedemikiankah? Aku diem. Ga bisa jawab.

Kemarin malam pukul 7.30an aku baru sampai rumah. Seharian ada exercise interview untuk lamaran pekerjaan baru.

Ceritanya aku mulai bosen jadi wartawan koresponden -kadang2 freelance- di Bali. Lahirnya Bani membuat aku berpikir ulang tentang perlunya kepastian masa depan. Bahwa ada sesuatu yg lebih pasti dibanding kebebasan. Lalu aku nglamar jadi pemimpin redaksi majalah komunitas NGO internasional di bidang pertanian berkelanjutan. Ya sekaligus melompat ke tempat yg lebih baik. Apa salahnya?

Kemarin pada tahap terakhir untuk penentuan diterima apa tidak. Katanya sih aku satu dari dua kandidat terpilih dari 36 pelamar. Artinya kans-ku separuh2 untuk diterima di sana.

Karena seharian wawacara itu, aku pulang agak telat. Padahal setelah Bani lahir dan kebetualn banget pas puasa, aku jarang ke luar rumah. Lebih sering momong anak atau hanya main game di rumah. Lahirnya Bani, bagiku, seperti keajaiban. Ada sesuatu yg luar biasa dan jadi motivasi.

Tapi istriku agak berbeda. Dua malam pertama di rumah setelah melahirkan, dia tiba2 menangis. Air matanya mengalir. Dia terisak-isak. Dia mengaku kena sindrom ketakutan tidak bisa ngasuh anak. Atau setidaknya takut anak kami kenapa2 dan kami tidak bisa mengurusnya. Sejak awal, kami memang memutuskan akan mengasuh anak kami berdua saja. Tidak usah ada orang lain, orang tua kami sekali pun. Karena itu kalau salah satu di antara kami keluar, maka salah satunya mengurus Bani. Sendiri.

Dan, aku yang lebih sering keluar..

Biasanya sih cuma sampai sore. Tapi kemarin sampai lewat setelah Maghrib. Dan itu jadi masalah. Ketakutan istriku muncul lagi. Dia nangis terisak. Bahkan ketika aku sudah sampai rumah. Aku antara ngrasa berdosa dan bingung.

Bingung karena aku jadi menimbang kembali: Apakah aku akan memilih kerja di tempat lebih bagus dan pasti namun waktu utk keluarga berkurang? Atau aku tetap seperti ini: Pekerjaan dan pendapatan tak pasti, tapi lebih punya kebebasan bersama istri, dan BANI?

Aku masih di persimpangan. Bimbang..

No related content found.

1 Comment
  • yoyok
    October 12, 2006

    baby blue syndrom…hmmm

    saya pikir akang harus menyediakan waktu lebih buat istri akang…
    rejeki gak kemana kang…

    ha ! ngomong apa saya ? nikah aja belon :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *