Mengupas Jurnalisme Warga Meski Tak Tuntas

1 , , Permalink 0

Referensi tentang jurnalisme warga di Indonesia masih langka.

Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman adalah buku kedua tentang tema jurnalisme warga di Indonesia yang aku baca. Penulis buku ini Pepih Nugraha, wartawan Kompas yang juga pendiri dan pengelola website jurnalisme warga Kompasiana.

Sebelumnya, aku sudah pernah baca Panduan Pewarta Warga yang diterbitkan Combine Resource Institution, Yogyakarta tahun 2011 lalu. Lembaga ini memang mengelola media jurnalisme warga Suara Komunitas selain program pengelolaan informasi lainnya.

Karena buku karya Pepih ini terbit belakangan, cetakan pertama pada Oktober 2012 lalu, maka bisalah dia disebut sebagai pelengkap buku pertama. Jika buku pertama memberikan panduan amat teknis terkait penulisan jurnalisme warga, maka buku kedua lebih banyak bercerita tentang pengalaman dan pandangan tentang jurnalisme warga.

Dalam buku setebal 194 halaman ini, Pepih membahas seluk beluk jurnalisme warga dengan lebih naratif. Tidak terlalu teknis gaya penulisannya.

Struktur buku ini antara lain tentang pengertian jurnalisme warga, bagaimana memulai jurnalisme, hingga rambu-rambu jurnalisme warga. Pepih menulisnya berdasarkan pengalamannya mendirikan dan mengelola Kompasiana selama ini.

Konsekuensi
Salah satu diskusi menarik di buku ini adalah soal pembedaan yang jelas antara jurnalis warga dengan pewarta warga. Ini tak hanya melulu tentang pemilihan diksi tapi juga konsekuensi dan tanggung jawab di baliknya.

Menurut Pepih, para pelapor (bisa penulis, fotografer, ataupun videografer) di media jurnalisme warga tetap tak bisa disebut sebagai jurnalis warga. Mereka pewarta warga. Alasannya, jurnalis itu profesi yang tak bisa dengan serta merta disematkan pada sembarang orang. Untuk bisa menjadi jurnalis, ada pendidikan, kode etik, dan hierarki.

Bagian lain buku Citizen Journalism adalah tentang unsur-unsur jurnalisme warga, bagamana memulai jurnalisme warga, bekal pewarta warga, hingga dosa-dosa besar dalam jurnalisme warga.

Pada dasarnya, menurut Pepih, bekal seseorang menjadi pewarta warga ini tak jauh beda dengan jurnalis profesional. Misalnya harus memiliki kepekaan, bisa menulis, dan seterusnya. Satu hal yang membedakan adalah, pewarta warga ini tak membuat berita karena pamrih imbalan.

Pewarta warga itu bekerja secara sukarela.

Untuk memulai jurnalisme warga, Pepih mengutip Steve Outing, editor Poynter Institute for Media Studies. Ada sebelas lapisan jurnalisme warga. Mulainya bisa dari memberikan komentar, mengajak warga, membuat blog jurnalis, campuran antara blog warga dengan jurnalis, ataupun wiki journalism di mana tiap orang sekaligus bisa jadi editor.

Dosa Besar
Agar bisa menyumbang informasi untuk jurnalisme warga, Pepih memberikan 17 bekal kerja wartawan. Di antaranya adalah adanya naluri, melakukan observasi, memiliki keingintahuan, mengenal berita, menangani berita, bisa mengungkap sesuatu agar jelas, memiliki kepribadian luwes, dan seterusnya.

Pewarta warga juga perlu mengerti dasar-dasar berita, termasuk nilai berita dan unsur-unsur berita.

Di luar urusan dasar tentang bagaimana menjadi pewarta warga itu, Pepih juga memberikan rambu-rambu agar pewarta warga tak melakukan tujuh dosa besar dalam jurnalisme. Di antara tujuh dosa besar dalam jurnalisme tersebut adalah penyimpangan informasi, dramatisasi fakta, serangan privasi, dan eksploitasi seks.

Selain tujuh dosa besar tersebut, ada pula beberapa aksi yang harus dihindari dalam jurnalisme warga. Misalnya trolling (menghasut) dan flaming atau bashing (bermusuhan atau saling menghina). Jika ada orang melakukan trolling ini, abaikan saja mereka. Abaikan. Jangan hiraukan. Jangan terpancing. Mereka akan senewen sendiri.

Dalam buku ini, Pepih juga menjelaskan tentang netiket, kode etik di Internet. Pada dasarnya, dia tak jauh beda dengan etika umumnya. Ingatlah bahwa dunia online itu sama dengan dunia nyata, bagilah ilmu dan keahlian, hormati privasi, dan maafkan jika orang lain berbuat kesalahan.

Narsis
Dengan seluruh topik tersebut, menurutku, buku ini termasuk lengkap sebagai referensi tentang jurnalisme warga. Dia tak hanya sebagai panduan bagi warga yang ingin memulai dan mengelola media jurnalisme warga tapi juga bagi warga yang ingin jadi kontributor di media jurnalisme warga.

Meskipun demikian, masih ada beberapa catatan terhadap buku ini sehingga dia menjadi buku yang tak tuntas membahas jurnalisme warga.

Pertama buku ini terlalu fokus pada Kompasiana, media jurnalisme warga milik Kompas Group. Menurutku, Pepih seharusnya bisa memperluas contoh dengan menyebut beberapa media jurnalisme warga di Indonesia. Tak cuma Kompasiana tapi juga Panyingkul (meskipun kini sudah mati suri), Suara Komunitas, atau, ehm!, BaleBengong.

Kedua, Pepih ini juga narsisnya kebangetan. Contoh-contoh karya yang dimuat di buku ini semuanya tulisan dia sendiri. Padahal pasti bejibun banyaknya artikel di Kompasiana yang bisa jadi contoh karya-karya jurnalisme warga. Cuma ya dia tak melakukan itu.

Catatan ketiga soal masih banyaknya salah ketik dalam buku ini. Kesalah-ketikan ini lumayan mengganggu. Padahal, buku terbitan Kompas gitu lho.

Demikianlah. Semoga selanjutnya akan ada buku tentang jurnalisme warga lain. Tak hanya tentang Suara Komunitas, Kompasiana, tapi lebih menyeluruh tentang perkembangan jurnalisme warga di Indonesia. Yuks kita bikin bersama..

Judul: Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman
Penulis: Pepih Nugraha
Penerbit Buku Kompas, Oktober 2012
ISBN: 978-979-709-669-4
Tebal: xvi + 192 halaman, 14 cm x 21 cm
Harga: Rp 38.000

1 Comment
  • Nike
    May 17, 2013

    Ada buku berjudul ‘Pewarta Warga’ dari Combine RI. Kalo dibandingkan yang itu, gimana?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *