Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani

4 , , , Permalink 0
Dari tiga tempat lain yang dikunjungi peserta partner meeting VECO Indonesia Selasa ini, aku pilih ke petani kopi di Kintamani. Sebab dua tempat lain, pengolahan kakao di Selemadeg Tabanan dan petani sayur di Pancasari Bedugul, aku sudah pernah kunjungi. Dan, menurutku, perjalanan ini memang sangat menarik.

Kunjungan lapangan ke tiga tempat ini merupakan bagian dari agenda partner meeting VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja paruh waktu. Pertemuan mitra tahunan ini diadakan di Lovina antara 24-28 Agustus ini. Pada hari ketiga pertemuan, sekitar 90 peserta itu dibagi jadi tiga kelompok untuk berkunjung ke tiga lokasi. Aku pilih yang ke Kintamani karena aku belum pernah ke sini.

Dari Lovina, perlu waktu sekitar 2,5 jam perjalanan lewat Kubutambahan – Kintamani. Ini jalur tengah dari Singaraja ke Kintamani atau sebaliknya. Kami lewat daerah kering dengan rumah penduduk hampir semuanya beratap seng dan tidak terlalu terawat. Agak berbeda dengan daerah Bali pada umumnya yang rapi dan bersih. Peserta yang satu bis sama aku pun sampai pada heran. “Kok Bali ada daerah begini juga ya?” katanya. Walah, Bali memang tidak hanya indah. Ada juga desa-desa miskin dan kering di dalamnya. Tapi itu tidak diketahui banyak orang.

Yowis. Balik lagi ke perjalanan ke Kintamani. Jalan raya antara Singaraja – Kintamani ini cukup berliku dan naik turun, meski tak separah Bedugul – Singaraja. Tapi waktunya lebih lama. Selesai hutan jati kering kerontang berganti hutan cemara dengan jurang di kanan kiri jalan. Cuacanya juga jauh lebih adem..

Ketika sudah masuk daerah Kintamani, pemandangan makin asik. Di kiri kami bisa melihat Gunung Batur dengan sisa lava dan lahar yang menghitam di lereng-lerengnya. Ada pula Danau Batur dengan Desa Trunyan di seberangnya.

Kalau tidak salah aku sudah pernah lewat jalan ini sekitar tahun 2000. Tapi tidak banyak yang bisa kuingat dari perjalanan waktu itu. Maka, ini seperti jadi perjalanan pertama kali.

Semula aku pikir desa lokasi kunjungan berada sebelum Penelokan, titik di mana turis biasa melihat danau dan gunung Batur dengan leluasa. Ternyata tidak. Kami melewati titik itu lalu belok kiri di depan Museum Gunung Berapi (?). Dari situ kami masih masuk sekitar 10 km dengan jalanan berkelok dan naik turun pula.

Kami sampai di Desa Landih, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Karena dekat Kintamani, maka kopi di sini lebih sering disebut kopi kintamani. Namun selain kedekatan geografis itu, kopi arabika di desa ini memang masuk kopi jenis kintamani. Kopi kintamani adalah salah satu specialty coffeee, alias kopi yang sudah punya nilai khusus selain kopi toraja, kopi flores, kopi jawa, kopi gayo, dan kopi lintong (Sumatera).

Specialty coffee ini jadi buruan konsumen kopi di belahan dunia. Wajarlah, dari aroma saja kamu sudah terbuai (hehehe) ketika menciumnya. Aroma biji kopi yang disangrai ini menyambut kami ketika kami baru sampai di tempat pengolahan. Aromanya benar-benar, hmm, melenakan. Uenak tenan..

Bau kopi disangrai itu berasal dari mesin penggoreng milik Subak Abian Suka Maju di desa ini. Inilah tempat kami belajar hari ini. Subak ini punya anggota sekitar 200 petani kopi dengan luas lahan sekitar 200 hektar. Panen kopinya sekitar 2,5 ton gelondong merah per hektar. Kalau lagi musim panen raya sampai sekitar 10 ton gelondong merah per hari.

Sejak lima tahun lalu, petani kopi di desa berhawa sejuk ini dibina oleh PT Indokom Citra Persada, perusahaan pengolahan kopi di Surabaya dan Lampung.

Sebelumnya, petani di sini bisa memetik kopi tiap saat mereka mau. Mereka menjual ke tengkulak dengan harga yang sepihak. Kalau tidak ke tengkulak ya dijual ke mana saja selama ada yang mau beli. Biasanya sih petani yang rugi.

Sejak dibina PT Indokom petani lebih disiplin memanen kopi. Misalnya hanya kalau kopi sudah berwarna merah, tanda kopi sudah ranum. Kopi yang memenuhi standar itu dikirim ke PT Indokom melalui UD Merta Buana di Singaraja. Selain itu, kopi itu juga diproses sendiri di mesin yang kapasitasnya 10 ton per hari.

“Kalau lebih, kami kirim ke Singaraja,” kata Wayan Jamin, kelian subak sekaligus kepala desa Landih.

Hal menarik bagiku di sini adalah bagaimana hukum adat bisa berpengaruh terhadap soal panen kopi ini, meski memang sih ini salah satu hasil “tekanan” dari perusahaan pembeli. Tapi asik juga karena hukum adat juga bisa berlaku dalam persoalan ini. Misalnya ada petani yang memetik saat masih hijau atau menjualnya ke tempat lain selain PT Indokom, maka warga adat akan memberikan sanksi.

“Sebagai warga adat, petani itu tidak boleh ikut sembahyang. Atau paling parah, dia tidak boleh dikubur di desa kami,” kata Jamin.

4 Comments
  • Arie
    August 28, 2008

    whoaaaaaaa sanksinya serem euy …..

    nice trip Pak De …

    ReplyReply

    [Reply]

  • Deddy
    September 1, 2008

    Produksi kopi tahun ini menurun cukup drastis ya…

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    September 7, 2008

    sanksinya kejem amat…cm biji kopi doang urusannya kok dikaitkan ama yg di atas. hehe, aya-aya wae… manusia ga punya hak buat nentuin seseorang boleh sembahyang ato nggak, pun aturan seseorang mesti dikubur dimana. aya2 wae (again)

    ReplyReply

    [Reply]

  • almek
    January 25, 2010

    Kopi Indonesia sangatlah bagus kwalitasnya, apabila dikelola dengan benar. Dan masih terbuka luas untuk mengembangkan kopi organik. Dan kopi2 rakyat, yang ditanam secara acak oleh masyarakat, sebagai tanaman tumpangsari perlu diberdayakan, sehingga bisa menghasilkan added Value, tidak saja untuk menambah pendapatan (survival, bertahan hidup), akan tetapi betul2 bisa menjadi pencaharian yang bisa menaikkan taraf hidup. Untuk itu sangat diperlukan sentuhan dari pemerintah langsung dan diambil dari dana APBN dan APBD serta sumber2 lain. Sistem anak/bapak angkat atau pembinaan oleh BUMN dan Perusahaan2 besar sebagai komitmen dari CSR saya rasa tidak menyentuh problem dasar, hanya sebagai rasa kepedulian saja, tapi bukan menjadi suatu kewajiban negara untuk menaikkan dan memberi penghasilan/lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Sedanglkan pemerintah kan cuma pelaksana saja. Bukankah begitu?
    almek4711@gmail.com

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *