Mengumpulkan Catatan Berserak Musik Bali

6 , , Permalink 0

“Saya tak akan merunduk-runduk sejak awal minta maaf bahwa kumpulan tulisan ini masih jauh dari sempurna,” tulis Rudolf Dethu.

Dethu menulis kalimat tersebut pada paragraf terakhir buku Blantika Linimasa, Kaleidoskop Musik non-Tradisi Bali. Seperti biasa, teman di Bali Creative Community (BCC) ini memang suka njeplak dan sarkas.

Tapi, diam-diam aku mengamininya juga. Tak perlu meminta maaf untuk kekurangan dalam buku ini. Toh, kami sudah berusaha keras menyelesaikan buku ini. Dalam waktu amat mepet, kami berusaha menyelesaikan buku yang merekam jejak perjalanan musik Bali non-tradisi ini.

Dethu, mantan manajer Superman is Dead (SID) ini yang punya gagasan menyusun buku ini. Dia yang mengajakku turut serta sejak sekitar dua bulan lalu. Selain aku, dua teman lain juga ikut dalam penyusunan buku ini, Alfred Pasifico Ginting dan Gede Roby Supriyanto.

Alfred teman lama di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan mantan editor majalah Playboy Indonesia. Roby sekarang vokalis band grunge di Bali, Navicula. Dia sekaligus pelaku sejarah musik indie Bali.

Dengan tempo singkat dan tenggat jelas, akan diluncurkan pada Bali Creative Festival (BCF) 2011!, kami harus bekerja keras. Aku fokus pada lagu-lagu berbahasa Bali. Alfred fokus pada lagu-lagu berbahasa Indonesia. Roby menggali informasi dari para pelaku sejarah musik Bali ini sekaligus menulis pengalamannya sendiri. Dethu mengoordinir kami dan sesekali traktir bir plus makan-makan di rumahnya.

Enam Setengah
Musik, sebenarnya, bukan wilayah liputanku dibanding isu lain semacam pertanian, sosial, atau isu lingkungan. Aku hanya pernah dua kali menulis tentang musik untuk Rolling Stone Indonesia. Tapi, tak apalah. Sikat saja. Toh, tema ini asyik juga.

Prosesnya tak jauh beda dengan reportase biasa. Riset. Reportase. Wawancara. Verifikasi. Menulis. Cek dan ricek. Lalu, jadilah sembilan tulisanku tentang perjalanan musik Bali dari tahun 1960-an hingga saat ini. Pada tema khusus ada yang digarisbawahi, semisal maraknya pembajakan saat ini.

Kalau dari sisi kualitas karya, terutama kedalaman isi, aku sendiri menilai tulisanku di buku ini tak lebih dari 6,5. Banyak hal lain yang bisa aku gali dan tambahkan kalau punya waktu cukup.

Tapi, tak apa. Santai saja. Toh, ide kami bersama sudah terwujud, buku dokumentasi tentang perjalanan musik non-tradisi Bali. Buku ini pun diluncurkan tepat sesuai jadwal dan tenggat, hari penutup BCF 2011 pada Minggu kemarin.

Masih banyak lubang informasi yang belum kami temukan dan masukkan dalam buku ini. Masih banyak kekurangan.

Kami menyadari itu. Jadi, kalau memang ada tanggapan, koreksi, sanggahan, dan respon lain ya silakan. Seperti ditulis Dethu, “Jika ada yang protes kurang begitu seharusnya begini, mari silang argumentasi. Toh, tujuannya sama, memajukan musik Bali agar terus tegar menjulang dan menolak mati.”

6 Comments
  • Haqqi
    December 1, 2011

    Weh, mas Anton nerbitin buku toh? Kirim ke Malang mas.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya, haq. ini sih buka yg kesekian kali. *pamer dan sombong. 😀

    soal kiriman, kalo memang minat bisa minta ke dethu dg mention dia @rudolfdethu. ntar juga dikirim ke tempatmu dg biayamu sendiri kalo gak salah. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • aRai
    December 2, 2011

    dikirimin bukunya secara gratis gak nolak deh … xixixixi

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    minta saja ke dethu. bayar Rp 10.000 kalo gak salah.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    December 6, 2011

    Dijual dimana nih bukunya om?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    bisa ke dethu atau ke matamera di jl imam bonjol, om.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *